
Pagi itu Mo Ryung memutuskan untuk menemui Bram yang masih di ruang bawah tanah, dengan langkah kakinya yang mantap ia membuka pintu dan menghidupkan lampunya.
"Bagaimana Bram.... kau sudah menyadari kesalahanmu?" Kata Ryung mendekati Bram yang terikat di kursi kayu kemudian duduk di kursi tepat didepan Bram.
"Aku tidak akan pernah menyesalinya pak... aku mencintainya dan aku yakin dia akan kembali kepadaku."
Mendengar ocehan Bram, Mo Ryung hanya tersenyum tipis. "perbuatan asusilamu itu kau sebut itu cinta?"
"ya pak Mo, saya memang hampir menghancurkan Anindiya tapi saya sadar itu bisa menodai cinta saya padanya."
"jadi..."
"saya berani bersumpah, saya tidak melakukan hal itu pada Anindiya. Saya sangat mencintainya dan saya tidak mau menodai dia."
Mendengar penjelasan Bram, Mo Ryung seperti tak percaya pada Bram. Tapi jika itu memang benar, Mo Ryung sangat bersyukur karena Anindiya masih mendapat perlindungan dari Tuhan.
"Apa yang bisa kau berikan padanya Bram?"
__ADS_1
"Semuanya pak Mo, terutama senyuman yang tak pernah kau berikan padanya."
Mo Ryung terdiam dengan perkataan Bram, laki-laki itu memang benar Mo Ryung hanya menambah tangis Anindiya sedangkan Bram berkali-kali membuatnya tersenyum.
Mo Ryung teringat senyum merekah Anindiya saat bersama Bram baik di ruangan maupun di kantin kantor bahkan saat ia melihat Bram berbisik mesra pada istrinya. Dan Anindiya menyambutnya dengan gelak tawa bebas tanpa ada yang ditahannya.
"Kau yakin bisa membuatnya bahagia?"
"Tentu Pak Mo, aku berani bersumpah, Anin akan selalu bahagia bersamaku." Jawab Bram lugas.
Mendengar itu, Mo Ryung beranjak dari tempat duduknya. "Pergilah Bram dan buat Anindiya bahagia." Kata-kata itu tiba-tiba membuat Bram melongo mendengarnya.
Apa benar pak Mo melepaskan aku begitu saja....dan menyerahkan Anindiya padaku? pikir Bram
"cepat pergi dari sini Bram... sebelum aku berubah pikiran. Aku bukan orang baik, aku hanya ingin istriku bahagia."
Mo Ryung segera pergi meninggalkan ruang gelap itu, ia segera masuk kedalam rumah dan bersandar pada sofa empuknya.
__ADS_1
"tuan Mo... Bram..."
"Biarkan dia pergi Tom... " potong Mo Ryung sebelum Tomi, asistennya berkata lebih banyak lagi.
"tapi tuan... bukankah dia akan menyakiti nyonya lagi jika dia keluar dari sini" khawatir Tomi pada Anindiya
"dia tidak akan menyakiti Anindiya, aku jamin." kata Ryung dengan menghela nafas panjang.
Tomi masih berdiri di dekat tuannya yang menyandarkan kepala di sofa, laki-laki itu menahan sedih, amarah dan tidak berdaya dirinya atas kejadian ini.
*Anindiya.... aku telah melepaskan mantan kekasihmu... aku harap kau bahagia dengan apa yang aku lakukan... Sebenarnya Bram bukan laki-laki brengsek tetapi ia terlalu ambisi untuk bisa mendapatkanmu kembali. Cintanya padamu mengalahkan akal sehatnya.
Dimana pun kau berada, maafkan aku Nin... dan aku selalu berdoa atas kebahagiaanmu.
Kau bilang doa suami itu mujarab, aku harap itu masih berlaku padaku, meskipun aku sudah bukan suamimu*.
Air mata Mo Ryung kembali menetes, lelaki yang dulunya jarang bahkan tidak pernah menangis itu, semenjak kepergian Anindiya sering sekali meneteskan air matanya.
__ADS_1
"aku harus melakukan sesuatu untuk Pak Mo" Ucap Tomi dalam hati ketika melihat tuannya yang sekarang berubah jadi melankolis, dia lebih senang melihat tuannya tegas seperti dulu.