
"Mbak, ada seterika yang bagus tapi murah, nggak?" tanya seorang ibu paruh baya bersama anak gadis cantik berhijab pada karyawan toko elektronik.
"Mana ada harga murah dengan barang bagus. Yang ada itu ya Bu, harga murah untuk barang murahan!" sahut karyawati itu julid.
"Lagian ya, Bu! Kalau nggak punya uang nggak usah belanja," lanjut karyawati tersebut.
"Kamu menghina saya? Kalau saya cari harga murah bukan berarti saya tak ada uang! Saya hanya ingin menghemat pengeluaran. Itu saja!" sahut bu Santi, mamanya Mia.
Rio yang kebetulan baru saja masuk ke toko, merasa penasaran mendengar keributan. Rio pun mendekati suara orang ribut di dalam tokonya.
"Ada apa ini, Sya?" tanya Rio pada karyawannya.
"Eh, Pak Rio! Ini, Pak. Ibu ini minta rekomendasi harga murah tapi barangnya kualitas bagus. Saya jawab mana ada, harga itu menyesuaikan kualitas. Lah, Ibu ini malah marah," adu Tasya, tanpa berani menyebutkan kejadian yang sebenarnya.
Rio mengangguk mendengar penjelasan dari karyawannya itu. Sedangkan tampak kemarahan di wajah bu Santi karena ulah sang karyawan.
"Tante Santi ingin beli apa?" tanya Rio kemudian, sembari menatap wajah tetangga tersebut.
"Mau beli seterika yang kualitasnya bagus, Nak Rio," jawab bu Santi ramah.
Rio pun menyuruh Tasya untuk mengambilkan barang sesuai permintaan bu Santi.
__ADS_1
"Ini, Tan. Barangnya saya cek dulu ya, biar kita sama-sama enak nanti," ucap Rio seraya menunjukkan sebuah seterika pakaian. Rio mencolokkan kabel ke stop kontak, tak lama kemudian lampu indikator seterika tersebut menyala.
"Coba dipegang sudah panas, kalau panas berarti bagus!" ucap Rio tiba-tiba, dengan telapak tangan mera ba elemen seterika tersebut.
"Sudah hangat ya, Tan? Bagaimana jadi ambi yang ini?" tanya Rio dengan ramah.
"Iya, Tante ambil yang ini saja. Berapa harganya?"
"Lima ratus ribu, Tante. Berhubung Tante adalah tetangga satu kompleks, Rio diskon menjadi tiga ratus ribu saja," ucap Rio dengan senyum ramah.
Bu Santi dan anaknya pun meninggalkan toko setelah selesai melakukan pembayaran.
Rio hanya mengerutkan keningnya, mendengar tawa Tasya, seolah-olah bertanya kenapa.
"Melakukan penipuan! Buahahaha..." tawa Tasya pecah diikuti karyawan yang lainnya.
Beberapa karyawan tadi melihat bagaimana kejadian tadi, sehingga sedikit banyak tahu.
"Bukan dosa! Itu tadi trik berdagang, agar pembeli merasa dianggap ratu. Kalian jangan terlalu cepat marah jika melayani pembeli yang gila diskon," sahut Rio membela diri.
"Iya juga ya, Pak. Toko tetap tidak menanggung kerugian yang banyak. Seterika yang aslinya seharga tiga ratus tiga puluh ribu menjadi tiga ratus ribu itu suatu hal yang wajar," sahut karyawan lain yang berada di sana.
__ADS_1
"Lain kali kalian gunakan akal, agar pembeli lebih sering berbelanja disini. Dan puas dengan pelayanan kalian tentunya," pesan Rio sebelum keluar lagi dari toko.
Rio berjalan menuju motornya, dia ada janji dengan laki-laki yang menyatakan cintanya pada Cecil. Rio jadi melupakan apa yang akan dilakukan di toko tadi. Dia hanya datang melayani bu Santi, padahal ada suatu hal penting yang akan dilakukannya.
Rio sampai di kafe tempat perjanjian mereka. Rio langsung masuk begitu saja karena Cecil sudah mengirimkan pesan jika dia dan cowok itu sudah berada di dalam kafe.
"Bang!" panggil Cecil begitu melihat Rio memasuki kafe, dia melambaikan tangan setelah Rio melihat ke arahnya.
Rio pun mendekati kedua orang tersebut.
"Hai, sudah lama? Maaf telat!" ucap Rio begitu berdiri di dekat kursi Cecil.
"Tak apa, Bang. Baru beberapa menit kok," sahut Cecil dengan senyum ramahnya.
"Oh, iya. Kenalin Bang, ini Devan. Orang yang aku ceritakan beberapa waktu yang lalu," lanjut Cecil memperkenalkan kedua laki-laki yang dekat dengannya.
Kedua lelaki itu saling bersalaman dengan menekan kuat telapak tangan lawan. Keduanya sama-sama ingin menunjukkan berhak berada di sisi Cecil.
"Bang Rio mau pesan makan apa? Langsung pesan saja, kafe ini milik Devan kok," ucap Cecil begitu Rio dan Devan duduk di tempat masing-masing.
"Uhukk..."
__ADS_1