
Tiba-tiba mobil Dolly dihadang oleh mobil Devan, saat di persimpangan arah rumah Rio. Untuk mencari amannya, Dolly pun segera mengirim pesan pada Rio agar segera datang membawa orang ke persimpangan itu.
"Hei, turun!" teriak Devan sembari menggedor kaca jendela di dekat Dolly.
Dolly pun melirik ke arah adiknya yang masih terlelap. Merasa lebih baik dia keluar dari pada mengganggu tidur adiknya, Dolly pun keluar dari dalam mobil.
"Anda siapa? Apa kita saling mengenal sebelumnya?" tanya Dolly sambil bersandar pada badan mobil.
"Nggak usah banyak tanya! Anda membawa kabur kekasih saya. Kembalikan dia pada saya!" ucap Devan dengan sombongnya.
"Buahahaha..." Dolly langsung tertawa begitu mendengar kata-kata laki-laki di depannya.
"Tidak ada yang lucu, kenapa anda tertawa? Anda menghina saya?" teriak Devan kesal seraya mengayunkan kepalan tangannya ke arah perut Dolly.
Dolly langsung menghindar begitu melihat gerakan tangan Devan. Dolly sengaja hanya menghindari pukulan Devan tanpa mau membalas. Dolly sangat mengenal daerah itu. Di persimpangan itu dipasang CCTV yang langsung terhubung dengan kantor polisi terdekat.
Tak lama kemudian, Rio datang bersama salah satu karyawannya yang kebetulan berada di rumahnya. Setelah Rio dan temannya datang, satu kompi polisi juga mendatangi tempat itu.
Mereka melerai Dolly dan Devan dengan memegang tangan Devan. Devan tampak begitu emosi karena rencananya ingin menghajar Dolly tidak berhasil. Dan lebih kesal lagi karena dirinya kini digelandang ke kantor polisi.
"Lo, nggak apa-apa 'kan?" tanya Rio pada Dolly.
"Aman!" sahut Dolly sembari mengacungkan jempolnya.
Cecil yang sudah terbangun sejak tadi hanya diam. Dia merasa syok melihat betapa kalapnya Devan tadi.
__ADS_1
Dolly membuka pintu mobil dan mematung karena melihat adiknya yang ketakutan.
"Cil! Cecil!" panggil Dolly sambil mengusap lengan adiknya.
Rio pun membuka pintu di dekat Cecil.
"Cecil, kamu kenapa?" tanya Rio panik.
Saking paniknya dia menarik Cecil masuk ke dalam pelukannya, akan tetapi belum sampai masuk ke dalam pelukannya. Badan Cecil sudah ditarik oleh Dolly.
"Enak aja! Lo itu bukan siapa-siapa Cecil. Gue yang mahramnya!"
Saat keduanya saling berebut, Cecil tersadar dan spontanitas memeluk Dolly.
"Lihatlah sendiri!" sahut Dolly sembari mengusap punggung adiknya.
Polisi yang sejak tadi berdiri menunggu pun akhirnya menyela.
"Maaf, kami butuh keterangan dari Bapak. Jadi silahkan ikuti saya ke kantor polisi!" ucap polisi tersebut.
"Baik, Pak," jawab Dolly.
Dolly pun melihat ke arah Rio, untuk menanyakan apakah Rio ikut mereka atau tidak.
"Lo ikut apa tinggal?" tanya Dolly.
__ADS_1
"Ikut, kalau boleh! Hehehe..."
Akhirnya mereka bertiga pergi ke kantor polisi. Keadaan Cecil pun sudah tenang dan kembali ceria, setelah mendengar obrolan Rio dan Dolly yang tak pernah akur.
Di dalam kantor polisi, mereka sudah ditunggu di sebuah ruangan. Di sana sudah ada Devan dan beberapa orang polisi.
Wajah Devan tampak memerah menahan amarah juga lelah, karena tadi mengamuk.
Dolly dengan santainya duduk di depan Devan. Tak ada sedikitpun amarah di wajahnya, yang ada hanya tatapan mengejek pada calon adik iparnya itu.
"Apa anda mengenal saudara Devan?" tanya seorang polisi pada Dolly dan hanya dijawab gelengan kepala.
"Jelaskan! Apa anda tidak punya mulut untuk berbicara?"
"Begini nih kalau berurusan sama polisi! Kagak ada sabar-sabarnya," celetuk Dolly.
"Saya bertemu dia, baru saja, Pak. Baru pertama kali bertemu sudah dihajar tanpa mau tabayyun dulu! Eh, malah saya disuruh menyerahkan adik saya. Gila 'kan dia, Pak?" jawab Dolly enteng.
Polisi tersebut hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Dolly yang tidak nyambung sama sekali.
"Baiklah, kalau begitu ceritakan kronologi kejadian tadi!" ucap polisi itu akhirnya.
"Saya sedang dalam perjalanan menuju rumah teman saya. Saat di tengah jalan saya melihat adik saya bertengkar dengan seorang laki-laki dan berlari ke jalan. Sebagai kakak yang baik, saya memberi tumpangan pada adik saya. Dan mengajaknya ke rumah teman, tetapi di tengah jalan sudah dihadang si kamvret ini! Untuk lebih meyakinkan lagi, silahkan lihat rekaman CCTV!" ucap Dolly dengan sangat santai.
Mata Devan terbeliak begitu mendengar kata adik yang keluar dari mulut laki-laki yang tadi dihajarnya.
__ADS_1