
Anindiya melangkah masuk, ke rumah bermodel betawi itu. Ia meletakkan tas ransel yang berisi beberapa helai baju miliknya. Ia memang hanya membawa baju untuk beberapa hari saja.
"aku buatin teh hangat ya bu.." tawar Anin pada wanita separuh baya yang sekarang tiduran dikamarnya.
"terima kasih ya nak..., Oya nama kamu siapa?"
"saya Anindiya bu, panggil Anin saja."
"Ow... aku Mirna, sekali lagi terima kasih ya nak."
"sama-sama bu..."
Kemudian, Anindiya berjalan ke arah dapur yang tak begitu jauh dari kamar wanita setengah baya itu.
Tak lama kemudian seorang perempuan berkulit kuning langsat datang dengan tergopoh-gopoh.
"ya ampun ma... mama kenapa?" tanya wanita itu yang merupakan putri tunggal dari Bu Mirna, Rista
"mama cuman pusing nak... tapi untunglah ada nak Anin yang bantu mama tadi." Jelas Bu Mirna pada putrinya.
"ini Bu... teh nya" Anindiya masuk dengan membawa secangkir teh.
__ADS_1
"terima kasih nak... ini putri ibu namanya Rista." coba Bu Mirna memperkenalkan putrinya.
Saat melihatnya, Anin merasa kaget sekali karena Rista adalah teman sekantornya di star dan satu divisi dengannya.
"Rista..." Sapa Anindiya langsung "lupa sama Anin?"
"mb Anin, ya ampun mb... kenapa resign dari kantor sich? semenjak mb Anin dan Pak Bram gak ada aku, Tio dan Roni kelabakan mb, apalagi pak Mo akhir-akhir ni menargetkan kita untuk mencapai kenaikan omset 20 persen. Gila gak tu mb" celoteh Rista
"tapi, Pak Mo ngasih lemburan kan?"
"ya sich mb..." cengir Rista, kemudian mereka berdua keluar dari kamar dan membiarkan Bu Mirna untuk istirahat.
"Kenapa resign sich mb? barengan lagi sama pak Bram, mb janjian?"
"by the way... mb kok agak kurusan, sama kayak Pak Mo?"
"Oya.."
"Ya mb.. tapi Pak Mo masih ganteng sich mb....he.." senyum Rista yang memang salah satu pengagum suami Anindiya itu. "oya.. mb mau kemana? kok bawa ransel segala."
"aku mau cari tempat kos Ris... dan sekalian cari kerja juga."
__ADS_1
"ow... tinggal disini aja mb." tawar Rista
"gak enak lah Ris, sama kamu."
"gak papa mb, malah aku seneng ada yang nemenin. Biar agak rame gitu rumah aku he...he... oya mb cari kerja apa?"
"ya... apa aja Ris, kan ijazah mb masih di kantor. Sementara ini serabutan gak papa lah."
"Kalo mb gak keberatan, mb bisa bantu-bantu mama di restoran karena pegawai mama ada yang resign. Gimana? nanti kalo mama bangun aku negokan dech, sekalian jaga mama aku biar gak capek banget."
"Beneran Ris, aku seneng banget karena aku juga seneng banget masak."
"Tapi gajinya gak sebesar di Star loh mb..."
"gak papa Ris, makasih banget ya... udah dikasih tumpangan, dikasih kerjaan pula."
***
Hari pun terus berlalu, sudah seminggu semenjak kepergian Anin, rumah Ryung sepi kembali seperti dulu. Hanya ada Pak Bimo yang menyiapkan segala sesuatu untuk laki-laki tampan itu dan setelah itu pulang. Sedangkan Ryung menyibukkan dirinya dengan bekerja hingga hampir pagi. Ia hanya tertidur dua sampai tiga jam saja. Bahkan kalo malam minggu tiba Mo Ryung tidak pulang ke rumah, kalo tidak dikantor bersama Tomi menyelesaikan pekerjaan, ia memilih untuk minum di sebuah cafe.
Tiap hari pikiran Ryung masih sama, ia selalu memikirkan mantan istrinya itu, perasaannya masih tetap sama seperti dulu tak berubah sama sekali.
__ADS_1
*Bagaimana keadaanmu disana Nin? apakah kau tidak mengkhawatirkan aku sedikitpun? atau kangen padaku?
Apakah masih ada harapan kau kembali padaku Anindiya? aku menginginkanmu Nin? aku mencintaimu*....