
Malam itu, Anindiya masih berada di dekapan Mo Ryung yang sekarang sudah tertidur pulas. Gadis itu berusaha melepaskan pelukan Ryung dan menggantinya dengan guling. Kemudian ia meninggalkan Mo Ryung sendirian di kamar bernuansa putih.
Anindiya berjalan menuruni tangga dan duduk di sofa tepat didepan layar tv. Ia setengah merebahkan badannya dan meletakkan kakinya diatas sofa.
"nak Anin..." panggil pak Bimo mengagetkan dirinya. "bagaimana nak Ryung?"
"tadi sempat muntah, tapi sekarang, dia sudah baikan." seraya menurunkan kakinya dan duduk tegak di sofa.
Pak Bimo yang tadinya berdiri sekarang duduk disebelah Anindiya.
__ADS_1
"apa kak Ryung sering minum seperti ini pak?" tanya Anin mulai membuka pembicaraan dengan pak Bimo yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri.
"awalnya tidak nak, Nak Ryung bekerja siang malam sampai-sampai dia hanya tidur 2 atau 3 jam sehari. Saat bapak bertanya, dia hanya menjawab lebih baik seperti ini pak, aku bisa melupakannya." Pak Bimo berhenti sejenak menarik nafas panjang.
"Baru kali ini, bapak melihat ia begitu mencintai seseorang. Bahkan sampai minum-minuman keras yang sangat ia benci, hanya untuk bisa melupakan dirimu nak. Tomi selalu mendampinginya siang dan malam, ia takut terjadi apa-apa dengan tuannya. Dia sudah menghubungi nak Jung Su tapi pekerjaan di Johor tidak bisa ia tinggalkan. Sempat waktu itu nak Jung Su datang, ketika nak Ryung melepaskan Bram tapi seketika itu juga ia harus kembali ke Johor, Akhirnya ia meminta Tomi untuk menjaga kakaknya siang malam.Tapi kali ini nak Tomi jatuh sakit dan nak Ryung sepertinya lepas kendali hingga pulang tak sadarkan diri seperti ini."
"Melepaskan Bram?" Tanya Anindiya kaget
Mendengar itu, Anindiya terdiam dalam hati ingin sekali ia kembali ke Mo Ryung apalagi suaminya sekarang rapuh seperti itu, tapi ia tidak boleh egois karena Ryung berhak mendapatkan orang yang jauh lebih baik dari pada dia.
__ADS_1
"Karena masalah itu, kau tak bisa kembali padanya. nak... dengarkan bapak baik-baik, keperawanan itu memang sangat penting bagi semua orang baik wanita dan laki-laki. Sedangkan sebuah pernikahan tidak hanya berlandaskan itu, tapi Cinta, tanggungjawab dan kesetiaan. Kau kehilangannya bukan karena kau tak setia, tapi itu adalah sebuah kecelakaan."
"Jika suatu hari nanti kak Ryung mengungkitnya?"
"Maka nak Ryung tidak akan bersikap seperti ini sekarang, tapi ia akan mencari wanita perawan untuk dinikahi."
Kata-kata itu begitu mengena di benak Anindiya hingga ia tak bisa berucap lebih banyak lagi.
"Kau mencintainya?" Tanya pak Bimo yang menatap Anindiya dengan seksama. Setelah ia menemukan jawaban dari mata gadis yang sekarang meneteskan air mata itu, Pak Bimo berlalu pergi "beristirahatlah nak..." seraya menepuk pundak Anin
__ADS_1
Matahari telah menyinari bumi, saat lelaki yang tertidur pulas itu terbangun. Ia membuka matanya dan melihat apa yang ada di peluknya, hanya sebuah guling panjang berwarna hijau senada dengan sprei tempat tidurnya.
"ternyata semua itu hanya mimpi.. " ucap Ryung dalam hati saat mengingat kejadian semalam. "tapi semua tampak nyata, seandainya kau ada disini Nin.... aku pasti akan melakukan hal yang sama seperti tadi malam, bedanya aku tak akan tidur agar kau tak lepas lagi."