
Rio mati kutu di depan sang bunda. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia memang tidak pernah bisa menyembunyikan sesuatu di hadapan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Rio ke toko dulu, Bun. Mau ngecek stok barang, besok jadwal order di distributor besar. Sebelum mereka datang, harus order barang. Kalau terlanjur sampai di sini ternyata gak bawa barang yang dibutuhkan nanti repot," ucap Rio panjang dan lebar untuk menutupi rasa canggung yang menghinggapinya.
"Iya, hati-hati! Jangan ngebut di jalan!" jawab bunda Sonya.
"Satu lagi, jangan melamun dan senyum-senyum sendiri!" imbuh sang bunda penuh sindiran.
"Bunda ada-ada saja! Mana ada Rio melamun," sahut Rio sembari berjalan meninggalkan ruang makan.
"Siapa yang melamun sambil senyum-senyum sendiri? Bunda ini main tuduh saja, hhh!" gumam Rio seraya membuka pintu mobil.
Rio melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju salah satu tokonya. Selama dalam perjalanan, dia menghidupkan musik untuk menemani perjalanan.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di toko tersebut. Hanya butuh waktu lima belas menit saja.
"Mas, Rio!" panggil Mia ketika Rio baru saja keluar dan mengunci pintu mobilnya.
"Ngapain juga dia datang lagi? Hadeehh! Semoga si Tasya ada di dalam," batin Rio gelisah.
"Eh, Mia. Ada apa, Mi?" sapa Rio berbasa-basi.
"Ini, Mas. Mau pesan surat undangan. Katanya di toko Mas Rio bisa?" jawab Mia malu-malu.
__ADS_1
"Oh, iya. Bisa, bisa!"
Mia tersenyum lega mendapat jawaban dari Rio.
Mia mengikuti langkah Rio yang berjalan memasuki toko yang lumayan besar itu. Dari kejauhan, tampak Tasya berjalan mendekati kedua orang itu.
"Mas Rio kenapa baru datang, Tasya tungguin dari tadi lho," ucap Tasya sembari bergelayut manja di lengan Rio.
Sebenarnya Rio risih dengan apa yang dilakukan oleh karyawannya itu. Akan tetapi dia sudah terlanjur meminta Tasya untuk akting di depan Mia, sebagai kekasihnya.
"Kamu bawa bekal apa hari ini?" tanya Rio sembari melepaskan tangannya dari belitan Tasya, dengan mengangkat tangan tersebut menyentuh hidung Tasya.
Dua orang yang memiliki hubungan pemilik dan karyawan itu memiliki akting yang pantas diacungi jempol. Keduanya tampak mesra walaupun hanya pura-pura.
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju ruangan Rio Wajah Mia tampak datar saja, padahal dalam hatinya memendam sejuta kekesalan.
"Dih, sok romantis! Baru jadian wajar sih romantis, coba aja kalau sudah berbulan-bulan lamanya. Dicuekin terus ditinggal!" batin Mia kesal karena melihat kemesraan Rio dan Tasya.
"Sya... ehem Sayang, tolong buatkan minum ya. Dua!" perintah Rio, hampir saja terbongkar sandiwaranya.
"Asiyaapp!" jawab Tasya dengan tangan menghormat dan posisi berdiri tegap sempurna.
Setelah Tasya meninggalkan ruangan itu, Rio pun memberikan beberapa contoh kartu undangan yang bisa dicetak di tokonya.
__ADS_1
"Bagus semua, Mas! Mia bingung mau pilih yang mana semua bagus dan elegan," ucap Mia begitu melihat beberapa sampel kartu undangan.
"Kalau masih bingung, kamu bawa pulang aja sebagian mana yang sekiranya paling kamu suka!" saran dari Rio.
"Boleh dipinjam dibawa pulang dulu, gitu ya Mas?"
"Boleh asal tidak semua! Kamu pilih mana yang paling kamu suka. Jadi nggak terlalu repot dan bimbang dalam memilih kartu undangan nanti" saran Rio bijaksana.
"Baik, Mas. Nanti Mia minta pendapat Mama dan Papa," jawab Mia.
Setelah sepuluh menit kemudian, Mia pamitan setelah menyesap teh kemasan yang disuguhkan oleh Tasya.
"Mbak Mia tadi ngapain, Pak?" tanya Tasya penasaran.
"Mau cetak surat undangan, tapi nama yang punya acara nggak disebutin. Hadehhh, repot!" jawab Rio.
"Mungkin beliau terburu-buru, Pak. Jadi kelupaan! Atau jangan-jangan hanya alasan saja biar ketemu sama Bapak?" ucap Tasya melantur kemana-mana.
"Mulut kamu kalau tidak julid kanapa sih? Nggak pantes sama wajah kamu, tahu nggak!"
"Ehh, nggak pantes bijimana maksudnya, Pak?"
Mereka tampak akrab setelah beberapa Minggu bersandiwara di depan Mia. Akan tetapi keduanya sama-sama tidak memiliki perasaan yang berlebihan, sekedar teman biasa.
__ADS_1
"Nggak pantes aja!"