
Mo Ryung yang sedari tadi duduk dilorong rumah sakit, akhirnya berdiri ketika melihat Lia keluar dari kamar Anindiya. Mata gadis itu terlihat sembab karena menangis melihat Anindiya.
"Dia baru tidur pak." Sapa Lia duluan, memberi tahu keadaan Anin.
Mo Ryung hanya mendengarkannya dan berjalan berlalu dari Lia.
Apa yang akan dilakukan Pak Mo jika mengetahui kesucian istrinya diambil oleh orang lain. Pikir Lia yang menghawatirkan Anindiya.
Lia melangkah perlahan, berdiri di dekat pintu. yang terbuka sedikit. Ia ingin berjaga-jaga jika pak Mo yang kejam itu memperlakukan Anin seenaknya.
"ada apa?" Tanya Jung Su yang tiba-tiba muncul menyentuh pundak Lia.
"ssttt" coba Lia meminta Jung Su untuk diam dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibir.
Di dalam kamar,
Ryung menatap istrinya dengan seksama, wajahnya yang sembab membuat hati suaminya itu terasa hancur. Ia sudah berjanji akan selalu menjaganya dan tidak akan membiarkan menangis. Tapi apa yang terjadi, sejak dia menikahi gadis itu, Ryung berkali-kali membuatnya menangis.
Ia memegang tangan istrinya dan menciumnya, laki-laki itu kaget karena tiba-tiba tangan itu ditarik. Anin terbangun dari tidurnya, ia langsung duduk dan menyembunyikan tangannya.
"maaf kak, aku kira siapa?" kata Anin bersuara parau.
__ADS_1
Mo Ryung hanya tersenyum, kemudian ia mengambil makanan yang ada dimeja dan bermaksud menyuapi istrinya.
"kak.... maafin aku... aku..."
"makan ya..." potong Mo Ryung yang langsung menawarkan pada istrinya, tapi Anin menggelengkan kepalanya lemah. "biar cepat pulang, enak kok." Kemudian Anin disuapi Mo Ryung dan mengerutkan dahinya. "kenapa?"
Anin mengambil sendok dari tangan suaminya, kemudian menyuapi suaminya.
"aa..." seraya mengarahkan sendok itu ke mulut Ryung.
"gak ah, itukan makanan orang sakit."
"rasakan dulu... " kemudian Anin segera memasukkan sesuap bubur ke mulut Ryung dan akhirnya lelaki itu mau menelannya. "biar sama-sama makan masakan hambar." celoteh Anin dan menyeringai di depan suaminya.
"syukurlah... aku kira akan ada pertengkaran hebat." ucap Lia kemudian langsung berbalik dan tiba-tiba badannya menempel pada Jung Su. "jangan deket-deket pak Jung." seraya mendorong badan Jung Su perlahan.
"kan enak berdekatan. " lalu tanpa dikomando tangan Lia mencubit Jung Su sekuat tenaga yang membuat laki-laki meringis kesakitan. "kejam banget Lia, sakit tahu."
"bodo" jawab Lia lalu pergi.
"dasar gadis aneh."
__ADS_1
****
Beberapa hari pun berlalu, Anin telah diizinkan pulang oleh Azril. Betapa bahagianya Ryung, yang mengira Anin akan putus asa dan depresi ketika melihat ia menangis tersedu sedu di depan Lia. Tapi ternyata gadis itu baik-baik saja.
Sesampai dirumah, sahabat setianya dan adik iparnya telah menyiapkan berbagai macam makanan untuk menyambut Anin. Mereka sumringah melihat Anin dan Ryung turun dari mobil.
"Udah enakan nak..." sapa Pak Bimo yang selalu tersenyum sumringah kepada Anin.
"udah pak, makasih ya dan maaf sudah merepotkan semuanya."
Rumah Mo Ryung yang biasanya sepi, saat ini terasa ramai karena gemuruh canda tawa Jung Su dan Lia yang sesekali Anin menimpali. Ryung merasa senang melihat semua makan dengan lahap dan tertawa gembira.
Waktu pun sudah larut malam, ketika Lia berpamitan pulang begitu pula dengan Jung Su dan Pak Bimo.
"kamu mau ngapain?" Tanya Mo Ryung saat melihat istrinya yang baru sembuh itu berjalan menuju dapur.
"Beresin ni kak, biar bersih." seraya menuju piring kotor yang tadinya udah ditaruh ditempat cuci oleh Lia.
"Biar besok cleaning service yang bersihkan, sekarang kita istirahat ya... " Pinta Mo Ryung seraya merangkul istrinya ke kamar.
Saat sakit seperti ini, Anin merasa benar-benar menjadi istri laki-laki tinggi besar itu. Ia begitu dimanjakan, Mo Ryung yang tak biasa merangkul, memegang bahkan mencium tangannya sekarang ia melakukannya.
__ADS_1
Setelah kejadian itu, kenapa aku merasa kau semakin sayang padaku kak? seharusnya kau marah, kau menghinaku atau bahkan memukulku tapi apa yang aku terima. Kenapa kau begitu baik padaku? Bagaimana aku yang kotor ini membalas semua kebaikanmu?