
"Nin..." Sapa seorang wanita sawo matang yang membuka pintu kamarnya. Melihat itu, Anin segera menyembunyikan surat yang akan ia tanda tangani. "Apa itu Nin?" Tanya Lia segera menyahut kertas yang disembunyikan sahabatnya itu. "Apa kau sudah tidak waras? Kau akan bercerai dengan Pak Mo?"
"Mungkin ini yang terbaik Li..."
"Jujur sama aku Nin... Pak Mo apa Kau yang meminta ini?"
"aku yang memintanya."
"Sungguh luar biasa..." Ucap Lia tak percaya.
"Lia... bagaimanapun aku tak bisa hidup dengan Kak Ryung, dia begitu baik dan sempurna. Dia lebih pantas mendapatkan orang yang juga istimewa dan sempurna." Ucap Anin meminta pengertian sahabatnya.
"Tapi Nin... bagaimana dengan cintamu? apa kau merelakannya?"
"asal kak Ryung bahagia bersama pendampingnya... cintaku akan selalu mendukungnya."
***
Hari hampir pagi, ketika Mo Ryung pulang bersama Tomi. Laki-laki itu terlihat lelah dan tak bersemangat. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar di lantai dua, membuka kamarnya dan tidak menemukan siapa-siapa.
__ADS_1
"Nak Anin sudah pergi, nak..." Ucap Pak Bimo yang tiba-tiba masuk ke kamar Ryung. "Ia hanya menitipkan ini dan meminta maaf pada kamu Nak..." seraya memberikan amplop yang bertuliskan Untuk Kak Ryung.
Setelah menyerahkan surat itu, Pak Mo pun pergi dengan Tomi yang malam itu menginap.
Ryung duduk dipinggir tempat tidur dan perlahan membuka amplop yang berisi dua lembar kertas.
Lembar pertama adalah surat permohonan cerai yang sudah ditandatangani Anin, dan yang kedua adalah surat dari Anin untuknya. Terlihat tulisan nan rapi dan bagus.
*Salam Kak Ryung
Kak... Maaf,
Kakak pantas mendapatkan gadis yang cantik, baik dan layak.
terima kasih atas semua yang telah kau berikan padaku, beberapa bulan ini aku cukup senang dan bangga bisa berdamping denganmu.
Salam Anindiya*
Surat yang singkat itu, membuat Ryung terhempas di atas tempat tidur, ia tak habis fikir secepat ini istri yang dipinangnya lima bulan yang lalu akhirnya pergi dari dirinya. Janjinya pada paman Anin tak bisa ia wujudkan.
__ADS_1
Mo Ryung memejamkan matanya, yang tak terasa tetesan air mata membasahi pipi mulus laki-laki berusia 34 tahun itu.
***
Gadis manis berlesung pipit itu duduk di taman komplek dengan mencari-cari info rumah kontrakan atau kamar kos untuk ia tempati. Ia terus mengutak atik ponselnya yang akhirnya menemukan kamar kos yang cukup sederhana.
Ia mulai memesan taxi online dan menunggunya di pinggir taman, tak berapa lama ia menunggu tiba-tiba ada seorang wanita setengah baya yang memegang kepalanya dan berjalan sempoyongan. Dengan segera Anin mendekati wanita itu.
"ibu kenapa? sakit?" Tanya Anindiya dengan mencoba mengangkat wanita itu dan mendudukkannya di kursi.
"aku agak pusing nak.. "
"rumah ibu dimana? biar aku antar pulang." tawar Anin. Tak lama kemudian taxi online itupun muncul, ia meminta tolong membawakan tas ranselnya untuk ditaruh dibagasi. Kemudian ia meminta tolong mengantar ibu itu pulang terlebih dahulu kemudian ke tempat kos.
Tak selang berapa lama, mereka pun sampai di sebuah rumah agak besar nan asri bercorak suku betawi. Anin memapah wanita itu kedalam.
"tinggalah disini sebentar, sebelum putraku datang." Minta ibu itu, sebenernya Anin juga tak enak hati meninggalkan ibu itu sendirian.
"Baiklah bu..." Jawab Anin yang kemudian mengambil tas ranselnya di taxi dan membayarnya serta minta maaf pada sopir taxi karena dia tidak jadi melanjutkan perjalanan.
__ADS_1