Menggapai Cinta

Menggapai Cinta
Dengarkan Hatimu


__ADS_3

"ada apa Nin?" Tanya Bu Mirna saat melihat gadis berkuncir disebelahnya berhenti melangkah.


Pandangan Anindiya tetap terpaku pada sosok lelaki tampan bak artis korea, yang sekarang melangkah sempoyongan berusaha membuka pintu mobilnya. Ya... dia Mo Ryung, suami yang baru ia bicarakan dengan bu Mirna


Dua laki-laki tinggi besar masih berada di belakangnya, mereka mencoba melarang Mo Ryung untuk tak pulang terlebih dahulu. Tapi Mo Ryung menolak, dan terus berusaha membuka pintu mobilnya.


"kak Ryung" teriak Anindiya seraya berlari mendekati Mo Ryung ketika melihat tubuh suaminya hampir jatuh ke tanah, untung dua orang tadi sigap menangkapnya.


"kak Ryung" Panggil Anin kemudian mengambil kunci dari tangan Mo Ryung. Ia hanya melirik Anindiya dan berusaha berdiri.


"mbak siapa?" tanya salah satu bodyguard itu.


"aku istrinya, tolong bantu aku untuk masukkan suamiku ke mobil." kata Anin tanpa ragu.


"baik mbak." jawab dua laki-laki berpakaian itu hampir bersamaan.


"dia suamimu?" tanya Bu Mirna yang sekarang telah di dekat Anin

__ADS_1


"iya bu..." jawab Anin lemah, "mari masuk bu, saya antar ibu pulang, kemudian saya akan mengantarnya."


"tak perlu nak"


"aku mohon bu, jangan menolak" pinta Anin yang kemudian membukakan pintu depan untuk bu Mirna dan ia pun duduk di kursi pengemudi.


Mo Ryung terkapar di kursi belakang mobil, sesekali ia merubah posisinya.


"kenapa aku tak pantas untukmu.... kenapa??? apa dia jauh lebih baik??? apa usahaku tak berarti dalam menggapai cintamu Nin???" Mo Ryung mengoceh sendiri dan meneteskan air matanya. Ia berbicara dengan lemah tak berdaya "aku mencintaimu.... sangat mencintaimu."


Air mata gadis dibelakang kemudi itu menetes tanpa permisi, sesekali Anin mengusapnya perlahan. Betapa ia sanagt jahat membuat Mo Ryung lelaki yang tegar, tampan dan bijaksana itu menjadi seorang pemabuk.


Akhirnya sampai juga didepan rumah Bu Mirna.


"bermalamlah disini, ibu takut terjadi apa-apa jika kau menyetir dalam kondisi seperti itu."


"terima kasih bu." tolak Anin "aku takut, keluarganya khawatir. aku akan antar dia pulang."

__ADS_1


"hati-hati nak, pikirkan baik-baik dengan langkah yang kau ambil. Kesampingkan egomu dan dengarkan hatimu" kata Bu Mirna kemudian keluar dari mobil.


"bu..." panggil Anin yang membuat bu Mirna berhenti membuka pintu. "terima kasih"


Hanya senyuman yang didapat Anindiya, kemudian bu Mirna pun pergi dan masuk kedalam rumahnya.


Anin segera menjalankan mobilnya, pergi ke rumah Mo Ryung yang dulu pernah ia tempati. Sepanjang perjalanan kata-kata bu Mirna dan Mo Ryung yang tak sadar itu terngiang-ngiang dikepalanya.


Sesampainya di rumah minimalis berlantai dua itu, hujan pun turun dengan lebatnnya. Segera ia keluar mengambil payung dan membuka kode kunci pintu rumah Mo Ryung. Sebelum selesai, pintu itu sudah terbuka.


"nak Anin!" sapa lelaki separuh baya, yang tak lain adalah Pak Bimo. "masuk nak..."


"tolong bantu aku memapah kak Ryung, Pak" pinta Anin segera.


Kemudian mereka berdua memapah Ryung yang memang berbadan tinggi besar itu. Dengan segera meletakkannya dikamar tidur lantai dua milik Anindiya dan Ryung.


"aku buatin teh hangat sebentar." izin pak Bimo yang langsung pergi ke dapur.

__ADS_1


"apa yang terjadi padamu kak Ryung? kau memintaku agar tidak melakukannya lagi, tapi kenapa justru kau yang menyiksa dirimu seperti ini?" ucap Anin dalam hati


__ADS_2