
Cecil tetap bungkam walaupun sudah tiba di kafe milik Devan. Berulang kali Devan mengajaknya bicara selalu dijawab dengan singkat.
"Kamu masih marah sama aku, Honey? Aku beneran minta maaf, tolong maafkan aku! Aku harus bagaimana biar kamu memaafkan aku? Tolong jawab aku," ucap Devan memelas, mengemis maaf dari sang pujaan hati.
"Aku sudah memaafkan kamu, dan aku juga tidak marah padamu. Sudahlah, De! Kamu makan saja dengan tenang. Bukankah kamu selama tiga hari dipenjara tidak merasakan makanan enak?" jawab Cecil datar.
Devan pun akhirnya menyerah dan melanjutkan makan siangnya. Sudah sejak tadi dia membujuk gadis cantik di depannya, akan tetapi sepertinya si gadis tidak terpengaruh sama sekali.
*
*
*
Sementara itu, Rio kembali bertemu dengan Mia di sebuah toko roti yang tidak jauh dari tokonya.
"Mbak, yang ini satu ya! Potong-potong sekalian," ucap Rio pada penjaga toko roti tersebut.
"Mbak, roti yang ini masih ada stoknya?" tanya Mia tiba-tiba.
__ADS_1
"Maaf, Mbak. Tinggal satu ini sudah diambil sama Bapak ini," jawab sang penjaga toko.
"Coba Mbak tanya dulu, mau tidak pesan roti yang lain," saran penjaga toko itu kemudian.
Mia pun langsung menoleh pada sosok tinggi besar, badan Mia yang tinggi saja tampak kecil bila bersanding dengan lelaki itu.
"Maaf, Mas. Rotinya ini buat saya saja ya," pinta Mia pada lelaki yang sedang asik ngobrol melalui telepon selulernya.
Lelaki itu tidak merespon sama sekali panggilan Mia. Akhirnya Mia menepuk pundak Rio. Merasa ada yang menepuk pundaknya, Rio pun refleks hendak memukul balik orang yang menepuk pundaknya.
Tangan Rio berhenti di udara setelah melihat siapa orang yang telah menepuk pundaknya.
"Kebetulan apa?" tanya Rio tanpa basa-basi.
"Itu... Mas Rio mau nggak tukar rotinya? Mama minta roti itu, katanya sudah lama banget pengen makan roti seperti itu. Lagian Mama sekarang demam. Jadi boleh ya, Mas?" bujuk Mia dengan manjanya.
"Roti ini pesanan orang lain, jadi maaf. Tidak bisa!" ucap Rio memamerkan deretan gigi putihnya
"Yah! Padahal Mama lagi sakit, tidak selera makan. Kalau seperti ini, aku harus bagaimana?" ucap Mia memelas agar dikasihani Rio.
__ADS_1
"Hhh... di toko roti lain 'kan ada! Di dekat sini toko roti tidak hanya ini saja," ujar Rio ketus.
Tanpa memedulikan Mia, Rio langsung membayar dan pergi dari toko tersebut.
"Laki-laki nggak peka! Membagi sedikit saja tidak mau. Mentang-mentang kami hanya hidup pas-pasan, seenaknya sendiri saja jadi orang," gerutu Mia kesal.
Sedangkan di tempat lain, Rio melajukan mobilnya ke rumah pak Edward. Roti tadi ditentengnya dengan satu tangan.
"Om, apa kabar?" sapa Rio pada mantan pimpinan Surya Sawit tersebut.
"Yaa, seperti yang kamu lihat ini! Semua itu dinikmati saja, Rio. Biar hidup bahagia!" jawab pak Edward sambil tersenyum.
"Cecil ada, Om?" tanya Rio akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan keberadaan gadis mandiri tapi manja itu.
"Ada di kamarnya, baru saja pulang dia," jawab pak Edward.
"Langsung ke kamarnya saja! Oh, iya. Itu yang kamu bawa itu apa?" imbuh pak Edward menanyakan bingkisan yang dibawa oleh Rio.
"Inii.... hmm... pesanan Cecil, Om. Iya, pesanan Cecil!" sahut Rio gugup dan takut.
__ADS_1
"Apa isinya? Sepertinya enak banget rasanya. Om boleh cobain nggak, nih?" goda pak Edward sampai wajah Rio pun merona.