
Hujan petir menggelegar malam itu, kilat beberapa kali menampakkan wajahnya yang membuat Anin sedikit bergidik takut.
Gadis yang bajunya sedikit basah saat memapah Mo Ryung tadi, sekarang melepaskan sepatu dan kaos kaki Mo Ryung perlahan. Kemudian ia membuka jas lelaki yang masih tertidur dengan telungkup itu dengan perlahan. Dan mencoba membalikkan badan Mo Ryung, melonggarkan dasinya dan meletakkan kepala Mo Ryung diatas bantal, menyelimuti lelaki yang masih belum sadar itu.
"nak..." sapa Pak Bimo dengan membawa secangkir teh hangat.
"terima kasih pak." Anin meminumnya perlahan
"ganti bajumu dulu nak, nanti masuk angin loh." suruh pak Bimo yang melihat Anindiya sedikit menggigil kemudian beliau mengecilkan AC ruangan biar terasa lebih hangat. "baju nak Anin masih lengkap di tempat biasa."
"terima kasih pak Bimo." kemudian Anindiya menuju kamar mandi sekalian mengganti bajunya.
Setelah selesai, Anin segera bergegas keluar kamar mandi. Tetapi saat membuka pintu kamar mandi, tiba-tiba lelaki tinggi seperti artis korea itu berdiri disana tangannya akan membuka pintu. Anindiya terdiam, Mo Ryung memegang kepalanya serta tertunduk.
__ADS_1
Jantung Anindiya seakan mau loncat, "aduh... bagaimana ini? dia terbangun." Pikir Anindiya. Suara dag dig dug jantungnya semakin terpacu saat Mo Ryung mendongakkan kepalanya dan memandang Anin samar-samar.
Mo Ryung melangkahkan kaki ke dalam kamar mandi dengan sempoyongan, ia menyibakkan tangannya sebagai tanda agar Anindiya minggir.
Gadis itupun minggir tak bersuara dan langsung keluar kamar mandi begitu Mo Ryung melewatinya.
Anin mengambil nafas panjang dan keluar. "uh... lega rasanya, ia tak respon sama sekali." pikir Anin.
Terdengar dari luar, lelaki itu memuntahkan semua isi perutnya. Hingga Anin tak tega mendengarnya kemudian ia melangkah pergi menjauh dari kamar mandi. Tapi tiba-tiba gubrak... suara dentuman terdengar dari dalam, dengan reflek Anin membuka pintu kamar mandi dan melihat Mo Ryung sudah terduduk lemas di depan kloset.
Anin melepaskan kemeja Ryung yang basah, dan menggantinya dengan kaos polos berwarna biru. Mo Ryung menatap Anindiya dengan seksama. Ia terus memandanginya hingga Anindiya tertunduk tak berani melihat mata coklat lelaki itu.
Kemudian memapah laki-laki itu ke tempat tidur dan menidurkannya.
__ADS_1
Saat Anin bertolak, Mo Ryung menarik tangan Anin hingga gadis itu terjatuh tepat diatas Mo Ryung.
"aku mohon jangan bergerak Nin, aku tidak mau bangun dari mimpi ini. Tetaplah seperti ini untuk beberapa waktu. Aku sungguh merindukanmu .... Terima kasih Tuhan... telah mempertemukan aku dengan Anin meskipun hanya didalam mimpi." Bisik Mo Ryung pelan tapi masih terdengar di telinga Anindiya. Ia memeluk Anindiya dengan sangat erat hingga Anin sulit untuk bernafas leluasa.
Mo Ryung menggulingkan badannya, hingga Anin sekarang tepat disamping dan menghadapnya. Anin hanya melihat lelaki itu, ia tak berani berkata apa-apa.
Mo Ryung menyisipkan rambut Anin yang didepan wajahnya ke belakang telinga. Ia mengelus wajah putih mulus tanpa jerawat milik Anindiya.
"Mengapa mimpi ini terasa nyata Nin?" Tanya Mo Ryung yang air matanya mulai menetes.
Melihat itu, Anindiyapun meneteskan air matanya. Bagaimana tidak, apa yang terjadi pada suaminya sekarang itu adalah akibat kesalahannya.
"maafkan aku kak..." kata Anin dengan mengusap air mata suaminya. Kemudian memeluk Mo Ryung dengan erat dan membenamkan wajahnya di dada bidang milik Ryung.
__ADS_1
Lelaki itu mengangkat wajah Anin, mengusap air mata gadis pujaannya itu dan mengusap bibir merah milik istrinya. "aku mencintaimu." kata Ryung yang kemudian mencium kening istrinya dan memeluknya erat.