Menggapai Cinta

Menggapai Cinta
57


__ADS_3

"Makanya move on, Bang! Dia sudah bahagia bersama anak dan suaminya. Seharusnya Abang juga bisa bahagia bersama orang lain. Jangan menyiksa diri Abang sendiri!" ucap Cecil tiba-tiba.


Semua yang berada di ruangan itu menatap Rio dan Cecil penuh dengan tanda tanya. Mereka bertanya-tanya siapa yang membuat seorang Febrio Putra Alaska menjadi bujang lapuk.


"Siapa yang buat Lo betah melajang, Rio?" tanya Jo penasaran.


"Si Vani kali!" celetuk teman semasa kuliah dulu.


"Enak aja, Gue! Ada laki Gue noh, kalau gara-gara ini dia marah awas kalian!" sahut Vani sewot langsung mengeluarkan ancaman.


"Gue cuma nebak aja? Model potongan kalian tuh sama, mana tahu satu server satu hati juga!" sahut teman sewaktu kuliah itu.


"Gue tidak memenuhi kriteria Rio, asal kalian tahu ya!" sahut Vani tidak mau kalah suara.


"Dia ada di antara kita kok, hanya saja Bang Rio terlalu takut untuk mengutarakan perasaannya. Takut menyakiti perasaan sahabatnya sehingga dia menahan sendiri kesakitannya." ucap Cecil menjelaskan dan mendapat tatapan tajam dari Rio.


"Kalau kita diam saja, kapan orang akan tahu apa yang kita rasa? Lebih baik mengatakan isi hati kita dari pada dipendam terus. Sakit!"

__ADS_1


"Sedalam-dalamnya menanam bangkai pasti baunya menguar juga. Serapat-rapatnya menyimpan durian baunya akan tercium." ucap Sheila sembari memainkan kuku-kukunya yang lentik.


Rio menjadi malu karena rahasianya dibongkar oleh Cecil. Dia hanya bisa meringis dan mengusap tengkuknya mendengar ledekan dan cibiran dari teman-temannya.


"Itu masa lalu! Kenapa masih diungkit? Setiap orang pasti memiliki masa lalu yang berbeda. Sebaiknya kita tidak usah menghakimi masa lalu orang lain. Berusaha menjadi lebih baik lagi," potong Devan yang tiba-tiba muncul dan bergabung bersama mereka.


"Tuh, dengerin Pak Ustadz ngomong! Jangan meledek Rio terus, nanti kalau dia nangis repot kagak ada emaknya. Hahaha..." ucap teman semasa SMA Rio.


"Dia bilang jangan meledek akan tetapi dia malah lebih parah oiy!"


Rio duduk di atas ayunan dengan segelas minuman di tangan.


"Siapa masa lalu kamu yang membuat kamu sulit membuka hati?" tanya Jo tiba-tiba, tetapi hanya dijawab dengan senyum tipis.


"Boleh aku menebak?" Jo kembali bertanya.


"Silakan! Tetapi aku tidak akan mengiyakan atau menyangkal. Biarlah itu menjadi rahasiaku!" sahut Rio sembari mendekatkan gelas ke bibirnya.

__ADS_1


"Jika kamu keluarkan sejak dulu pastinya tidak akan sesakit saat ini!" saran Jo bijak.


"Itu hanyalah masa lalu, Jo! Aku sudah tidak merasakan itu lagi. Percaya padaku, Jo!" jawaban Rio sembari menepuk pundak Jo pelan.


"Lagian saat ini sudah ada seseorang yang menggantikannya, hanya saja aku terlambat menyadari. Sekarang aku hanya bisa berdo'a, bila dia jodohku pasti akan aku dapatkan," lanjut Rio sembari tersenyum.


"Kenapa nasibmu selalu buruk jika berurusan dengan dunia percintaan? Cinta memang begini deritanya tiada akhir," ucap Jo ikut sedih.


"Jodoh itu rahasia Tuhan. Jika jodoh kita sudah didatangkan, mau dielakkan pun akan tetap bersatu. Jika belum datang jodoh pada kita, dipaksa bersatu pun akhirnya perpisahan juga akhirnya," ujar Jo.


"Menunggu jodoh itu datang pada kita itu lebih baik, agar hati kita dan pasangan tidak tersakiti," sahut Rio menimpali.


"Jadi karena alasan itu, sampai sekarang masih betah sendiri?" tanya Jo penasaran.


"Yah, seperti itulah kira-kira. Sekarang saat aku tersadar, ternyata kesempatan itu sudah sangat tipis. Dia sudah jadi milik orang! Miris bukan?"


"Sabar Rio, semua pasti akan indah pada waktunya. Lagian, Tuhan tidak akan menguji umatnya melebih kemampuannya,"

__ADS_1


__ADS_2