Menggapai Cinta

Menggapai Cinta
70. End


__ADS_3

Kehadiran seorang anak pasti membuat hati orang tua berbunga-bunga. Sama halnya dengan Rio dan Cecil. Keduanya menyambut kelahiran buah cinta mereka dengan bahagia. Kebahagiaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.


Bayi dengan berat badan 3 kilogram dan panjang 52 centimeter, berjenis kelamin laki-laki. Bayi itu lahir secara normal dan dalam keadaan sehat. Sesuai kesepakatan bersama bayi itu diberi nama Ariel Devan Alaska. Ariel merupakan singkatan dari anak Rio dan Cecil.


Mereka berdua sepakat untuk menyatukan nama mereka untuk anak pertama. Dua darah yang menyatu dan tak terpisahkan. Seperti itulah do'a dan harapan mereka.


"Terima kasih, Sayang. Kamu memang wanita hebat!" Ucapan rasa syukur dan pujian selalu terlontar dari mulut Rio.


Berulang kali Rio menghujani wajah Cecil dengan kecupan mesra. Begitu juga dengan baby Ariel, tak pernah lepas dari gendongan sang ayah.


"Bang, aku yang gendong dia selama sembilan bulan kenapa wajahnya dominan kamu?" protes Cecil begitu memperhatikan wajah sang anak.


"Bibit Abang itu bibit unggul, jadi wajar kalau wajah Abang yang nempel di wajah Ariel," sahut Rio sembari tersenyum.


"Semoga aja sifatnya nggak kek ayahnya, bisa-bisa jadi lajang tua!" gumam Cecil lirih tetapi masih bisa didengar oleh Rio.


"Apa yang kamu bilang, Sayang?" tanya Rio dengan raut wajah kesal.


"Kenapa memangnya sifat aku? Begitu jelekkah, sehingga kamu tidak menyukainya?" cerca Rio sewot.


"Makanya jadi orang itu jangan terlalu dingin dan tertutup. Dan, satu lagi peka sedikitlah jadi lelaki itu!" ejek Dolly yang saat itu datang untuk menjenguk adik kesayangannya.


"Maksudnya aku tidak peka, begitu?"


Semua orang yang berada di ruangan itu mengangguk secara bersamaan seperti sudah dikomando.


Melihat semua mengangguk, Rio langsung mengusap wajahnya dengan kasar dengan kedua tangan. Dia merasa malu karena tidak bisa memahami orang-orang itu.


"Sebenarnya kamu itu terlalu baik, hanya saja kamu kurang pengalaman dalam dunia percintaan. Pacar tak pernah punya, naksir tak berani ngomong. Itulah kenapa kamu tidak tahu bagaimana cara memperlakukan wanita. Kamu hanya tahu perempuan itu dihormati, diperhatikan dan selalu dipenuhi kebutuhannya. Padahal selain itu, masih ada lagi yang sangat wanita tunggu. Yaitu ungkapan perasaan! Kamu sudah mengungkapkan isi hati kamu, belum?" Dolly menyampaikan apa yang menjadi ganjalan dalam rumah tangga adiknya itu.


Sifat Rio yang terlalu dingin dan introvert membuat dia susah untuk mengekspresikan perasaan. Bahkan tidak bisa mengenali perasaannya sendiri. Hal inilah yang kadang membuat Cecil cemburu dan kesal.


Kebaikan dan kesetiaan Rio tidak diragukan lagi. Akan tetapi sifatnya itu yang kadang menjengkelkan bagi Cecil. Namun begitu, Cecil sangat bahagia bersuamikan Rio.


"Tidak peka tidak mengapa, Bang! Yang penting tetap setia dan perhatian sama kami," ucap Cecil untuk menutupi rasa malu sang suami.


Bagaimana tidak malu, jika kekurangan kita diumbar di depan orang banyak. Walaupun mereka masih keluarga tetap saja rasa malu itu ada.


*


*

__ADS_1


Acara syukuran kelahiran baby Ariel di laksanakan di rumah pak Edward. Oleh karena itu, Cecil dan baby Ariel langsung diboyong oleh pak Edward dari rumah sakit setelah tiga hari menjalani rawat inap.


Bunda Sonya pun ikut tinggal di rumah pak Edward sampai acara syukuran baby Ariel dilaksanakan. Rio sudah menyetujui.


Acara dibuat semeriah mungkin, pak Edward mengundang semua relasi bisnisnya. Begitu juga dengan Rio. Selain itu mereka juga mengundang anak yatim dari panti asuhan dan sekitar kompleks perumahan.


Acara berjalan lancar tanpa hambatan sama sekali. Mereka semua berbahagia dengan kelahiran baby Ariel, sebagai tanda semakin kuatnya ikatan keluarga antara keluarga Surya dan keluarga Alaska.


"Selamat, Sayang. Semoga rumah tanggamu selalu diberkati dan diberikan kebahagiaan," ucap sekaligus do'a dari mama Ratna.


"Jadi anak sholeh ya, cucu Oma. Semoga menjadi kebanggaan keluarga, agama dan negara. Aamiin!" lanjut mama Ratna seraya mencium dan mengusap kepala baby Ariel.


Setelah itu giliran bunda Sonya yang mendo'akan anak dan cucunya. Diikuti oleh anggota keluarga yang lain.


Malam harinya, baby Ariel sudah terlelap dalam box bayinya. Sedangkan Rio dan Cecil sedang duduk di peraduan malam. Di ranjang empuk berukuran king size.


"Cecil tidak pernah menyangka, jika Abanglah jodoh Cecil. Melihat sikap Abang yang dingin bagai es di kutub Utara, membuat Cecil menyerah. Apalagi selama tiga tahun bersama, Abang masih tetap dingin. Walaupun perhatian Abang selalu tercurah untuk Cecil, tetap saja Cecil merasa insecure," ucap Cecil bersandar pada lengan kekar sang suami.


Rio pun memeluk tubuh istrinya yang sedikit mengembang karena kehamilan.


"Maafkan Abang yang tidak peka. Maafkan Abang juga, jika selama ini sikap Abang selalu menyiksamu..." ucap Rio seraya mencium punggung tangan Cecil berulang kali.


"Cecil maafkan asal Abang..."


"Cecil pengen banget dengar Abang ucap kata cinta buat Cecil," tantang Cecil sembari memainkan matanya.


Rio hanya bisa mengusap tengkuknya. Susah baginya untuk mengatakan kata sakral itu.


"Tanpa Abang ucapkan, kamu sudah tahu isi hati Abang. Apa lewat perbuatan saja tidak cukup, hmm?" tawar Rio.


"Tidak bisa! Semua wanita itu ingin pengakuan walaupun tindakannya sudah terlihat. So..." Cecil mengangkat kedua tangannya meminta sang suami untuk mengucapkan kata-kata sakral yang sudah lama dinanti.


"Tidak usah, ya?" tawar Rio seraya mengecup bibir sang istri.


"Ehh, tidak ada tawar menawar. Cecil tunggu sampai besok. Kalau Abang tidak mau bilang, Cecil tidak akan tidur!" ancam Cecil.


"Ck, harus ya?"


"He'em!" sahut Cecil disertai anggukan.


"Aduh! Kalau kamu tidak tidur nanti sakit, Sayang," bujuk Rio sembari memainkan kancing piyama sang istri.

__ADS_1


"Eits, tangan Abang jangan nakal! Itu sudah hak milik baby Ariel," ujar Cecil seraya memukul pelan lengan Rio.


"Astaga, galak bener bini Abang sekarang!"


"Biarin! Makanya kalau nggak mau digalakin, Abang bilang dulu kalau Abang cinta sama Cecil!" sahut Cecil galak.


"Iya deh iyaa..."


Lama Rio terdiam memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Mencoba merangkai kata yang tepat untuk menggambarkan isi hatinya.


"Hmm... nggak bisa, Sayang!" ucap Rio tampak menyerah.


"Buruan, Cecil sudah ngantuk nih!" bentak Cecil tidak sabar.


"Oke deh, tapi jangan diketawain ya!"


"Siip! Buruan," perintah Cecil sudah tidak sabar ingin mendengar kata-kata sakral dari bibir sang suami.


"Cecilia Putri, aku tak punya harta untuk membahagiakanmu. Tapi aku punya hati untuk selalu menyayangimu selama sisa hidupku..."


Hening...


"Sudah?" tanya Cecil memicingkan sebelah matanya.


"Sudah!" jawab Rio mantap.


"Hahaha!" Cecil langsung tertawa lepas mendengar jawaban dari laki-laki yang setahun lebih menikahinya.


"I love you..." ucap Rio akhirnya.


Rio langsung m3lum4t bibir Cecil begitu selesai mengucapkan kata-kata sakral itu agar istrinya tidak lagi mentertawakan dirinya.


*


*


*


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mengikuti kisah perjalanan cinta Febrio Putra Alaska bersama Cecilia Surya.


Terima atas dukungan kalian semua, selamat bertemu kembali dengan othor gabut di karya lainnya. Jangan lupa singgah ke Love After Parting!

__ADS_1


I love you all 😘😘😘😘


__ADS_2