
"Ini obatnya, ingat ya Bu Sonya tidak boleh kecapekan dan banyak pikiran. Kalau Ibu tetap bandal nanti asam lambung Ibu naik lagi," pesan Mia pada bu Sonya.
"Iya, Mia. Terima kasih," sahut bu Sonya.
Ketika mereka sudah berada di ambang pintu, Mia kembali mengingatkan makanan apa saja yang tidak boleh dikonsumsi.
"Kurangi makan pedas dan asam ya, Bu. Gorengan juga jangan terlalu sering," ucap Mia dengan senyum ramah.
"Kalau roti atau kue basah, boleh 'kan?" tanya bu Sonya.
"Boleh, boleh banget. Apalagi kalau orang lain tidak sampai ikut merasai makanan itu," ucap Mia menyindir Rio.
"Hah?"
Bu Sonya yang tidak tahu maksud ucapan sang perawat pun bingung. Berbeda dengan Rio yang malu karena kejadian tempo hari.
Rio langsung menarik tangan wanita yang telah melahirkannya itu pergi dari rumah bu Santi.
"Kamu ini kenapa sih? Sejak tadi tingkahmu aneh," tanya bu Sonya heran.
__ADS_1
Tidak hanya tingkah Rio saja, Mia pun terasa aneh hari ini. Akhirnya bu Sonya mulai mengkaitkan tingkah laku keduanya. Kemudian tersenyum tipis.
*
*
*
Semakin hari ada saja yang membangkitkan rasa cemburu Devan. Padahal sejak kejadian Rio yang mengantarkan roti hingga ke kamar Cecil, Rio dan Cecil tidak pernah bertemu lagi.
Rio disibukkan dengan sang bunda dan perawat tetangga dekat rumah. Setiap hari Rio semakin dekat dengan Mia.
Malam ini Rio dan bunda Sonya diundang oleh pak Edward untuk menghadiri acara pertunangan Cecil dengan Devan. Rio juga mengajak Mia sebagai partner undangan.
Mia dan Rio sama-sama memakai baju batik dengan motif dan warna yang sama. Walaupun mereka tidak membeli baju bersamaan, dan tidak ada janji untuk memakai baju kopel, keduanya tampak seperti pasangan sebenarnya.
"Wah, ini yang mau tunangan siapa sih? Kok ada dua pasangan muda dengan baju yang serasi," ledek salah seorang tamu undangan.
"Bisa jadi keduanya sama-sama ingin menunjukkan sudah move on, setelah pertunangan mereka gagal ke jenjang pernikahan."
__ADS_1
"Iya, nih! Keknya si Rio juga mau menunjukkan pada keluarga Surya kalau dia juga bisa mendapatkan pengganti Cecil," sahut tamu yang lainnya.
Dan masih banyak suara sumbang lainnya yang membuat Rio tidak betah berlama-lama di sana. Saat acara pertunangan telah selesai, Rio buru-buru mengajak pulang ibunya dan Mia. Dia tidak mau berbaur terlalu lama di sana.
"Kamu kenapa sih? Kok mukanya seperti baju yang tidak pernah diseterika," tanya bunda Sonya ketika mereka sudah tiba di rumah dan berganti pakaian.
"Males saja! Lagian, bawa anak gadis orang tuh jangan terlalu malam pulangnya, Bun," jawab Rio sekenanya, karena malas berdebat dengan wanita yang telah banyak berjasa dalam hidupnya itu.
Sedangkan di tempat lain, tak jauh dari rumah Rio dan bu Sonya. Mia sedang diintrogasi oleh mamanya, baik polisi mengintrogasi penjahat.
"Bagaimana tadi acaranya? Pasti meriah 'kan. Datang ke acara pertunangan keluarga Surya, suatu kesempatan langka. Semoga saja kamu berjodoh dengan Rio," cerca bu Santi tanpa jeda.
"Acaranya biasa-biasa saja sih, maklum pemilik acaranya saja para pengusaha. Calon suaminya Cecil itu juga pengusaha, Ma. Jadi wajar jika acaranya mewah dan meriah," jelas Mia.
"Kalau masalah hubungan Mia dengan Mas Rio, Mia tidak tahu ujungnya kemana, Ma. Jalani dan nikmati saja dulu!" lanjut Mia pasrah.
"Jadi wanita itu jangan terlalu pasrah dengan keadaan! Kalau kita bisa memperjuangkan cinta, kenapa harus pasrah?"
"Mas Rio belum pernah bilang cinta sama Mia, Ma. Mia tidak mau duluan yang menyatakan cinta, nanti dibilang Mia wanita murahan. Walaupun Mia suka sama Mas Rio, bukan berarti Mia harus mengejar dia 'kan?"
__ADS_1
"Kalau kamu seperti itu, gagal deh Mama punya mantu tajir!" keluh mama Mia, bu Santi.