Menggapai Cinta

Menggapai Cinta
SR 48


__ADS_3

Devan mengantarkan Cecil pulang. Cecil minta diturunkan di depan rumah saja. Dia juga tidak menawarkan pada Devan untuk mampir.


"Makasih ya, De! Hati-hati di jalan, aku masuk ya," ucap Cecil langsung keluar dari mobil dan membiarkan Devan terbengong menatap tingkahnya.


Devan tidak berani memaksa ikut masuk ke rumah Cecil. Devan mencoba menghibur diri sendiri.


"Sabar, Devan! Masih banyak kesempatan lain kali. Sekarang sudah mendingan, dia mau diantar. Dulu jangankan diantar ke rumah, ditawari nebeng saja tidak mau!" monolog Devan, sebelum akhirnya kembali melajukan mobilnya.


Cecil langsung masuk ke kamarnya karena suasana rumah sangat sepi.


"Aku harus terbiasa menjalani hari bersama Devan! Semangat Cecil, kamu pasti bisa! Yeeah..." gumam Cecil menyemangati diri sendiri, jemari tangan kanannya mengepal erat.


"Ini lebih baik dibanding bersama Rio. Aku tidak perlu bersaing dengan kakak ipar. Hufftt!!"


Cecil mengetahui rahasia perasaan Rio setelah beberapa bulan menjadi tunangan Rio. Saat itu, Cecil ada janji temu dengan Rio. Untuk membicarakan beberapa masalah program perusahaan.


*Flash back on*


"Nak Cecil, Bunda mau keluar sebentar. Ada acara arisan di tetangga sebelah. Nak Cecil nunggu Rio di kamar saja. Kalau nunggu lama di ruang tamu, pasti nggak nyaman," ucap bu Sonya sembari mengajak Cecil masuk ke kamar Rio.


"Memang Rio nggak marah kamarnya dimasuki perempuan?" tanya Cecil ragu-ragu.

__ADS_1


"Dia bukan pemarah! Tak mungkin marah hanya karena kamarnya kamu masuki. Percaya sama Bunda! Ok?" sahut bu Sonya.


"Baik, Bun," ucap Cecil patuh, lalu masuk ke kamar dengan nuansa abu-abu tersebut.


Bu Sonya membawakan satu gelas air es sirup dan satu botol air mineral untuk Cecil.


"Diminum, Nak Cecil! Nanti kalau Nak Cecil ingin tidur atau sekedar rebahan pakai aja ranjang Rio," pesan bu Sonya sebelum meninggalkan Cecil seorang diri di rumah.


Rio saat ini masih berada di toko karena ada barang dagangan datang. Sehingga tidak bisa pulang cepat.


Waktu yang lama itu, membuat Cecil bisa dengan leluasa membaca sebuah buku agenda.


Ya, Cecil penasaran dengan meja kerja Rio yang ditempatkan di dekat ranjangnya. Dia pun mendekat dan tertarik dengan sebuah buku agenda yang sudah kusam.


"Rahma, aku memang pengecut. Tidak berani mengungkapkan perasaan ku ini. Seandainya saja, Frans tidak menaksir dirimu aku akan maju. Berjuang mendapatkan cintamu. Akan tetapi, sahabat baikku itu sudah banyak menolongku dan keluargaku. Tidak mungkin 'kan kalau aku bersaing dengannya? Oleh karena itu, cukup aku dan Tuhan saja yang tahu perasaanku padamu."


"Rahma, asal kamu tahu saja. Sebenarnya aku tidak ingin ikut-ikutan membully dirimu. Namun, sebagai sahabat yang tahu membalas budi. Aku pun ikut membully dirimu, walaupun aku harus menangis batin."


"Rahma, kamu tahu? Surat yang sudah rapi ku tulis dengan tangan ini, akhirnya berpindah tangan pada Frans. Kamu mau tahu bagaimana akhir surat itu? Surat itu disalin oleh Frans, lalu dia menjadikan surat tadi sebagai kado ulang tahunmu."


Cecil tidak sanggup lagi melanjutkan membaca buku agenda tersebut. Cecil pikir itu adalah buku tentang program yang biasa dipakai oleh perusahaan.

__ADS_1


Cecil mengembalikan buku tersebut ke meja. Kemudian Cecil masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah itu dia berbaring di ranjang Rio.


*Flash back off*


*


*


*


Rio kembali membuat program sesuai permintaan Dolly. Dia mulai merancangnya, sehingga nanti saat bertemu Cecil tinggal berdiskusi dan mengerjakan rancangan program tersebut.


"Kenapa kamu tersenyum menggoda sejak tadi? Pergilah, aku harus bekerja atau selamanya kakakmu tidak mau lagi percaya padaku!" batin Rio sembari mengibaskan tangannya.


Sejak pulang tadi, bayangan senyum manis Cecil selalu berputar-putar di kepalanya. Sudah berulangkali dia mengusir bayangan itu, selalu saja tawa Cecil semakin menggodanya.


Hhh...


"Tuhan, apakah ini hukuman untukku karena telah menyakiti dirinya? Aku mohon, ampuni aku. Bantu hamba Mu ini, mengusir bayang dirinya..."


Rio sangat stress karena bayangan senyum dan tawa renyah Cecil tak berhenti mengganggu. Padahal biasanya Cecil hanya bersikap ramah dan tidak centil seperti sekarang ini.

__ADS_1


"Aku ini kenapa, ya Tuhan?" jerit Rio akhirnya setelah dua jam mencoba untuk konsentrasi dan ternyata gagal.


__ADS_2