Menggapai Cinta

Menggapai Cinta
Bertemu Bram


__ADS_3

Mo Ryung menggunakan jas hitamnya dan berjalan menuruni tangga dengan memasukkan tangan kanannya kedalam saku, seperti biasanya. Ia berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air putih, tapi langkahnya terhenti ketika melihat banyak menu makanan yang sudah siap dimeja.


"wow.. tak biasanya kakak pesan nasi tumpeng." Jung Su yang tiba-tiba datang dan mengambil sedikit sambal goreng kentang hati " ehm... enak banget, jadi kangen masakan Anin." celotehnya sambil duduk mengambil piring


Mo Ryung hanya melihatnya tanpa suara, tiba-tiba pak Bimo datang dengan membawa minuman dari dapur.


"ini minumnya nak..." kata pak Bimo seraya menaruhnya diatas meja.


"muantap pak..." kata Jung Su yang sudah memotong nasi tumpeng dihadapannya. "Ni rasanya bener-bener enak, kayak masakan Anin."


"itu memang nak Anin yang masak." kata pak Bimo yang membuat Jung Su tersedak,


"Anin?" Ulang Ryung angkat bicara.


"ya nak... kata nak Anin, nak Ryung sekarang ulang tahun makanya buat nasi tumpeng. Tadi juga bapak bantu potong-potong." kata pak Bimo dengan senyumnya.


"apa? bapak bantu dia masak?" mendengar pertanyaan itu pak Bimo hanya menganggukkan kepala. "sejak kapan dia disini?"


"jadi yang kemarin itu, beneran Anindiya?" tanya Mo Ryung memotong pembicaraan Jung Su dan pak Bimo.

__ADS_1


Pak Bimo hanya tersenyum dan mengangguk-angguk cepat.


"Bapak yakin kalo itu Anin?" tanya Mo Ryung bersemangat "sekarang dia mana pak?" tanya Ryung celingukan mencari sosok wanita yabg sangat dicintainya.


"tenang nak... Dia udah pulang karena harus bekerja"


"bekerja dimana?" tanya Jung Su yang yak kalah semangat.


"bapak tidak tahu nak." Jawab pak Bimo lemah.


Mendengar itu Ryung mengutak atik ponselnya, meminta seluruh intel miliknya mencari keberadaan Anindiya. Kemudian dia duduk mengambil piring dan mulai memilih makanan yang ada dihadapannya dengan semangat.


Mo Ryung sesekali tersenyum mengingat kejadian kemarin malam,


Melihat kakaknya yang begitu bersemangat Jung Su turut senang, ingin rasanya menculik Anin dan langsung mendudukkannya di depan lelaki putih bermata sipit itu.


Ponsel Mo Ryung berdering, dan keberadaan Anin pun sudah tersimpan di ponselnya.


"hari ini kau harus pulang Nin..."

__ADS_1


***


Suasana resto bu Mirna masih ramai seperti biasanya, Anindiya yang menggunakan celemek dengan sigap menyelesaikan setiap pesanan pengunjung.


Saat jam makan siang telah lewat, Anindiya sedikit agak bersantai. Kemudian ada seorang waiters menemuinya bukan untuk menyampaikan pesanan tetapi ada seorang laki-laki yang ingin bertemu dengannya.


"Biar ibu yang lanjutkan, kamu pergilah."


Ia pun melepaskan celemek, sedikit merapikan rambutnya dan keluar menemui laki-laki yang tak menyebutkan namanya itu.


Anindiya melangkah menuju meja yang ditunjukkan waiters tadi, Sepertinya ia mengenal laki-laki itu, dari perawakannya tak asing bagi Anindiya. Dan saat laki-laki itu mendongakkan kepalanya dari posisi tertunduk, terlihat jelas wajah yang sangat di benci Anindiya.


Lelaki yang menggunakan topi coklat dan jaket berwarna senada itu melihat Anindiya dengan tersenyum. Dia Bram, mantan kekasihnya.


Seketika itu Anindiya membalikkan badannya dan beranjak akan pergi. "


"tunggu Nin.." Ucap Bram, dengan meraih tangan gadis berkuncir satu itu.


Gadis itu menoleh melihat tangan Bram yang memegang pergelangan tangannya.

__ADS_1


"apa yang kau takutkan Anin... hadapi dia, hadapi laki-laki brengsek yang telah menghancurkan harga dirimu itu. Hadapi lelaki yang telah menghancurkan rumah tanggamu itu." bisik Anin dalam hati


"lepaskan tangan kotormu itu." Ucap Anin tajam dan rahangnya sedikit mengeras.


__ADS_2