
"Jadi orang yang menjadi masa lalu Rio adalah istriku. Kenapa aku yang menjadi sahabatnya tidak mengetahuinya? Sedangkan abang dan adikku sudah mengetahui," gumam Frans seraya merapatkan tubuhnya ke dinding.
"Kenapa aku tidak sadar jika candaan Rio selama ini adalah ungkapan perasaannya? Sahabat macam apa aku ini, sampai sahabatnya sendiri mencintai wanita yang sama pun tidak tahu!"
Ada rasa bersalah di hati Frans, karenanya sang sahabat hidup dalam kesepian tanpa cinta.
Sementara itu, di ruangan lainnya. Rahma sibuk mencari suaminya yang tidak kembali ke kamar setelah pamit ke dapur. Rahma pun mencari sang suami sambil menggandeng tangan baby Ara yang sudah lincah berjalan.
"Kemana ini Papa kamu, Ara? Sejak tadi ditunggu kok malah ngilang!" ujar Rahma kesal.
Saat di di dekat ruang keluarga, tampak olehnya sang suami sedang bersandar pada dinding. Rahma pun langsung mendekati sang suami.
"Kenapa kakak nggak balik ke kamar lagi?" tanya Rahma heran.
"Ssstttt!" Frans meletakkan telunjuknya di bibir, kemudian membekap mulut sang istri ketika istrinya itu hendak membuka suara lagi.
Awalnya Rahma memberontak, namun karena rasa penasarannya dia pun akhirnya diam.
"Jangan berisik!" bisik Frans tegas walaupun dengan suara pelan.
"Hahaha... terima kasih atas perhatian kalian berdua. Sayang sekali aku sudah move on dan mencintai seorang gadis. Mungkin aku adalah lelaki bo*doh yang terlalu lama meratapi perasaannya yang bertepuk sebelah tangan. Sudah tahu bertepuk sebelah tangan itu tidak bisa dilakukan, aku tetap bertahan. Benar-benar bo*doh, bukan?" ucap Rio sambil tertawa, menertawakan kebo*dohannya.
"Boleh tahu tidak siapa wanita yang beruntung itu?" tanya Cecil mulai kepo.
"Kepo Lo!" potong Dolly sembari mendorong badan Cecil.
"Biarin aja, Bang Rio aja gak keberatan kenapa Abang Dolly keberatan?" ucap Cecil cemberut.
"Cewek itu kalian mengenalnya dengan baik kok, dia gadis yang cantik dan baik hati. Meskipun sedikit manja, tapi itulah daya tariknya," jawab Rio menengahi keributan abang dengan adiknya.
"Siapa dia, Bang? Kak Rahma sama Frans mengenalnya juga?" tanya Cecil sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban Rio.
"Kalian semua mengenali dia," sahut Rio membenarkan ucapan Cecil.
__ADS_1
"Mama sama Papa kenal juga, Bang?" tanya Cecil semakin penasaran.
Rio menjawab pertanyaan itu hanya dengan anggukan saja.
"Aaa... siapa sih? Cecil penasaran banget, kasih tahu dong!" rengek Cecil dengan manjanya.
Cecil mengayunkan lengan Rio tanpa berhenti sembari terus merengek, minta diberi tahu siapa perempuan yang telah membuat pria kulkas itu jatuh cinta.
"Hahaha..." Rio hanya terkekeh mendengar rengekan Cecil. Rio gemas sekali dengan tingkah Cecil yang seperti anak kecil. Saking gemasnya dan tidak bisa menahan diri lagi. Rio langsung memencet hidung Cecil sampai memerah.
"Aww... sakit, Abang!" jerit Cecil sembari memukul dada Rio.
Melihat sikap Rio terhadap Cecil dan sikap manja Cecil yang spontanitas, Dolly langsung tahu siapa perempuan yang telah membuat mantan calon adik iparnya itu.
Rio meninggalkan Rio dan Cecil berdua saja di ruangan itu. Saat meninggalkan ruangan itu, tak sengaja dia melihat pasangan suami istri sedang menguping.
"Untuk apa kalian di sini? Kalau penasaran dengan apa yang kami obrolkan, seharusnya ikut bergabung bukan menguping. Tidak pantas!" ucap Dolly tajam, dia sangat tidak suka dengan orang yang menguping. Siapapun itu.
"Ma, ayok matan. Ala lapen!" rengek Ara tiba-tiba.
"Maaf, Bang. Ara minta makan, Rahma ke belakang dulu," pamit Rahma pada abang iparnya.
"Hmm!" jawab Dolly masih tetap dengan tatapan tajam
Tanpa sepatah kata, Frans mengikuti langkah istri dan anaknya. Frans tidak berani melihat ke arah abangnya.
"Dasar tak tahu malu! Menguping satu keluarga ikut semua, ckck!" gumam Dolly kesal.
"Eh, mereka tadi dengar nggak ya? Kalau masa lalu Rio itu Frans? Aduuhhh, semoga saja mereka belum datang saat membahas masa lalu Rio. Hhhh!"
Dolly menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran buruk dalam otaknya.
Sementara itu di dapur, Frans sedang mengintrogasi sang istri.
__ADS_1
"Ma, kamu dulu dengan Rio sedekat apa sih?" tanya Frans tiba-tiba, tentu saja dengan raut wajah kesal.
"Nggak ada apa-apa, Pa. Kita temenan biasa, kek Papa sama dia. Terus mengerjakan tugas bersama, makan bersama teman-teman lainnya. Selalu ramai-ramai kok kalau pergi-pergi. Kalau nggak bisa ramai-ramai, ya bertiga sama Vani. Kenapa, hmm?" jelas Rahma heran, karena suaminya itu tiba-tiba menanyakan sesuatu yang biasa saja.
"Jawab yang jujur, Mama! Aku hanya ingin tahu dengan masa lalu kamu sebelum kita menikah. Itu saja!" ucap Frans dengan volume suara lebih tinggi dari pada tadi.
"Pa, sebenarnya tadi Papa mencuri dengar apa? Kenapa tiba-tiba menanyakan masa lalu yang begitu banyak meninggalkan kenangan sedih? Sebenarnya ada apa, Pa?" cerca Rahma tiada henti.
Rahma curiga ada hal penting yang tidak diketahuinya.
"Kenapa Frans tiba-tiba menanyakan hubunganku dengan Rio di masa lalu. Apakah wanita yang dicintai Rio diam-diam itu adalah aku?"
Pikiran Rahma pun menjadi melantur kemana-mana. Pikirannya sudah tidak fokus lagi. Bahkan Ara yang menjerit meminta makan pun tak terdengar oleh rungu Rahma.
"Mama! Matan, Ma,"
Ara terus merengek meminta makan, akan tetapi kedua orang tuanya malah berdebat di depan anaknya.
"Rahma!" teriak Frans seraya menarik lengan istrinya. Dia merasa kesal karena istrinya sejak tadi tidak menyahut ketika diajak berbicara.
Rahma tersentak kaget mendengar teriakan sang suami serta jerit tangis anaknya.
Teriakan Frans cukup kuat sehingga membuat Ara yang masih batita itu ketakutan. Lalu tumpahlah air mata bocah kecil itu disertai jeritan.
Rio dan Cecil yang saat itu sedang saling menatap langsung tersadar, dan lari ke arah sumber suara.
"Ada apa, Bang?" tanya Cecil pada abangnya.
"Tidak ada apa-apa!" jawab Frans masih dengan wajah emosi.
Dia tidak tahu kenapa, moodnya tiba-tiba berubah sejak mendengar jika Rio pernah mencintai istrinya. Apalagi Dolly dan Cecil menyalahkan dia, tanpa dia tahu apa masalahnya.
"Ada apa, Kak? Kenapa Ara tiba-tiba menangis menjerit ketakutan?" cerca Cecil pada kakak iparnya. Jiwa penasarannya tidak akan diam sebelum mendapat jawaban.
__ADS_1
"Kalau kalian mau ribut, sebaiknya jangan di depan anak kecil. Tidak hanya anak kecil, di hadapan orang lain itu tidak baik," ucap Rio lirih.
"Jangan sok tahu kamu! Kamu belum pernah berumah tangga, jadi kamu tidak tahu apa-apa. Jangankan berumah tangga, pacar saja kamu tidak punya. Sebaiknya kamu diam, tidak usah ikut campur!"