Mengejar Cinta Rhea

Mengejar Cinta Rhea
67. Nasehat Bunda


__ADS_3

Tok...tok..tok...


" Bunda masuk ya Rhee!" Bunda Citra memasuki kamar Rhea yang tidak terkunci dengan perlahan. Rhea yang tidak keluar kamar sejak tadi, membuat Bunda sangat khawatir. Apalagi setelah mendengar cerita dari Rafka tentang apa yang terjadi hari ini, Bunda segera naik ke lantai atas untuk menghampiri Rhea. Padahal Bunda baru saja pulang dari luar kota bersama Ayah, tetapi rasa lelah itu langsung lenyap begitu saja karena Bunda ingin segera mengetahui keadaan Rhea saat ini.


Setelah berada di dalam kamar, Bunda bisa melihat kalau Rhea sedang berbaring di atas tempat tidur dengan selimut menutupi seluruh tubuh gadis itu. Bunda kemudian segera mendekat dan duduk di pinggir kasur sambil menarik pelan selimut itu.


" Rhee, kamu nggak apa-apa kan? Yuk cerita dulu sama bunda." Bunda kembali menarik selimut itu, tapi Rhea menahannya agar tidak terbuka.


" Rhee, nggak baik Lo kalau masalah itu dipendam sendirian. Kamu harus sharing sama bunda, biar Bunda bisa kasih solusi buat masalah kamu. Anak Bunda kan udah dewasa. Kamu harus belajar menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, bukannya sembunyi dalam selimut begini."


Setelah mengatakan hal itu, Bunda kemudian duduk dengan tenang menunggu reaksi Rhea selanjutnya. Rhea yang mulai tersadar dengan ucapan Bunda, akhirnya membuka selimutnya secara perlahan lalu kemudian menatap Bunda dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


" Bund..." Ucap Rhea lirih. Rhea lalu segera duduk dan memeluk Bunda dengan erat. Air mata kembali meluncur dari pipi gadis itu padahal sudah sekuat tenaga Rhea mencoba untuk menahannya.


" Bunda udah tau masalahnya dari Abang kamu." Bunda mengusap punggung Rhea dengan lembut agar Rhea merasa lebih tenang.


Setelah beberapa saat berpelukan, Rhea kemudian merenggangkan pelukannya dari Bunda dan kemudian mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya.


" Kok anak Bunda cengeng banget sih?" Bunda tersenyum jahil saat menatap Rhea lalu setelah itu membenahi rambut Rhea yang sedikit berantakan dan mengusapnya perlahan.


" Bunda...." Rengek Rhea manja. Gadis itu langsung cemberut saat mendengar godaan sang Bunda.


" Jangan cemberut gitu! Tambah jelek tau nggak!" Bunda kembali menggoda Rhea, sehingga gadis itu melengos memalingkan wajahnya dari Bunda.


" Hehe..sorry sayangnya Bunda. Sini peluk lagi." Bunda meraih kepala Rhea lalu menyandarkannya di dada Bunda.


" Kamu udah kasih Gavin kesempatan buat jelasin semuanya?" Tanya bunda pelan sambil mengusap kepala Rhea. Rhea yang masih menyandarkan kepalanya di dada bunda, seketika menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Bunda.


" Kamu nggak boleh bersikap seperti itu sayang. Kamu harus mendengarkan dulu penjelasan dari Gavin. Kamu nggak bisa menyimpulkan sendiri apa yang kamu lihat. Bisa aja itu semua salah paham. Bunda nggak yakin kalau Gavin berani selingkuh dibelakang kamu."


Saat bunda selesai bicara, Rhea langsung mengangkat kepalanya hendak protes dengan ucapan sang Bunda. "Yang anak bunda, aku atau Gavin sih? Kok bunda percaya banget sama dia. Coba bunda liat sendiri foto-foto nya kalau nggak percaya. Bunda pasti sependapat sama aku."


Rhea segera berdiri dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja belajar. Gadis itu dengan penuh semangat menyodorkan ponselnya ke tangan bunda, lalu setelah itu kembali duduk di atas tempat tidur. Rhea saat ini sedang menunggu reaksi Bunda saat melihat-lihat foto Gavin dan Tasya yang tersimpan di ponselnya.


" Fotonya bagus. Kalau orang nggak kenal Gavin, bisa jadi dia salah paham kalau liat foto ini." Bunda kemudian mengalihkan tatapannya pada Rhea setelah mengunci layar ponsel itu.


" Tapi kamu udah kenal lama sama Gavin, Rhee. Kamu coba deh tanya hati kecil kamu, apa mungkin Gavin selingkuh dari kamu. Melihat gimana selama ini perhatian dan kasih sayang nya sama kamu. Apa mungkin dia bakal semudah itu berpaling ke cewek lain, setelah berhasil jadian sama kamu setelah sekian lama?"


Bunda menatap Rhea lekat, menunggu gadis itu menjawab semua yang Bunda katakan.


Rhea mendadak menjadi diam dan tak mampu menjawab semua perkataan dari Bunda lagi. Rhea kemudian mencoba memikirkan dan mencerna semua yang di katakan Bunda padanya malam ini. Memang benar Gavin selama ini memperlakukannya dengan baik, teramat baik malahan. Perhatian dan kasih sayang tidak putus-putus di berikan oleh cowok itu. Rhea merasa di ratu kan oleh Gavin. Sehingga tidak mungkin Gavin dengan begitu mudahnya berpaling dengan gadis lain. Gavin juga terus meyakinkan Rhea, kalau cuma Rhea yang berada di hatinya. Jadi kenapa Rhea tidak mempercayai Gavin dan tidak memberikan kesempatan pada Gavin untuk menjelaskan semua yang terjadi di balik foto-foto itu?"


Setelah memikirkan semuanya, Rhea kemudian menghela nafas berat lalu menatap bunda tanpa mengatakan sepatah kata pun. Bunda yang mengerti arti tatapan anak gadisnya itu langsung tersenyum sambil mengusap rambut Rhea perlahan.

__ADS_1


" Kamu udah ngerti kan sekarang. Dalam suatu hubungan itu harus ada komunikasi, rasa saling percaya dan satu lagi kesetiaan. Kalau itu semua di jalankan dengan baik dan benar, hubungan kamu dan Gavin pasti langgeng. Seperti contohnya Bunda dan Ayah, kami sudah menjalani hubungan ini sejak kami duduk di bangku SMA juga sama seperti kalian. Hubungan kami juga ada pasang surutnya. Tapi itu semua kami anggap sebagai ujian yang harus kami lewati, agar hubungan kami bertambah kokoh dan awet. Ayah selalu meyakinkan Bunda, kalau Bunda yang selalu ada di hatinya dan Bunda percaya itu. Jadi kamu juga harus percaya sama Gavin. Beri dia kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Maka masalah kalian akan cepat terselesaikan dan kalian bisa berbaikan lagi seperti biasanya. Nggak galau-galau lagi kayak sekarang."


Bunda kemudian mencubit hidung Rhea gemas, setelah mengucapkan nasehat yang begitu panjang untuk anak gadisnya itu. Bunda berharap Rhea bisa mendapatkan pencerahan dan kembali memperbaiki hubungannya dengan Gavin.


" Bunda...sakit tau!" Rhea mengerucutkan bibirnya kesal sambil mengusap hidungnya yang sakit akibat ulah jahil Bunda.


" Sakit ya? Aduh kasihan." Bukannya bersimpati dengan keadaan Rhea, Bunda malahan mencubit kedua pipi gadis itu lalu kemudian tertawa kecil setelahnya. Bunda kemudian segera berdiri dan berniat meninggalkan kamar Rhea. Tapi sebelum pergi, Bunda kembali membuka suaranya untuk Rhea yang masih cemberut menatap Bunda.


" Nanti Bunda suruh Bik Inah anterin makanan ya Rhee. Kamu harus makan ya! Ntar kamu sakit lagi. Kamu harus fit buat besok. Harus punya tenaga ekstra buat menyelesaikan masalah kamu sama Gavin. Dan satu lagi pesan bunda, jangan mau kalah sama 'PECOOR'!!"


" Apaan tu 'PECOOR' Bund?" Rhea mengernyitkan dahinya tidak mengerti istilah yang di sebutkan oleh sang bunda barusan.


" Masa kamu nggak tau? 'PECOOR' itu Perebutan Cowok Orang. Nggak gaul kamu! Ya udah bunda keluar dulu ya. Habis makan langsung istirahat, oke!" Bunda mengedipkan sebelah matanya genit lalu segera berjalan keluar dari kamar Rhea.


Rhea yang mendengar kepanjangan dari istilah itu, langsung tertawa dan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Bunda nya ternyata gaul juga rupanya.


" Makasih ya Bund! Rhea sayang Bunda." Sorak Rhea dengan keras saat Bunda sudah berada di depan pintu kamarnya.


Bunda seketika berbalik dan menatap Rhea dengan lembut. "Bunda juga sayang kamu Rhee. Semangat ya, buat besok." Bunda kembali tersenyum dan kemudian berbalik pergi meninggalkan kamar Rhea.


Setelah kepergian Bunda, Rhea menyambar kembali ponselnya dan melihat ada puluhan panggilan tak terjawab dari Gavin. Cowok itu juga mengirimkan banyak sekali pesan pada Rhea, membuat Rhea mendengus kesal melihatnya.


" Kurang kerjaan banget sih." Rhea kemudian membuka semua pesan itu dan membacanya satu persatu.


Sayang...


Yang...


Sayang...


Sayang...


Angkat dong telfonnya


Aku mau jelasin semua


Kamu salah paham sama aku


Sayang...


Sayang...


Aku nggak mungkin selingkuhan dari kamu

__ADS_1


Kamu yang ada di hati aku


Aku berani sumpah demi apapun


Kamu harus percaya sama aku


Sayang...


Angkat telfon aku


Sayang....


Aku di luar rumah kamu


Aku bakalan nungguin kamu disini, sampai kamu kasih aku kesempatan buat jelasin semuanya.


Saat membaca pesan terakhir dari Gavin, Rhea langsung berdiri dan berjalan menuju jendela kamarnya. Rhea ingin membuktikan apakah Gavin masih berada di luar menunggunya atau tidak. Ketika tirai jendela itu dibuka sedikit, Rhea bisa melihat kalau Gavin sedang berdiri di depan mobilnya sambil memandang ke arah kamar Rhea. Pakaian Gavin juga masih sama dengan yang dia kenakan saat jalan-jalan bersama tadi siang.


Rhea kemudian menghela nafas, dan kemudian mengetikkan sebuah pesan untuk Gavin agar cowok itu segera pulang kerumahnya. Setelah beberapa saat, panggilan dari Gavin akhirnya masuk ke ponsel Rhea dan sedikit mengejutkan gadis itu yang sedang mengintip di balik jendela. Dengan malas-malasan, Rhea akhirnya mengangkat panggilan itu dan mendengar suara Gavin yang berada di luar sana.


📞📞📞


Gavin: "Sayang...aku minta maaf! Kamu salah paham. Aku nggak ada apa-apa sama dia. Saat itu aku cuma kebetulan nolongin dia, nggak lebih Yang!"


Rhea : "....."


Gavin: " Jangan diam begini dong sayang! Aku mesti buat apa, supaya kamu percaya sama aku?"


Rhea : " Pulang sana! Aku nggak mau denger penjelasan apa-apa sekarang. Aku capek!"


Gavin: " Oke, aku bakalan pulang. Tapi besok kamu harus kasih aku kesempatan buat jelasin semua ya sayang. Kamu..."


Rhea : " Udah, jangan banyak bacot! Pulang sana!"


Gavin: " Iya, aku bakalan pulang sekarang. Sampai ketemu besok ya sayang. I love..."


Tut....


Panggilan itu diakhiri sepihak oleh Rhea dengan tiba-tiba. Rhea yang masih kesal terhadap Gavin, memang sengaja melakukan hal itu karena Rhea terlalu malas mendengarkan ocehan Gavin. Rhea kemudian kembali berjalan menuju ke tempat tidur untuk merebahkan kembali tubuhnya yang lelah. Saat Rhea sedang terdiam sambil memperhatikan langit-langit kamarnya, Ucapan Bunda tiba-tiba terngiang-ngiang di pikirannya. Rhea sepertinya memang harus memberikan kesempatan pada Gavin untuk menjelaskan semuanya. Jadi Rhea bisa memutuskan bagaimana kelangsungan hubungan mereka selanjutnya.


Saat Rhea sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri, tiba-tiba pintu kamar Rhea kembali di ketuk dari luar. Sepertinya Bik Inah yang datang kali ini dengan membawa makanan yang pastinya atas perintah Bunda nya. Rhea kemudian segera membuka pintu dan menerima nampan yang berisi makanan itu. Setelah mengucapkan terima kasih pada Bik Inah, Rhea kemudian segera menutup pintu kamarnya lagi. Rhea yang memang sudah merasa lapar, akhirnya menyantap makanan itu dengan lahap.


Sementara itu, Gavin yang masih berada di luar rumah Rhea akhirnya bisa bernafas lega. Walaupun Rhea masih marah padanya, tapi gadisnya itu masih mau mengangkat telponnya. Gavin yakin saat Rhea mendengar penjelasan Tasya besok, Rhea pasti mengerti bahwa apa yang dia lihat di foto-foto itu sepenuhnya salah. Gavin tidak memiliki hubungan khusus dengan Tasya. Gavin hanya mencintai Rhea, bukan gadis manapun termasuk Tasya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat menatap jendela kamar Rhea yang berada di lantai dua, Gavin kemudian segera masuk ke dalam mobilnya. Gavin ingin segera pulang ke rumah untuk mengobati sudut bibirnya yang masih perih akibat pukulan dari Rafka tadi. Gavin lalu segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil bersiul riang. Gavin tidak sabar menunggu sampai esok hari agar dia bisa bertemu kembali dengan pujaan hatinya. Gavin akan menebus semua kesedihan yang dirasakan Rhea hari ini, dengan memberikan kasih sayang yang lebih untuk gadisnya itu. Gavin akan menuruti semua yang Rhea katakan dan Gavin juga berjanji akan menjaga jarak dengan Tasya mulai hari ini.


__ADS_2