
Rio terus memikirkan Cecil. Walau bagaimanapun juga, di sini yang paling terluka dan tersakiti adalah Cecil. Jika tidak ada perjodohan itu, mungkin saat ini Cecil sudah bahagia karena sudah menemukan laki-laki lain dan menikah.
Rio dihantui rasa bersalah yang mendalam, karena keputusan yang diambilnya telah menyakiti Cecil. Demi membunuh rasa bersalahnya, Rio berjanji akan selalu siap sedia membantu Cecil. Seperti dulu, saat perusahaan Surya membutuhkan dirinya.
Hari pun berlalu, tiga bulan berlalu.
Rio dan Cecil tetap dekat seperti biasanya. Kini hubungan mereka layaknya abang dengan adik. Sikap Rio tetap melindungi dan mengayomi Cecil.
Cecil sudah menemukan laki-laki tambatan hatinya. Dia pun meminta pendapat pada Rio karena sudah sangat percaya sepenuhnya.
"Bang, aku ada teman dekat. Dia nembak aku kemarin. Sebaiknya diterima atau ditolak, Bang?" tanya Cecil meminta saran dari Rio.
Saat ini mereka sedang menikmati makan siang bersama di sebuah mall terkenal di kota itu.
"Orangnya bagaimana? Cintanya beneran tulus apa tidak?" tanya Rio sembari memotong daging di piringnya.
"Selama ini sih, dia baik sama aku. Perhatian juga. Kalau tulus atau tidaknya mana aku tahu, aku 'kan bukan cenayang," jawab Cecil dengan lugunya.
"Dari tatapan matanya 'kan kamu bisa tahu, Cil!" ucap Rio gemas.
__ADS_1
"Dibilang nggak tahu juga, masih ngeyel! Bagi Cecil tuh, tatapan mata semua orang sama saja. Nggak ada bedanya!" bantah Cecil kesal.
"Kalau begitu, kenalin sama Abang. Abang ingin bertemu dengannya. Bisa?" ucap Rio akhirnya, lebih baik mengalah dari pada terus berdebat kusir dengan gadis cantik di hadapannya itu.
"Dia itu sibuk terus, Bang. Maklum dia 'kan punya perusahaan, jadi sibuk mengurus usahanya. Nanti deh, Cecil kenalin ke Abang kalau dia ada waktu!" ucap Cecil berjanji.
"Kalau begitu, jangan kamu iyakan jika belum yakin!" saran Rio.
Ucapan itu terlontar begitu saja, tanpa dia sadari jika ucapannya mengandung rasa cemburu.
"Memang belum aku jawab. Aku cuma bilang butuh waktu untuk mengetahui perasaanku padanya. Aku bilang saja kalau selama ini aku nyaman di dekat dia, tapi aku belum yakin apakah rasa nyaman itu sudah berubah menjadi cinta apa belum," cerita Cecil dengan semangat.
Saat mereka hendak keluar dari mall, mereka berpapasan dengan Mia dan temannya. Mia, tetangga Rio yang menjadi perawat di sebuah rumah sakit di kota ini.
"Mas," sapa Mia sembari mengangguk.
Sapaan Mia mengagetkan Rio, karena tidak menyangka gadis berhijab itu mau menyapanya terlebih dahulu.
"Eh, Mia. Belanja?" sahut Rio dengan pertanyaan.
__ADS_1
"I-iya, Mas. Mari," jawab Mia sambil melanjutkan langkah kakinya.
"Silakan," sahut Rio.
"Cantik ya, Bang?" celetuk Cecil mengulum senyum.
"Semua wanita cantik, Cil!" jawab Rio tegas, sehingga nyali Cecil untuk mengajak Rio bercanda lenyap seketika.
Saat mereka berdua melangkahkan kaki keluar, tanpa mereka sadari pandangan Mia tertuju pada mereka berdua.
"Siapa dia, Mi? Gebetan Lo, ya? Ganteng banget!" tanya teman Mia penasaran.
"Tetangga!" jawab Mia jutek, dia kesal karena bertemu dengan Rio bersama tunangannya.
Mia dan tetangga yang lainnya belum mengetahui, jika Rio dan Cecil sudah tidak ada ikatan lagi.
"Cewek yang bersamanya itu tadi siapa? Pacarnya?" Teman Mia semakin penasaran, ingin mengetahui lebih tentang Rio.
"Tunangannya!" jawab Mia ketus.
__ADS_1
"Sudah yuk, jadi belanja nggak sih? Malah ngurusin laki orang!" ucap Mia kemudian dengan wajah cemberut.