
"Sah!" ucap para saksi serempak.
"Alhamdulillah..."
Penghulu pun meminta mempelai wanita untuk mencium tangan mempelai pria. Dilanjutkan dengan mempelai pria mencium kening mempelai wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.
Senyum kebahagiaan selalu mengembang di bibir kedua mempelai. Siapa yang tidak bahagia jika akhirnya bisa bersanding dengan orang yang dicintainya? Seperti itulah yang dirasakan oleh Rio dan Cecil.
Ya, akhirnya yang duduk menjadi mempelai pria adalah Rio. Dia menggantikan posisi Devan, sesuai permintaan Devan beberapa hari sebelum acara pernikahan dilaksanakan.
*Flash back on*
Devan tiba-tiba mendatangi toko elektronik milik Rio. Toko yang juga menjadi tempat mencetak kartu undangan, selain itu juga sebagai pusat usaha Rio. Karena di tempat itu juga kegiatan servisa alat-alat elektronik dilakukan.
"Rio, bisa minta waktunya sebentar?" ucap Devan begitu duduk di sofa yang ada di ruangan Rio.
"Untuk?" tanya Rio memicingkan sebelah matanya, heran.
"Aku ingin berbicara denganmu. Ini tentang kita bertiga!" ujar Devan.
"Bertiga? Siapa saja kok bertiga, bukankah di sini hanya ada kita berdua?" tanya Rio.
"Bertiga! Aku, kamu dan dia..."
"Maksudnya? Kek judul lagu aja! Tentang aku, kau dan dia. Sekarang yang jadi pertanyaannya, siapa dia itu?" potong Rio tanpa menunggu Devan selesai bicara.
"Tidak memotong orang bicara, bisa?" tanya Devan melengos karena kesal.
"Iya, iyaa! Diem nih," sahut Rio dengan gerakan tangan mengunci mulutnya.
"Dia yang ada di antara kita itu, Cecil. Sebenarnya sudah lama aku kenal dia, terus mencoba mendekati. Dan berakhir dengan menjadi tunangannya. Akan tetapi, aku merasa dia menerima aku karena terpaksa. Dia menjadikan aku hanya sebagai pelampiasan, alat untuk menjauhimu."
__ADS_1
"Aku tahu kalian sebenarnya saling mencintai, tetapi sama-sama meninggikan ego. Tidak ada yang mau mengungkapkan perasaan terlebih dahulu. Seandainya kalian berdua menurunkan ego sedikit saja, untuk mengakui perasaan kalian. Pasti saat ini kalian sangat bahagia."
"Oleh karena itu, aku ingin minta tolong padamu. Saat akad nikah nanti, kamu yang menggantikan aku menjadi mempelai prianya. Aku akan lebih bahagia jika melihat kalian berdua bersatu. Jadi... aku mohon kamu mau!" ucap Devan panjang dan lebar dengan hati yang tulus.
"Hah?" jawab Rio sembari berjalan mendekati Devan, kemudian menempelkan punggung tangannya ke dahi Devan.
"Kamu ngigau apa mabuk?" ucap Rio seraya menurunkan tangannya dari dahi Devan.
"Tidak keduanya! Aku dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan dari siapapun. Aku hanya ingin melihat Cecil bahagia. Dan kebahagiaan Cecil itu bersama kamu, bukan denganku," jawab Devan tersenyum.
"Apa alasan yang sebenarnya, kamu memintaku menggantikan dirimu di hari pernikahan kalian?" desak Rio.
Dia tidak percaya jika Devan dengan mudahnya melepaskan Cecil. Setahu Rio, Devan begitu tergila-gila pada Cecil. Itu terbukti dari sifat posesif dan protektif yang ditunjukkannya selama ini.
"Alasannya sudah jelas, bukan? Tadi aku sudah menjelaskan semuanya. Apa masih kurang jelas?" jawab Devan dengan senyum mengembang, seolah-olah mengatakan jika Rio itu bo doh.
Rio terdiam, memikirkan permintaan Devan untuk menggantikan posisinya.
"Boleh aku pikirkan dulu?" tanya Rio setelah lama termenung.
"Kalau aku jadi kamu, aku pasti akan menjawab iya dengan sukacita. Walau bagaimanapun juga, bisa memiliki wanita yang dicintai itu sangat membahagiakan!" lanjut Devan lagi sembari beranjak dari duduknya.
Melihat Devan berdiri, Rio pun spontan ikut berdiri.
"Mau kemana, kenapa terburu-buru?" tanya Rio basa-basi karena kenyataannya pekerjaan dia sudah menumpuk. Beberapa hari ditinggalkan untuk membantu pak Edward mempersiapkan pernikahan Cecil dan Devan. Namun, sang mempelai pria malah mengundurkan diri.
"Aku masih banyak urusan. Jangan lupa nanti sebelum jam tujuh malam!" sahut Devan seraya menepuk pundak Rio pelan dan berulang-ulang.
Rio mengantar Devan hingga tempat parkir dan menunggu hingga Devan menghilang dari pandangan. Setelah itu, barulah Rio kembali ke ruangannya.
Beberapa jam kemudian, Rio telah selesai dengan pekerjaannya. Rio pun mengadu pada sang Khalik atas apa yang menjadi permintaan Devan tadi siang.
__ADS_1
Setelah hati dan pikirannya tenang, Rio pun mulai mengkaji perasaannya sendiri. Memikirkan bagaimana dampaknya jika menikah dengan Cecil, Setya bagaimana nantinya jika menolak permintaan Devan.
"*Kesempatan tidak akan datang berulang kali. Apakah ini saatnya aku harus menuruti keinginan hatiku?"
"Ya Allah, jika memang ini jalanku. Aku ikhlas menjalaninya. Semoga apa yang menjadi keputusanku nanti tidak akan menyakiti siapapun juga*."
Waktu menunjukkan jam lima sore, Rio sudah tahu keputusan yang diambilnya. Dengan hati mantap, dia menghubungi Devan. Dia mengatakan secara langsung melalui saluran telepon.
Devan yang super sibuk tidak bisa diajak bertemu nanti malam. Cukup tahu apa jawaban dari Rio tanpa harus bertemu. Devan hanya meminta pada Rio untuk menemuinya keesokan harinya.
Devan meminta Rio menyiapkan beberapa berkas yang dibutuhkan, untuk memenuhi persyaratan untuk menikah. Dan itu disanggupi oleh Rio.
Kesibukan Rio mengurus berkas-berkas persyaratan pernikahan, membuat dia tidak bisa meluangkan waktunya. Walau hanya sekedar menyapa sang bunda. Bahkan dengan keluarga pak Edward pun, Rio tidak pernah berjumpa.
Hingga hari H telah terbukti tiba, Rio masih sibuk dengan urusan bersama Devan.
Devan hanya akan melihat pelaksanaan acara akad nikah saja. Setelah itu, Devan akan segera menyusul kedua orang tuanya yang berada di luar negeri. Saat ini ibu Devan sedang sakit keras, sehingga mau tidak mau Devan harus segera menemui ibunya.
Sakitnya sang ibu juga menjadi alasan Devan meminta Rio untuk menggantikan posisinya. Bukan karena tidak mencintai Cecil. Semuanya dia lakukan demi kebaikan bersama. Walaupun berat rasanya melepaskan orang yang dicintai, tetapi dia sudah mengikhlaskan Cecil untuk Rio.
Tepat setelah penghulu datang, Rio dan Devan pun tiba di kediaman pak Edward.
Melihat kedatangan mereka berdua, pak Edward sekeluarga merasa heran. Sehingga mengintrogasi keduanya. Lalu Devan mengutarakan semua alasan dia meminta Rio menggantikan posisinya.
Maka akad nikah pun segera dilaksanakan mengingat Devan harus segera pergi.
*Flash back off*
"Aku pamit, semoga kalian berjodoh hingga maut memisahkan. Bahkan hingga di akhirat kelak," ucap Devan pada kedua mempelai.
"Terima kasih!" ucap Rio.
__ADS_1
"Sudah berapa kali kamu mengucapkan kata-kata itu, Bro? Tidak usah berterima kasih. Mungkin ini sudah menjadi jalan hidup kita. Aku titip Cecil! Jaga dia, sayangi dia dengan segenap hatimu!" sahut Devan sembari menepuk pundak Rio.
Mereka berdua pun berpelukan sebagai salam perpisahan. Devan juga meminta ijin untuk memeluk Cecil untuk terakhir kalinya.