
Bram terduduk di pojok ruangan yang tak ada setitik cahaya pun, ruangan itu terasa dingin dan lembab. Laki-laki penuh lebam itu memejamkan matanya, ia berkali-kali menyebut nama Tuhannya meminta ampun atas apa yang ia lakukan.
Tiba-tiba terdengar derap langkah perlahan mendekati dirinya dan cahaya lampu pun terlihat dengan jelasnya mengiringi kedatangan laki-laki yang tak asing baginya, Mo Ryung.
Laki-laki tinggi besar itu, duduk jongkok didepan Bram, ia menatap tajam Bram. Tatapan yang begitu dingin dan menakutkan, seakan ruangan yang sudah dingin itu semakin terasa dingin.
"Puas kau Bram? Kau telah menghancurkan aku dan istriku, aku gak menyangka ternyata kau ******."
Istri? jadi Mo Ryung suami Anin, Mo Ryung yang kejam itu suaminya? pantas selama di Jakarta aku belum melihat tawa lepas Aninku yang dulu... karena ini... karena Mo Ryung suaminya. Aku akan menjagamu lagi Nin, bukan Dia. Aku akan mengembalikan senyummu lagi ... Anindiya.
"Suami macam ...?"
Sebelum Bram melanjutkan kata-katanya, Mo Ryung memukul wajah Bram dengan sangat keras hingga mengeluarkan darah.
"Apakah dengan ini, kau akan mendapatkannya? Kau Salah Bram."
"Tapi, dia mencintaiku" Ucap Bram, yang mendapat pukulan sekali lagi. "sebanyak apa pun kamu memukulku, itu tidak akan berubah." Ucap Bram yakin dengan apa yang ia katakan dan berbalik memandang Ryung seakan menantang.
Baru kali ini ada yang menatap Mo Ryung seperti itu, Tak banyak bicara Ryung memegang baju Bram, mengangkatnya dan menendang laki-laki yang lemas itu hingga terpental ke dinding dan Mo Ryung melangkah keluar.
__ADS_1
"Dia tetap disamping Anda, hanya karena Anda suaminya." teriak Bram dengan lemah, yang masih terdengar ditelinga Mo Ryung. Laki-laki itu berhenti dan terdiam, ia mendengar tawa Bram yang mengejek.
Tanpa mendengarkan Bram lagi ia melangkah pergi.
****
Matahari sudah di peraduannya, saat Lia membujuk Anin untuk makan, setelah sadar beberapa jam yang lalu. Gadis itu hanya terdiam melihat ke arah sahabatnya.
"jangan menatapku seperti itu Nin," larang Lia seraya meletakkan sendok dan piring diatas pangkuannya. "Oya ternyata suamimu bandel juga, Jung Su membujuk dia berjam-jam agar mau istirahat setelah menjagamu tiga hari tiga malam tanpa tidur dan makan." Celoteh Lia, yang tidak ada respon dari Anindiya.
Melihat itu, Lia menatap Anin dengan seksama. Dia melihat air mata yang menggenang di mata Anin yang sudah siap untuk terjun. "ada apa Nin?"
Lia menggosok punggung temannya, "ada apa Nin?"
"Dia merenggut semuanya dariku Lia..." tangis Anin yang semakin pecah, mendorong Lia untuk melepaskan pelukannya.
"Apa maksudmu Nin?" Tanya Lia penasaran dengan menggoyang-goyangkan tubuh Anin dengan sedikit keras.
"Dia... memperkosaku." kata Anin sambil menunduk
__ADS_1
"Bagaimana mungkin, Bram orang baik Nin..
dan dia juga sangat memegang teguh agamanya."
Anin menjawab Lia dengan gorengan dan masih dengan air mata yang bercucuran.
"Aku kotor Lia..."
"Kamu beneran Nin?"
"Aku gak tahu Lia, setelah ia memasukkan obat ke mulutku, aku remang remang melihat dia memciumi sekujur tubuhku."
"Ya Tuhan... Nin.."
Tanpa mereka sadari, Mo Ryung mendengar itu semua. Serasa kiamat kedua bagi Mo Ryung, ia menutup pintu perlahan dan duduk dikursi panjang rumah sakit.
Mo Ryung tidak berani memikirkan hal itu, ketika melihat Istrinya telanjang. Tetapi sekarang ia mendengar langsung dari Anindiya, entah itu berlanjut atau tidak, tapi seorang laki-laki tidak akan mungkin bisa mengendalikan dirinya, jika melihat tubuh putih nan seksi milik Anindiya.
apa yang berlaku padaku hari ini? wanita yang paling aku cintai, mendapat perlakuan seperti ini. Sungguh aku gagal melindungi dirinya... Maafkan aku....
__ADS_1