Menggapai Cinta

Menggapai Cinta
SR 51


__ADS_3

"Apa? Adik?" teriak Devan seraya tak percaya.


Betapa malunya Devan karena telah salah paham.


"Iya, kenapa? Kaget?" ejek Dolly.


Devan hanya bisa tertunduk malu, mengingat sikapnya tadi.


"Maaf..."


Dolly langsung meludah mendengar satu kata maaf terlontar dari bibir Devan.


"Cuiihhh! Laki-laki kek gini yang Lo mau, Cil? Lo nggak mau perjodohan dengan Rio dilanjutkan, hanya karena laki-laki banci seperti ini?" tanya Dolly dingin.


"Jangan bawa nama Gue, Dol! Gue sama Cecil nggak ada masalah apapun. Jadi jangan masukin Gue ke masalah kalian!" sahut Rio kesal.


"Nggak ada masalah sama Cecil? Asal anda tahu, saya berantem dengan Cecil gara-gara anda!" batin Devan kesal.


"Lo aja yang bodoh, Rio! Mau sampai kapan Lo seperti ini? Melepaskan cinta demi kebahagiaan dia. Seperti itu? Lo lihat sendiri bukan, adik Gue nggak bahagia!"


"Lo dulu melepaskan dia pada laki-laki yang tepat, karena laki-laki itu cinta setengah mati pada cewek itu. Sekarang, Lo lihat sendiri! Adik Gue nggak bahagia lepas dari Lo, cowok banci kek dia gak pantes dampingi adik Gue, Rio!" Dolly meluapkan kekesalannya di ruangan itu.


Berhubung Dolly berteriak di ruangan itu, akhirnya Dolly disuruh pergi. Polisi meminta mereka untuk damai, akan tetapi Dolly menolak.

__ADS_1


"Gue mau damai sama dia, kalau Gue sudah puas menghajar dia!" ujar Dolly sebelum keluar dari ruangan itu.


"Honey, maaf! Aku tidak tahu jika dia abangmu. Tolong maafkan aku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi," pinta Devan sembari berlutut di kaki Cecil.


"Maaf, sebaiknya kita introspeksi diri. Beberapa hari ini kita tidak usah ketemu ataupun teleponan. Jaga dirimu, aku pulang!" pamit Cecil seraya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan diikuti oleh Rio di belakangnya.


Cecil masih marah karena masalah tadi yang belum kelar ditambah lagi dengan masalah baru. Kerjaan Cecil menjadi bertambah, dia harus membujuk abangnya untuk mencabut tuntutan dan memaafkan Devan


*


*


*


Devan yang selama tiga hari mendekam di penjara, badannya tampak kuyu dan lemas. Pengacaranya sudah mengurus agar bebas bersyarat, akan tetapi tidak bisa karena Dolly sudah membayar banyak untuk memenjarakan Devan. Selain itu bukti juga memberatkan Devan.


Devan dijemput oleh Cecil, sesuai janji Cecil kemarin saat menjenguknya.


Tampak binar bahagia di mata Devan begitu melihat kekasih hati sudah menjemput dirinya.


"Terima kasih, kamu mau memaafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Devan dengan sungguh-sungguh.


"Jangan terlalu mengumbar janji kalau tidak ada bukti!'' sahut Cecil datar, dia masih kecewa dengan sikap Devan yang bar-bar. Main pukul orang yang belum dikenalnya.

__ADS_1


"Baik, Sayang," ucap Devan sendu.


Cecil meminta Devan untuk mengemudikan mobilnya.


"Kita langsung ke kafe atau mau jalan-jalan dulu?" tanya Devan, menawarkan.


"Terserah kamu aja, aku ngikut. Kemana saja ok, asal jangan masuk jurang atau menghajar orang," jawab Cecil penuh dengan sindiran.


Devan hanya meringis mendengar jawaban dari gadis cantik yang membuatnya hilang akal.


"Baiklah, kalau begitu kita langsung ke kafe saja. Aku sudah rindu masakan enak," ucap Devan memutuskan.


Devan melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju salah satu kafe miliknya. Dalam perjalanan, mereka tidak terlibat percakapan karena Cecil masih marah pada Devan.


Gara-gara Devan menghajar Dolly, hubungan abang adik itu menjadi renggang. Bahkan Dolly cenderung menghindari Cecil sejak mengabulkan permintaan Cecil. Mencabut tuntutannya.


Cecil takut kehilangan keluarganya hanya karena laki-laki lain yang baru saja hadir di hatinya.


"Kamu melamun, honey? Apa yang kamu pikirkan, hmm?" tanya Devan khawatir karena sejak tadi Cecil hanya diam, membuang pandangannya keluar.


"Aku tidak apa-apa," jawab Cecil memaksakan senyumnya.


"Aku beneran minta maaf, Sayang. Aku tidak tahu jika dia abangmu, kalau aku tahu aku tidak akan mengejar kalian," ujar Devan sendu.

__ADS_1


__ADS_2