Menggapai Cinta

Menggapai Cinta
obat perangsang


__ADS_3

Anin sekarang yang membungkuk dan membalas ciuman Mo Ryung yang tak ada ada habisnya itu, bagaimana mungkin hasrat birahinya tidak terpanggil saat mendapat ciuman seperti itu. Anin hanyalah wanita biasanya yang memiliki hasrat juga.


Rambut Anindiya yang hanya di kuncir setengah itu jatuh menutupi kedua wajah mereka. Seolah menutupi tindakan dua insan itu dari pandangan Tomi yang masing lajang.


Perlahan Anindiya melepaskan ciuman itu, ia membetulkan posisi suaminya agar terasa nyaman berbaring di pangkuannya.


"lebih cepat Tom..." pinta Anin


Sekarang laki-laki yang masih dibawah pengaruh obat itu, memeluk pinggang Anindiya yang membuat tubuh Anindiya bergetar tak karuan, serasa darah yang ditubuhnya naik dengan begitu cepat.


Laki-laki itu pun membenamkan wajahnya ke perut Anindiya dan sesekali menciuminya. Tangan Mo Ryung pun mulai bereaksi menyentuh kemana-mana, dengan sigap Anindiya memegang tangan kekar suaminya.


"kak... tahanlah sebentar..." bisik gadis itu


Beberapa menit kemudian Ryung sudah tidak bergerak lagi, sepertinya reaksi obat itu mulai memudar.


Setiba di rumah Mo Ryung, lelaki yang masih lemas itu langsung diambil alih oleh Tomy dan Pak Bimo, mereka berdua memapahnya ke kamar tidur dan meletakkannya di tempat tidur.

__ADS_1


"sebaiknya Anda disini nyonya, berjaga-jaga klo tuan Mo membutuhkan sesuatu." pinta Tomi.


"Tom... tunggu, sampai kapan dia akan seperti ini?"


"saya kurang tahu nyonya tapi sepertinya reaksi obatnya sudah mulai mereda, Anda jangan khawatir."


Kemudian Pak Bimo dan Tomi pun segera keluar dari kamar Ryung. Mereka meninggalkan Anin berduaan dengan Mo Ryung.


"Nin..." panggil Mo Ryung dengan suara agak parau. "antarkan aku ke kamar mandi"


"ya kak... " jawab Anindiya langsung memapah suaminya ke dalam kamar mandi, laki-laki kekar itu merasakan panas ditubuhnya mulai memuncak lagi, hasrat birahinya mulai muncul tak terkendali. Ia langsung membuka penutup matanya masuk kedalam bathtub dan menyalakan air dingin.


"apa harus seperti ini kak?" tanya Anin yang khawatir terhadap kondisi suaminya. Mo Ryung tak menjawab apa-apa ia hanya diam. Setelah bathtub itu penuh, Anin diminta keluar oleh Ryung, dan laki-laki itu menenggelamkan dirinya disana.


Mo Ryung merasa sangat nyaman, dan gairah seksnya pun mulai menghilang. Sedangkan Anin diluar mondar mandir kayak setrikaan, ia bingung harus berbuat apa. Ia sangat mengkhawatirkan Mo Ryung, ni sudah malam jika terus berendam dengan air dingin bisa-bisa ia sakit.


Anin mengutak atik ponselnya ia mencoba untuk menghubungi dokter Azril, dia dokter keluarga Ryung sekaligus sepupunya.

__ADS_1


"halo dok...ni aku Anin"


"bagaimana kabarmu Nin... aku dengar..."


"maaf dok... ni genting, bicaranya nanti ya..." potong Anin segera "dok... cara ngilangin efek obat perangsang yang mujarab gimana ya?"


"ow... ya tinggal dikeluarkan saja hasratnya. Emang siapa Nin?"


"kak Ryung..."


"nekat bener tu bocah, sampe minum begituan. Tenang aja Nin, kamu tinggal tidur dengan dia semuanya beres." jawab Azril enteng


"apa..?" teriak Anin


"emang kenapa?" tanya Azril kemudian sebelum Anin menjawab pertanyaan Azril, Mo Ryung teriak dari dalam kamar mandi, ia memanggil manggil Anindiya.


"gak papa dok, makasih ya...." kata Anin sambil sedikit cengengesan.

__ADS_1


Gadis berambut ikal yabg rambutnya sedikit berantakan itu berlari kekamar mandi, ia langsung mendekat ke suaminya.


"kakiku kram..." kata Ryung yang masih didalam bathtub


__ADS_2