
Dengan sigap Anindiya membuka penutup pembuangan bathub, kemudian ia masuk dan memijat kaki Ryung perlahan.
"enakan kak?" tanya Anin yang melihat suaminya pucat pasi. Setelah beberapa menit gadis itu memijat kaki Ryung bergantian lalu ia mengambilkan handuk dan baju ganti untuk Ryung. "aku bantu..." pinta Anin
Mo Ryung hanya menatap istrinya yang mencoba mengangkat dirinya susah payah, ia mendudukkan laki-laki tinggi besar itu dan mengusap kepala basahnya dengan handuk.
Kemudian melepaskan baju basah Ryung dan mengusap dada bidang putih seperti roti sobek itu, Anin menelan pelan salivanya dan terus mengusapnya hingga kering.
Mo Ryung menatap seksama wanita didepannya itu, gairahnya kembali muncul mempengaruhinya. "cepat keluar Nin" usir Ryung seketika.
"tapi kak..."
Ryung mengguyur badannya dengan air dingin kembali, melihat hal itu Anin langsung mengambil shower dari tangan suaminya dan membuangnya.
"cukup kak... hentikan! itu membuat kakak tambah sakit." teriak Anin
"tapi itu bisa membuatku nyaman." tolak Mo Ryung masih mengguyurkan air dingin itu.
Anin segera berlari mengambil handuk kering dan bath robes untuk dipakai Mo Ryung. Ia kembali ke kamar mandi dan melihat Mo Ryung rebahan lagi di dalam bathtub.
Anin menjulurkan tangannya meminta Mo Ryung bangun dari situ, ia mulai mengusap kepala Ryung dan membuka baju suaminya dengan sigap dan cekatan, kemudian segera ia pakaikan bath robes.
__ADS_1
Hasrat Ryung kembali muncul, ia akan kembali ke bathtub tapi Anin memegang tangannya begitu erat, dan menggelengkan kepalanya.
"cukup kak..." pinta Anin yang kemudian melepaskan celana Mo Ryung, saat akan memegang celana itu tangan Ryung langsung memegangnya. "tak apa kak..."
"aku saja..." jawab Ryung kemudian
"aku tunggu kakak diluar." kata Anin tak mau membantah,
Beberapa menit telah berlalu Ryung pun tak segera keluar kamar mandi, Anin dengan gelisah menunggunya akhirnya ia masuk ke dalam kamar mandi dan melihat laki-laki tinggi besar itu melipatkan tangannya duduk di atas toilet dengan menggigil.
Anin langsung mendekatinya dan memeluk erat Ryung. "ya ampun kak...kenapa menyiksa diri seperti ini." kata Anin yang tak kuasa menahan air mata yang menetes begitu saja.
"aku tak ingin melukaimu Nin... pergilah dari sini." Usir Ryung seraya melepaskan pelukan Anin.
Ryung yang masih bergelut dengan hasrat birahinya itu tanpa permisi ia langsung membalas ciuman Anindiya, mencoba untuk menyatukan dirinya dengan istrinya.
Mo Ryung pun berdiri dari posisinya, mereka berdua saling menatap dengan seksama. Anin dan Ryung sama-sama menelan saliva mereka masing-masing.
"apakah aku boleh menggapai cintamu seutuhnya?" tanya Ryung kemudian
"apapun itu, akan aku berikan padamu kak" ucap Anindiya yang kemudian memegang tangan Ryung membawanya masuk ke kamar dan duduk dipinggir tempat tidur.
__ADS_1
Mereka berdua saling menatap, "aku sungguh mencintaimu Nin.." Ucap Ryung yang kemudian mencium bibir Anindiya hingga gadis itu susah bernafas.
Laki-laki tinggi besar itu menggiring Anindiya ke atas tempat tidur, menidurkannya dengan posisi nyaman dan terus menciumi bibir merah itu serta beralih ke pipi serta menggigit kecil telinga Anindiya yang membuat hasrat Anindiya pun bergelora.
Malam hari itu pun menjadi saksi cinta dan tubuh mereka bersatu, hanya desahan dan sedikit erangan yang terdengar saat mereka mencapai nikmat duniawi yang tak pernah mereka gapai.
"sakit?" tanya Mo Ryung setelah semuanya usai seraya mengecup kening Anindiya dengan takzim.
Gadis itupun mengangguk tersipu malu. "kak... apakah Tuhan akan memarahiku melakukan ini?"
"kenapa?" tanya Mo Ryung bingung dengan pertanyaan istrinya.
"kan kita sudah bercerai."
Mendengar perkataan istrinya Mo Ryung tertawa terbahak-bahak.
"kok malah ketawa..." kesal Anin dengan memiringkan badannya ke arah suaminya yang masih tertawa itu.
"aku belum menandatangani pengajuan ceraimu dan Tuhan tidak akan marah meskipun kita melakukannya berulang kali."
kata Ryung seraya mencubit pelan hidung Anindiya dan memeluk erat istri mungilnya.
__ADS_1
Terima kasih Tuhan... atas berkah yang kau berikan hari ini, jagalah istriku dan tetapkanlah ia selalu menjadi milikku.