Menggapai Cinta

Menggapai Cinta
Pertengkaran 2


__ADS_3

Gadis yang memakai jas berwarna hitam itu turun dari mobil, ia adalah Lia sahabat dari Anindiya. Ia berparas cantik nan tegas, ia sedikit berlari ke arah Jung Su yang menunggumu di depan pintu.


"dimana Anin?" Tanya gadis itu yang berjalan cepat melewati Jung Su. Lelaki itu cuman menunjuk arah atas, dan mengikuti Lia dari belakang. "Ya ampun.... Anin..." teriak gadis cantik itu, dan mencoba mendudukkan Anin di tempat tidur.


Anin hanya melihat Lia dengan air mata yang masih membasahi pipinya, melihat itu Lia pun memeluk sahabatnya dengan erat dan mengelus rambutnya, tanpa berkata apa-apa.


Mo Jung Su, laki-laki yang sedari tadi berdiri di pintu, menutup pintunya dan berjalan turun dari lantai dua. Ia duduk di sofa ruang tengah serah mengutak atik ponselnya. Dia mengirim WA ke Tomi memanyakan kabar kakaknya, tapi belum ada jawaban.


***


Di kamar,


Anindiya masih memeluk sahabatnya dan masih terdengar suara sayu isak tangisnya.


"sudah lah Nin, kamu harus sabar menghadapi ini semua." kata Lia mencoba menenangkan hati sahabatnya.


"Kak Ryung, Lia... ia gak mau ninggalin aku. Justru ia lebih sayang sama aku..." Kata Anin yang melepas pelukan itu.


"Baguslah Nin..."


"Apanya yang bagus, justru aku tersiksa karena ini. Apa yang bisa aku berikan pada kak Ryung kalo aku ini sudah rusak, aku ni kotor Lia."

__ADS_1


"Pak Mo mempermasalahkan soal itu?"


"tidak Lia, dia bilang sekotor apapun diriku, aku adalah istrinya."


"Ya Tuhan Anin, terus kenapa kamu menangis seperti ini, kalo Pak Mo tidak peduli dengan itu. Itu tandanya dia mencintaimu dengan tulus tanpa imbalan apapun.... Sadarlah Nin... suami seperti apa lagi yang kau inginkan..."


"aku..."


"seperti Bram brengsek itu ha?" kata Lia sedikit teriak. "jangan egois Nin, aku tahu kalo kamu juga sayang sama Pak Mo. Ya kan?"


"Bagaimana aku yang kotor ini bisa mendampingi kak Ryung yang begitu sempurna Lia... bagaimana bisa?"


"bagaimana Lia?" tanya Jung Su ketika melihat Lia ada di dapur.


"Anin anak yang keras kepala Jung... susah untuk merubah apa yang ada dipikirkannya. ya...mudah-mudahan aja dia memikirkan apa yang aku katakan tadi."


Kemudian Lia kembali ke atas dan masih melihat Anin duduk termenung diatas tempat tidurnya. "minumlah Nin... agar kamu merasa lebih baik."


Anindiya langsung minum teh hangat itu, dan berbaring di tempat tidurnya. "aku mau istirahat Lia... terima kasih ya."


"pikirkan baik-baik Nin dan lepaskan Egomu." Ucap Lia yang kemudian pergi dari kamar.

__ADS_1


Lia menghampiri Jung dan duduk disampingnya. Lelaki itu memberikan secangkir teh pada Lia.


"thax ya.." Lia menyeruput teh dengan nikmatnya. "aku salut sama kakak mu Jung, ternyata dia sangat baik."


"kenapa bilang seperti itu?"


"aku kira Anin bertengkar dengan Pak Mo karena Kakakmu mengusir dia, tapi ternyata justru ingin mempertahankan pernikahan mereka."


"Anindya adalah cinta pertamanya... pantas kalo dia seperti itu." kata Jung Su datar.


"masak?" kaget Lia yang langsung menatap Jung Su. Mendengar itu Jung Su hanya mengangguk. "oya Jung... pak Mo itu homo gak sich?"


"hus... sembarang kalo ngomong. kakak aku normal tahu."


"kali aja, tapi untunglah kalo gak karena aku tadi asal bicara aja klo pak Mo mencintai Anin."


"itu bener lagi Lia, kakakku emang mencintai Anin." bela Jung Su. "kalo gak cinta ngapain nikah."


"pinter juga kamu pak." cengir Lia.


"masa.... muda gini dipanggil pak..." gurau Jung Su yang hanya mendapat senyum sinis Lia.

__ADS_1


__ADS_2