
Selama satu Minggu, Rio dan Cecil kembali bekerja sama membuat program untuk divisi timbangan. Keduanya tampak akrab, membuat siapa saja yang melihat pasti cemburu.
Begitu juga dengan Devan, dia sangat marah setiap kali Cecil bersama Rio.
"Kamu bisa nggak sih, jaga perasaan aku? Aku pacarmu tapi kamu malah lebih sering bersama mantan kamu itu!" ucap Devan sambil menepikan mobilnya.
"Kami sering bersama karena pekerjaan, Devan. Papa sendiri yang beri perintah langsung, kebetulan sewaktu Papa memintaku bekerja sama dengan Rio ada Bang Dolly. Mana bisa aku membantah keduanya, walaupun sebenarnya aku ingin menolak. Kamu harusnya mengerti! Sejak dulu aku sudah bekerja bersama dia, bahkan sebelum kami bertunangan," ucap Cecil panjang dan lebar.
"Kamu 'kan bisa mempersingkat waktu bersamanya, toh dia yang mendapat gaji. Kenapa kamu yang ikutan repot mengurus program itu? Untuk apa mereka membayar Rio jika kamu masih terlibat dalam pembuatan program?" cerca Devan penuh dengan amarah.
"Bukan hanya dia saja yang dibayar! Tenaga sebagai tenaga IT di perusahaan juga mendapatkan gaji. Asal kamu tahu, De! Gajiku tiga kali lipat dari gaji dia. Lain uang jajan yang Papa kasih buat aku. Sekarang aku tanya sama kamu, kalau kamu yang jadi aku. Kamu bagaimana? Menyelesaikan pekerjaan bersama rekan kerjamu atau kamu hanya menjadi mandor? Pikir pakai otak dan perasaan!" jawab Cecil tidak kalah marahnya dengan Devan.
Cecil langsung keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan membantingnya.
"Honey, tunggu! Jangan pergi, Sayang! Aku minta maaf," teriak Devan sembari berjalan mengejar gadis pujaan hatinya.
Saat Cecil berjalan, kebetulan Dolly juga melewati jalan itu. Sehingga begitu melihat adiknya berjalan dia menekan klakson untuk memanggil adiknya.
__ADS_1
Merasa kenal dengan mobil di seberang jalan, Cecil langsung berlari ke seberang begitu jalanan agak sunyi.
"Lo kenapa?" tanya Dolly begitu adiknya sudah duduk dan memasang seatbelt.
"Menyebalkan! Dia marah katanya yang seharusnya menemani Gue itu dia. Tanpa mau tahu keadaan sebenarnya seperti apa!" cerita Cecil penuh dengan bibir mencebik.
"Tunggu, tunggu... Cowok itu tadi pacar Lo?"
"Iya, baru jadian seminggu tapi ngatur melulu. Nggak boleh begini, nggak boleh begitu. Capek deh!" keluh Cecil sembari mengambil air mineral yang terletak di samping jok, lalu menenggaknya hingga setengah.
"Keknya pernah kenal sama wajahnya, tapi siapa ya? Siapa sih nama cowok Lo?" tanya Dolly penasaran.
"Rumah Rio! Gue ada pesan beberapa layar monitor LED untuk kantor. Tadi sudah Gue hubungi, dia sudah pulang katanya," jawab Rio santai.
Perasaan Cecil tak enak, jadi dia menoleh ke belakang.
"Bang, keknya kita diikuti deh. Coba Abang tengok belakang dari spion!" ucap Cecil dengan perasaan was-was.
__ADS_1
"Lo kenal?" tanya Dolly setelah melakukan apa yang diminta adiknya tadi.
"Itu mobil si Devan, Bang! Pasti dia marah lagi kalau tahu kita ke rumah Rio. Hufftt!"
"Biarin aja! Gue mau lihat sebesar apa rasa cintanya ke Lo," sahut Dolly tanpa rasa berdosa.
"Abang ihh, cari penyakit ini mah namanya. Adik jadi korban keegoisan abangnya!" gerutu Cecil.
Dolly diam saja tidak mau menjawab dikatakan egois oleh adiknya. Nanti lama-lama Cecil juga diam dan melupakan kekesalannya seperti biasa.
Hening...
Dolly merasa heran kenapa tidak ada suara sama sekali di sampingnya. Dia pun menoleh dan melihat adiknya yang cantik itu sudah tertidur pulas.
"Tadi ngoceh aja, didiemin lama-lama tidur juga. Dasar bocah, kecapekan ngoceh tidur!" ujar Dolly sembari menggelengkan kepalanya.
Di belakang mereka, Devan tetap mengikuti mobil yang dikemudikan oleh Dolly. Dia penasaran siapa yang berani membawa kekasihnya itu pergi.
__ADS_1
Dalam hati Devan, dia akan mencari tempat yang sepi kemudian menghajar laki-laki yang membawa pergi pacarnya itu. Tanpa Devan tahu, jika saat ini Cecil bersama abang kandungnya.
"Lihat saja nanti, jangan panggil aku Devan jika tidak bisa menghajar kamu!" ancam Devan.