Menggapai Cinta

Menggapai Cinta
61


__ADS_3

Satu bulan lagi pernikahan Cecil dan Devan dilaksanakan. Pak Edward meminta bantuan Rio untuk mendesain dan mencetak kartu undangan pernikahan Cecil dan Devan.


Usaha percetakan milik Rio berawal dari keisengannya mendesain. Kebetulan saat itu ada seorang konsumen langganannya yang melihat rancangan tersebut. Si konsumen tersebut sangat tertarik dengan rancangan Rio. Kebetulan orang itu akan mengadakan acara pesta, sehingga meminta Rio untuk mencetak kartu undangan acara si konsumen.


Setelah mencetak kartu undangan acara syukuran, banyak orang yang memesan kartu undangan di toko Rio. Sehingga mau tidak mau, Rio pun membuat percetakan mini, hanya menerima pesanan pembuatan kartu undangan.


Sudah banyak perusahaan yang bekerja sama dengan toko Rio. Saat ini percetakan dan toko elektronik dengan jasa servis milik Rio maju dengan pesat.


"Ini Om, contoh kartu undangan pernikahan. Semoga ada yang sesuai dengan keinginan Om dan pengantinnya," ucap Rio sembari menyerahkan map berisi beberapa contoh kartu undangan.


Pak Edward mulai melihat desain kartu undangan itu satu persatu. Melihat kemudian meneliti sebentar. Pak Edward bingung menentukan pilihan karena semua dirasa bagus menurutnya.


Setelah beberapa lama, akhirnya pak Edward memanggil Cecil untuk memilih kartu undangan yang cocok.


"Cil, kesini bentar!" teriak pak Edward saat netranya menangkap sekelebat bayangan anak perempuan kesayangannya itu.

__ADS_1


Cecil yang merasa ada yang memanggil pun mendatangi sumber suara.


"Papa manggil Cecil?" tanya Cecil dengan wajah polosnya.


"Iya! Nih pilih kartu undangan yang seperti apa yang akan kalian pakai. Kamu aja yang pilih, kalau menurut Papa sih, semua bagus. Kalau menurut kamu sih terserah aja, jangan ngikutin kami," ujar pak Edward bijak.


Cecil akhirnya duduk tak jauh dari Rio. Dia memperhatikan contoh kartu undangan yang dibawa Rio tadi. Setelah semua contoh dilihat satu persatu, akhirnya Cecil memutuskan untuk mengambil sebuah contoh yang unik dan tampak Elegan.


"Tunggu ya, Pa! Cecil mau hubungi Devan dulu, siapa tahu dia lagi..."


"Ada apa mencari aku?"


Belum sempat Cecil bersuara, suara Devan terlebih dahulu menganggetkan, mereka yang masih berada di ruangan itu.


Devan tiba-tiba muncul di gawang pintu utama.

__ADS_1


"Aku ngikut kamu aja, mau seperti apa konsep pernikahan kita nanti, aku serahkan semua padamu dan keluarga," ucap Devan tulus.


Setelah berulang kali memilah dan memilih, akhirnya Cecil dan Devan memutuskan kartu undangan yang sesuai selera mereka berdua.


*


*


*


"Bang, mau sampai kapan Abang sendiri? Kak Rahma sudah bahagia bersama dengan suami dan anak-anaknya. Aku tahu sulit melupakan cinta pertama, akan tetapi kita tidak boleh jalan di tempat. Hidup itu harus berjalan maju. Masa lalu itu untuk dikenang bukan untuk dipandang. Jika sekiranya ada yang cocok dan sreg, sebaiknya segerakan."


"Bukannya menggurui, Cecil hanya ingin melihat Abang bahagia. Cecil tidak akan bahagia jika Abang belum juga menikah. Kalau Abang tidak mau move on jangan harap Abang bisa bertemu lagi dengan Cecil," ucap Cecil panjang dan lebar.


Rio yang mendengar ucapan Cecil hanya tersenyum. Saat dia akan menjawab, tiba-tiba Dolly menyela.

__ADS_1


"Betul banget apa yang dibilang Cecil. Rahma sekarang sudah bahagia. Walaupun Frans yang salah di sini, tetapi kamu harus bisa bangkit jika kamu benar-benar ikhlas melepas Rahma untuk Frans. Buktikan jika kamu bisa mencari wanita yang lebih dari seorang Rahma Dewanti!"


Tanpa mereka bertiga sadari, tak jauh dari mereka ada seseorang yang sedang memasang telinga. Mendengarkan obrolan mereka.


__ADS_2