
Gadis yang duduk di meja Mo Ryung adalah gadis yang sama, yang Anin temui saat Anin membuka ruang Mo Ryung dan melihat suaminya itu berada di atas gadis berkulit putih bagaikan orang eropa.
Anindiya tercengang tak bisa berkata apa-apa, Gadis manis itu melihat wanita yang sekarang berdiri berbalik melihat Anindiya.
kak Ryung orang yang baik, ia tak mungkin berbuat asusila dikantornya sendiri. kata Anindiya meyakinkan diri sendiri.
Anindiya membuka pintu itu lebar-lebar, dan bukannya ia pergi dari ruangan itu justru ia melangkahkan kakinya masuk.
"keluar kau....!" teriak gadis yang bernama Clarissa itu.
Anindiya tidak merubah langkahnya, justru ia mendekati gadis itu berdiri didepannya. Yang terlihat jelas bahwa gadis itu jauh lebih tinggi dari Anindiya.
lalu suara tamparan keras dari Anindiya untuk Clarissa, yang membuat pipi gadis berpakaian sedikit terbuka itu memerah.
"kurang ajar kau.. emang kau..." suara teriakan Clarissa seraya mengangkat tangannya ke pipi Anin tapi dengan sigap Anindiya menangkap tangan Clarisa.
__ADS_1
"dia istri tuan Mo" sahut Tomi yang berdiri tepat di belakang Anindiya. "silahkan keluar." usir Tomi halus, Clarissa pun pergi dengan kesalnya.
Di sisi lain, Anin melihat Mo Ryung yang terduduk lemas memegang kepalanya.
"kakak tak apa?" tanya Anin dengan menyentuh dahi Mo Ryung.
"jangan sentuh aku, bawa aku pulang." Kata Ryung yang berdiri sempoyongan, laki-laki itu menahan segala hasratnya yang hebat ketika melihat Anindiya hingga semua badannya terasa panas.
Tomi langsung membawa tuannya dan Anindiya melewati lift pribadinya yang kemudian langsung meluncur ke rumah Ryung.
Sepanjang perjalanan Ryung duduk menepi tak mau melihat Anindiya, ia tertunduk menenggelamkan kepalanya diantara dua tangan dan badannya terasa lemas.
"ambil kain atau apa saja untuk menutupi mataku... cepat." teriak Ryung yang membuat Anin kaget dan bingung.
"apa yang sebenarnya dilakukan Clarissa pada kak Ryung? kenapa ia menjadi seperti ini? kenapa marah-marah gak jelas dan wajahnya yang kuning langsat itu menjadi memerah seperti itu? " pertanyaan yang tiba-tiba muncul dikepala Anindiya
__ADS_1
Anin tak melihat selembar kain atau sapu tangan, ia dengan panik menoleh ke kanan kiri, merogoh isi tas nya dan mencari di saku tempat duduk pun tak ada.
Kemudian saat ia melihat Mo Ryung, ia berfikir kalo dasi yang dikenakan Ryung bisa dipakai sebagai penutup mata. Tanpa berpikir panjang, Anin mendekati Mo Ryung dan mencoba membuka dasi yang dikenakan suaminya.
Anin membalikkan suaminya menghadap dirinya dan mengangkat dagu Mo Ryung yang membuat hasrat lelaki itu bangkit menguasainya kembali.
Lelaki itu hampir tak kuasa menahannya, ia sudah menelan salivanya. Tanpa dikomando Mo Ryung langsung mencium bibir merah Anindiya, menjelajah lebih mendalam hingga gadis itu tak bisa bernafas. Anindiya mencoba untuk memberontak, ia pun mendorong Mo Ryung dengan sekuat tenaga.
"jangan lakukan itu nyonya, Tuan Mo sepertinya ada dibawah pengaruh obat perangsang." larang Tomi yang melihat Anin mendorong Mo Ryung dari kaca spion.
Anin hanya mendengar perkataan Tomi itu, kemudian ia menarik dasi Mo Ryung. Laki-laki itu bangun dengan sigapnya dan langsung memegang kepala Anin dan menciumnya lagi.
Tangan Anindiya berusaha untuk menutup mata suaminya dengan dasi meskipun bibirnya masih di cium mesra oleh Mo Ryung.
Tangan laki-laki itu mulai turun ke leher Anin, dan akan segera meluncur ke bawah. Setelah selesai mengikatnya Anin langsung memegang tangan suaminya dan membimbing Mo Ryung agar tidur dipangkuannya.
__ADS_1
********
maaf ya reader semua... ni baru bisa upload part selanjutnya coz author masih hajatan...😉😉