
Matahari pagi hari terasa hangat masuk ke dalam kamar Mo Ryung yang masih berselimut mimpi bersama istrinya.
Anindiya menggeliat saat sang surya menyentuh wajahnya. Wanita yang sekarang sudah sepenuhnya milik suaminya itu, menatap takjub pada laki-laki yang ada didepannya.
kenapa kau begitu baik kak... Tuhan... nikmat mana lagi yang harus aku dustakan setelah sepeninggal ayah, ibu tiri yang mengusirku dan mengambil semua harta orang tuaku sekarang kau ganti dengan suami yang sangat menyayangiku dan harta yang tak ternilai harganya. Kau begitu adil Tuhan... terima kasih.... rasa syukur selalu aku panjatkan padamu.
Anindiya beranjak turun dari tempat tidur dan segera membersihkan dirinya, meskipun sedikit rasa sakit ada pada dirinya, ia harus menyiapkan sarapan untuk suami tercinta.
Anindiya bergegas ke dapur setelah selesai membersihkan diri, betapa kagetnya ia melihat sosok wanita yang sangat dikenalnya duduk dengan memegang ponsel.
"mama...." sapa Anindiya pada mertuanya
"hei... udah bangun...." kata mama Ryung seraya memeluk erat menantunya. "ehm... ada bau-bau segar apa ini?" tanya mama agak centil. "Mo Ryung sudah buat jalan ya..." goda mama.
Mendengar perkataan mamanya itu, muka Anindiya langsung memerah, ia tersipu malu dengan pernyataan mertuanya yang to the point. "syukurlah, bentar lagi mama punya cucu." ucap mama Ryung lagi.
"berisik apa ini?" sahut Jung Su yang baru datang.
"mau tau aja anak kecil." celoteh mamanya sambil nyentil kening putra kesayangannya itu.
"aku udah gede ma.... kan mama aku minta kesini untuk ngelamar Lia" ucap Jung Su
"kamu beneran ama Lia, Jung?" sahut Anin seraya memilih milih sayur yang akan diolahnya.
__ADS_1
"biasa aja kali Nin.... ni semua berkat kamu, makasih ya..."
"kok aku??" tanya Anin bingung
"ya... semenjak lika liku kamu sama kakak, aku jadi deket sama Lia." senggol Jung Su
"jangan sentuh kakakmu, ia milikku sekarang." sahut Ryung yang turun dan langsung memeluk Anin dari belakang.
"cie...cie... jangan mengumbar kemesraan gitu dekat mama, nanti mama kawin lagi baru tahu kalian." oceh mama Ryung.
"jangan ma..." larang Ryung dan Jung Su barengan yang membuat Anin tertawa.
"gimana kalo sarapan di resto bu Mirna aja, masakannya gak kalah enak sama Anin kok ma."
***
Suasana pagi di resto bu Mirna memang gak seramai kalo makan siang, itu membuat Anindiya dan keluarganya merasa agak nyaman.
"Anin..." sapa Bu Mirna seraya memeluk asisten kokinya itu, "siapa nak?" tanya bu Mirna saat melihat rombongan keluarga Anin datang. Anin mengenalkan semua anggota keluarganya pada bu Mirna tak terkecuali Mo Ryung suaminya. "oh... silahkan silahkan..."
Kemudian bu Mirna bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan mereka, Anin membuntutinya dari belakang dan membantu bu Mirna menyiapkan.
"duduk saja disana nak..." larang bu Mirna
__ADS_1
"makasih ya bu.... atas semua nasehatnya, aku gak tahu harus berbuat apa kalo gak ada ibu." kata Anindiya seraya matanya berkaca-kaca.
"itu berkat dirimu sendiri dan Tuhan nak... bukan ibu, ibu hanya perantara Tuhan saja."
kata bu Mirna seraya memeluk Anin. "kembali kesana nanti kalo disini ibu tambah cengeng lagi."
Dengan langkah ragu Anin melangkah pergi dari dapur menuju keluarganya sedang berkumpul.
"Anin..." teriak Lia yang melihat Anin seraya lari menghampiri wanita itu
"kamu kemana aja ha... aku kangen banget." peluk Lia
"jangan lebay... tu ditungguin calon suami kamu."
"ih... kamu bisa aja, semuanya udah selesai kan Nin?"
"udah, terima kasih ya... semua berkat doa mu." kata Anin sambil tersenyum
"udah donk reuniannya, aku kangen sama pacarku." teriak Jung Su
Dan mereka pun sarapan bersama di resto bu Mirna, dengan penuh canda tawa dan seperti biasanya Ryung hanya tersenyum simpul mendengarnya.
*terima kasih Tuhan... telah mempersatukan aku dengan kak Ryung lagi... Semoga ini semua menjadi awal yang indah bagi kita semua.
__ADS_1
kak Ryung... aku sungguh mencintaimu.... terima kasih kau tak pernah lelah untuk menggapai cintaku* 😉