
Rio masuk ke kamar Cecil begitu saja tanpa mengetuk pintu. Hal ini dikarenakan pintu kamar Cecil yang sedikit terbuka. Rio tidak tahu jika saat ini Cecil sedang melakukan video call dengan pacarnya.
"Hai, tebak aku bawa apa buat kamu?" teriak Rio antusias.
Rio menyodorkan paper bag yang berisikan roti yang dibelinya tadi, di depan wajah Cecil sehingga menghalangi layar ponselnya.
Sontak saja, Devan langsung marah. Akan tetapi dia tahan demi janjinya pada sang kekasih hati.
"Pasti roti kesukaan aku, dilihat dari bungkusnya!" tebak Cecil tak kalah semangatnya dengan Rio.
"Terima kasih, Bang! Abang memang yang terbaik," ucap Cecil lagi menambah rasa cemburu Devan.
Tanpa Cecil sadari, Devan sudah mengakhiri panggilan telepon secara sepihak.
"Aku langsung balik, ya!" pamit Rio seraya tangannya mengacak rambut Cecil.
"Terima kasih... dan hati-hati, Bang!" sahut Cecil dengan senyum mengembang karena mendapat roti kesukaannya.
"Hhh... sudah lama tidak makan roti ini. Hmm, wanginya pasti enak ini!" monolog Cecil sembari membuka bungkusan itu.
Tak lama kemudian terdengar suara vibrasi telepon milik Cecil. Cecil pun baru teringat jika tadi dia meninggalkan ponselnya di atas ranjang.
__ADS_1
"Astaga! Pasti ngamuk lagi itu anak!" gumamnya lirih sembari mengambil ponselnya.
Devan kembali menghubungi Cecil.
"Kenapa lama mengangkatnya? Laki-laki itu masih di situ?" tanya Devan dengan nada tak bersahabat.
"Sorry! Aku lagi makan roti bawaan Bang Rio tadi."
"Apa tidak bisa kamu sehari saja tanpa laki-laki yang bernama Rio itu?" tanya Devan dengan aura dingin, tampak sekali kecemburuan di matanya.
"Aku dan Bang Rio hanya sebatas kakak dan adik, De. Kami memang lebih enjoy ketika memutuskan untuk menjadi sahabat saja. Jadi aku mohon, percaya sama aku!"
Cecil sangat kesal dengan sifat pencemburu Devan. Semua lelaki yang kiranya dekat dengannya dicemburui, tanpa mau meminta penjelasan terlebih dahulu.
"Kalau tidak percaya ya sudah. Aku malas ribut!" sahut Cecil kesal sehingga langsung mematikan sambungan telepon.
"Hufftt... males banget kalau setiap hari selalu berantem karena cemburu!" batin Cecil.
Tanpa memikirkan Devan yang sedang meradang karena rasa cemburu, Cecil menikmati roti dengan sangat lahap.
*
__ADS_1
*
*
Beberapa hari kemudian...
Bunda Sonya sakit demam sejak tadi malam, beliau tidak mau dibawa ke dokter untuk berobat. Selalu merasa kuat hingga tidak perlu ke dokter.
"Bun, Bunda harus makan biar perut Bunda tidak kosong. Kalau berobat tidak mau, makan juga tidak mau, yang ada bunda makin parah dan harus opname!" bujuk Rio yang akhirnya berubah menjadi ancaman karena kesal.
"Anak macam apa kamu? Mendo'akan orang tua sendiri masuk rumah sakit! Dasar anak gak ada ukhluk!" omel bunda Sonya sembari melemparkan bantalnya ke arah anak semata wayangnya.
"Ya udah, sekarang Bunda bilang dong! dimana bunda mau berobat." tawar Rio akhirnya mengalah.
"Antar Bunda ke rumah Bu Santi, sekarang juga! Bunda mau diperiksa Mia," sahut bunda Sonya.
"Kenapa tidak ke dokter saja sih, Bund?" tawar Rio lagi.
"Tidak! Bunda maunya sama Mia, kalau kamu tidak mau antar biar Bunda pergi sendiri!"
Mendengar ancaman dari sang bunda, akhirnya dia pun dengan berat hati mengantarkan sang bunda ke rumah bu Santi.
__ADS_1
Mia membuka praktek bidan di rumah. Sudah banyak tetangga yang menjadi pasiennya. Termasuk bu Sonya. Beliau merasa sudah cocok berobat pada Mia. Oleh karena itu setiap merasa tidak enak badan, selalu ke rumah bu Santi.