Menggapai Cinta

Menggapai Cinta
Pencarian 1


__ADS_3

Sore itu, dirumah Bram


Bram melepaskan pelukannya dan tersenyum kepada Anin seraya menyentuh wajah gadis itu.


"akhirnya kau ada disini..." ucap Bram perlahan. Anin membantu Bram untuk berdiri dan duduk di sofa ruang tamu.


"ada apa denganmu kak?" tanya Anindiya yang duduk tepat disamping Bram.


"aku senang kau ada disini, beberapa hari ini aku tak bisa tidur, selalu terbayang dengan perkataanmu waktu itu. Aku benci itu Nin... dari dulu sampai sekarang kau masih milikku. Aku mencintaimu." ucap Bram yang kemudian mencium lembut tangan Anin.


"kak... maafkan aku." kata Anin sambil menarik tangannya. "kau tak boleh melakukan ini padaku, aku milik orang lain kak."


"Nin...sebelum ada kata akad kau masih bebas bersama siapa saja. aku mohon kembalilah padaku."


"tapi aku sudah melakukan akad, aku sudah menikah kak...." ucap Anin tertunduk. "aku seorang istri." perjelas Anin yang membuat Bram terpaku melihat wanita yang dicintainya mengatakan hal seperti itu. "semua benar kak... Aku seorang istri yang harus patuh pada suami, aku seorang istri yang harus berbakti pada suami dan aku seorang istri yang harus mencintai suaminya."


Mendengar semua perkataan itu, laksana petir menyambar diri Bram. Ia masih mencintai wanita itu, wanita yang masih membuatnya tergila-gila. Bahkan ia rela melepaskan hanya karena tak ingin menyiksa wanita itu dengan kerinduan.

__ADS_1


"maafkan aku kak... bagaimanapun aku tidak bisa menerimamu."


"kau mau teh?" ucap Bram yang tak mau mendengar perkataan Anin


Bram pergi meninggalkan Anin duduk diruang tamu sendirian. Ia pergi ke dapur dan membuat secangkir teh untuk Anin. Tiba-tiba ia teringat obat tidur yang ia beli kemarin saat ia tak bisa tidur. Tanpa berpikir panjang Bram memasukkan obat tidur ke minuman Anin. Saat ia teringat dirinya yang hanya minum satu butir tidak ada reaksi, akhirnya ia menambahkan beberapa butir ke minuman Anindiya.


"bagaimanapun kau harus jadi milikku Nin... aku tidak suka kau bersama laki-laki lain. Kau hanya boleh bersamaku, aku yakin kau masih mencintaiku, Dan pernikahan itu pasti bukan kehendakmu. Aku akan bebaskan kau dari dia Nin..."


Bram datang dengan secangkir teh, ketika Anindiya melamun sendirian.


"sedang mikirin apa?" tanya Bram seraya menyerahkan teh hangat ke Anin.


"jika kamu khawatir seperti ini, aku tidak akan melakukan hal itu lagi." hibur Bram. "ada apa Nin?" tanya Bram yang melihat obat itu mulai bereaksi.


"tak apa kak..." elak Anin yang pundaknya dipegang Bram.


"aku antar pulang ya!"

__ADS_1


Anin hanya mengangguk, Wanita itu berdiri sempoyongan karena tiba-tiba ia merasakan kantuk luar biasa. Tak lama kemudian badannya jatuh dan ditangkap oleh Bram yang kemudian di papah masuk ke dalam mobil.


"ada apa mas Bram?" tanya Pak Nono, hansip komplek perumahan Bram


"tak apa pak, tiba-tiba temen saya pingsan. Saya mau pergi ke rumah sakit sebentar.


***


Malam semakin larut ketika Ryung, Jung Su dan Tomi tiba di sebuah rumah bernuansa hijau, cukup sederhana di komplek perumahan yang tidak begitu elit. Rumah itu terlihat sepi tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.


"sepertinya tak ada kak..." kata Jung Su memecah keheningan diantara mereka. "ni sudah hampir tengah malam, tetangga pun sudah tidur semua."


"Kalian siapa?" tanya seorang laki-laki berpakaian hansip.


"kami temannya Bram pak." Jelas Tomi, melangkah mendekati laki-laki itu.


"Oh... Mas Bram tadi keluar, mengantar temannya yang pingsan." jelas Pak Nono kemudian

__ADS_1


kemana lagi aku cari Nin....


__ADS_2