
Pagi-pagi sekali Rio dan bu Sonya sudah bersiap menuju rumah pak Edward. Hari ini adalah hari pernikahan Cecil. Rio dan bu Sonya sudah didaulat oleh pak Edward untuk menjadi penerima tamu. Sehingga mereka harus datang lebih awal.
Saat akan meninggalkan kamarnya, suara dering telepon terdengar dari gawai Rio yang ada dalam saku celananya.
Sementara itu, di kediaman pak Edward sangat ramai oleh sanak saudara yang mulai berdatangan. Para ibu-ibu ingin melihat wajah cantik Cecil ketika dirias oleh MUA.
Cecil saat ini berada di kamarnya. Wajahnya belum selesai dirias, akan tetapi sudah tampak lebih cantik dari biasanya.
"Waahhh... pengantinnya cantik banget! Pasti nanti mempelai prianya bengong kek sapi ompong melihat kecantikan Cecil," ucap salah seorang kerabat dekat Cecil.
Cecil yang mendapat pujian itu malu, pipinya semakin merah walaupun tanpa perona.
"Kakak bisa saja! Wajah Cecil memang seperti ini sejak dulu. Kakak jangan berlebihan!" sahut Cecil cemberut.
"Cecil memang cantik walau tanpa make up, jadi wajar kalau dirias makin cantik!" Salah seorang saudara jauh menimpali.
Mereka mengerubuti Cecil yang sedang dirias dukun manten. Cecil memang cantik, tidak hanya wajah tetapi juga hati. Kekurangannya hanya sifat manja yang sudah akut, akan tetapi kekurangan itulah yang menjadi kelebihannya di mata kaum Adam.
Mama Ratna masuk ke kamar Cecil setelah dirinya selesai dirias oleh petugas MUA yang lain.
"Sudah selesai?" tanya mama Ratna begitu masuk ke kamar anak perempuan satu-satunya.
"Sebentar lagi kelar, Kak Ratna. Tenang saja!" ucap saudara sepupunya.
"Iya, sebentar lagi ganti baju kok! Ibu Ratna bisa lihat anaknya sekarang, silakan," ucap penata rias yang merias wajah Cecil.
Betapa terkejutnya sang mama saat melihat anaknya tampak begitu cantik. Saking kagetnya, mama Ratna sampai melongo.
"Awas Tan, ada lalat lewat!" teriak saudara jauh sambil menahan tawanya.
Mendengar suara seperti itu, mama Ratna reflek mengatupkan mulutnya.
"Dosa kau Leli! Orang tua kau kerjai," ucap sepupu mama Ratna.
"Sudah! Sekarang kita ganti dulu baju kamu. Nanti baru saya rapikan lagu make up di wajah kamu," ucap sang perias tiba-tiba sehingga mengejutkan mereka yang asik tertawa.
__ADS_1
Mendengar Cecil yang mau berganti pakaian, mereka semua pun pamit keluar dari kamar tersebut.
Cecil menggunakan kebaya modern berwarna putih gading dipadukan dengan kain batik. Rambutnya disanggul dengan bunga melati sebagai hiasan.
Kali ini penampilan Cecil membuat siapapun yang melihatnya terpukau. Kecantikan terpancar dari dalam hatinya, membuat wajahnya sejuk dipandang. Kedua abangnya pun sampai tidak bisa berkedip memandang adik perempuan mereka satu-satunya.
Satu jam kemudian...
Pak Edward tampak gelisah karena Devan dan keluarganya belum juga hadir. Padahal penghulu sudah datang menunggu di dalam.
Pak Edward mondar-mandir di depan pintu utama. Beliau juga mencari keberadaan Rio. Frans dan Dolly pun tak kalah gelisah. Jika Devan tidak datang, maka hancurlah nama baik pak Edward dan keluarganya.
"Bu Sonya, dimana Rio? Kenapa sampai jam segini belum juga kelihatan?" berondong pak Edward pada ibu Rio.
"Saya tidak tahu pastinya kemana, hanya saja beberapa hari terakhir ini..." Bu Sonya menghentikan ucapannya, rasa ragu menyelimuti pikirannya.
"Beberapa hari terakhir kenapa, Bu?" tanya pak Edward tidak sabar, dia terus mendekati pensiunan petugas administrasi di sekolahnya.
"Dia sering keluar dan pulang terlambat. Kami seperti tidak tinggal di rumah yang sama. Ingin berkomunikasi saja harus menggunakan teknologi jaman sekarang. Jadi susah untuk memantau apa yang dia lakukan selama beberapa hari terakhir ini."
"Aneh! Tiba-tiba sibuk, padahal toko sepertinya dalam keadaan baik-baik saja. Aku juga tidak memberi dia pekerjaan karena memang dalam acara pernikahan ini, keluarga tidak boleh memikirkan perusahaan. Apa yang dia kerjakan? Kenapa aku hubungi sejak tadi selalu di luar jangkauan?" Pak Edward merasa ada yang aneh dengan mantan tunangan anaknya itu.
Akhir-akhir ini Rio sibuk sendiri, menjauh dari keluarga pak Edward juga ibunya. Tidak ada yang tahu dengan apa yang dilakukan.
Saat pak Edward mengintrogasi bu Sonya, Frans melewati mereka. Frans ingin menyambut kedatangan mertuanya.
"Frans! Kamu tahu kabar Rio tidak?" tanya pak Edward seketika saat anaknya lewat di depannya.
Frans langsung menghentikan langkahnya.
"Tidak, Papa. Sudah beberapa hari ini kami tidak bertemu. Mungkin dia lagi sibuk merintis usaha, Pa. Soalnya dia tidak pernah seperti ini sebelumnya," jawab Frans, kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju tempat dimana mobil mertuanya berhenti.
"Setengah jam lagi acara dimulai, kenapa Devan belum muncul juga," gumam pak Edward pelan.
Mama Ratna mendekati suaminya setelah menemani anak gadisnya dirias oleh MUA.
__ADS_1
"Bagaimana Pa, sudah datang si Devan?" tanya mama Ratna memastikan calon mempelai sudah ada di tempat.
"Belum, Ma. Nomornya juga tidak bisa dihubungi. Si Rio pun juga menghilang entah kemana," sahut pak Edward mulai panik.
"Hari ini adalah hari patah hati Rio, jadi wajar jika dia menghilang. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri," celetuk Dolly tiba-tiba.
"Apa maksudmu berkata seperti itu, Dolly?" tanya sang mama penasaran.
Dolly hanya mengangkat kedua bahunya acuh.
"Dolly ada telingamu untuk mendengar, bukan?" tanya mama Ratna mulai kesal.
"Sekarang Dolly tanya, siapa yang orangnya yang tertawa bahagia melihat pujaan hati disunting oleh orang lain?" jawab Dolly dengan pertanyaan yang membuat emosi mama Ratna semakin naik.
"Kamu terlalu berputar-putar membuat Mama pusing!" ujar mama Ratna dengan tangan kanan memegang kepalanya.
"Jangan ikut berputar kepalanya, Ma! Cukup pikiran saja yang berputar," sahut Dolly cengengesan.
"Dasar anak durhaka kamu! Suka banget mengerjai orang tua."
"Jangan marah-marah, Ma! Nanti cepat tua, berkeriput. Takutnya Papa nanti cari daun muda," ledek Dolly.
Seperti itulah Dolly jika bersama sang mama, selalu ada saja bahan candaan yang menambah keakraban mereka.
Bu Sonya yang menyimak percakapan ibu dan anak itu, menjadi teringat dengan anak laki-laki semata wayangnya. Begitu akrab dan dekat. Bercanda, akan tetapi tidak mengurangi rasa hormat pada orang yang lebih tua di atas kita.
Bibir bu Sonya tertarik ke atas sedikit, tersenyum melihat interaksi antara ibu dan anak. Walaupun usia anak tidak lagi muda, akan tetapi perlakuan orang tua tetaplah sama.
"Malu, Dolly! Kita kek kucing dan anjeng saja, berantem dari tadi tidak ada habisnya," tegur mama Ratna akhirnya, Dolly hanya nyengir menampakkan deretan gigi putihnya.
Mama Ratna menoleh pada Bu Sonya, kemudian mendekat.
"Maaf ya, Jeng. Seperti itulah anak sulung kami, usia sudah dewasa tapi sikapnya tak ubahnya seorang anak kecil," ucap mama Ratna seraya menyentuh lengan bu Sonya.
"Santai saja, Bu! Saya memakluminya, Rio pun terkadang bersikap seperti itu," jawab bu Sonya dengan senyuman.
__ADS_1