
Mo Ryung melihat foto-foto pernikahannya bersama Anindiya, ia berjalan ke kamarnya tanpa mempedulikan Tomi yang masih berdiri didepannya.
Laki-laki itu tertunduk tak berkata apa-apa, hingga membuat Pak Bimo dan Tomi saling pandang, hingga Tomi mengangkat kedua bahunya.
Tomi menghubungi Jung Su untuk segera datang ke Jakarta. Ia menceritakan apa yang terjadi pada kakak satu-satunya itu, Jung Su yang masih ada perjalanan bisnis itu langsung bertolak dari Johor ke Jakarta.
"Apa kakakku sudah gila, Tom. Bagaimana bisa ia melepaskan Bram begitu saja?"
"saya juga tidak tahu tuan, saya juga merasa kalo ini bukan diri tuan Mo."
"Ya ampun... apa kepribadian Anin sudah berpindah ya..."
Di dalam kamar, Laki-laki yang sudah berusia 34 tahun itu merebahkan dirinya diatas tempat tidur, meletakkan ponselnya dan memejamkan mata.
Muncul dikepalanya saat Anindiya gadis manis nan cantik itu tidak bisa tidur, ia membolak balikan badannya gusar hingga Mo Ryung mendekapnya sangat erat. Itulah pertama kalinya Mo Ryung berani memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat. Meskipun jantungnya berdebar cukup kencang yang membuat dia juga tak bisa tidur.
Tapi debaran jantungnya terkalahkan oleh hangatnya tubuh Anindiya yang mulus tanpa cacat. Laki-laki itu terus membayangkan istrinya tak henti-henti, kadang ia tertawa kadang juga menangis.
__ADS_1
Melihat tingkah laku tuannya, dari celah pintu yang tak tertutup rapat, hati Tomi merasa iba pada tuannya yang tak pernah jatuh cinta itu. Entah apa yang Tuhan rencanakan untuknya, pertama kali jatuh cinta sudah terpuruk seperti ini.
"Pak Bimo..." Ucap Tomi terkaget saat Pak Bimo berada dibelakangnya "apa yang harus saya lakukan pak?"
"Kembalikan Anindiya ke rumah ini, itu satu-satunya cara."
"Tapi Pak Mo melarang saya untuk mencari nyonya, bahkan nyonya telah diserahkan pada Bram."
Pak Mo tiba-tiba terdiam mendengar perkataan Tomi, benar-benar tidak membuang sifat ayahnya yang mementingkan kebahagiaan orang lain dari kebahagiaan dirinya sendiri."
***
Bram, lelaki tampan yang mukanya masih terlihat sisa bengkak itu, di sore yang cerah ini menemui Lia temannya di kantor Star coorporation. Bukan untuk memohon kembali ke kantor tetapi meminta Lia untuk memberi tahu dimana Anindiya sekarang.
tok...tok...tok... Coba Bram mengetuk pintu Rumh Lia, kemudian muncullah seorang wanita setengah baya yang membukakan pintu. Ia adalah ibu dari Lia, Nyonya Saskia.
"tante Kia, Lia nya ada?" tanya Bram dengan tersenyum
__ADS_1
"ada, masuk Bram.. udah lama kamu gak kesini, kenapa wajah kamu Bram?"
"Biasa te.. anak laki-laki."
"kamu ini Bram, bentar ya... aku panggilin Lia. Ia baru aja datang."
"sayang... ada Bram tu dibawah." panggil ibu Lia, dengan mengetuk pintu kamar.
Lia yang baru dari kamar mandi, langsung cepat-cepat ganti baju dan menemui Bram.
Bram...??? kata Jung Su bukannya ia disekap oleh pak Mo?
Lia turun tergesa-gesa dan langsung berdiri tepat didepan Bram, di ruang tamu. Ia benar-benar gak nyangka Bram bisa keluar dari sana.
"Kamu kenapa Lia?" tanya Bram langsung berdiri ketika melihat Lia masih berdiri tepat dihadapannya.
tiba-tiba parrr, suara tamparan tangan Lia tepat di pipi Bram hingga laki-laki itu mengeluarkan darah dari pojok mulutnya.
__ADS_1
"Brengsek kau Bram" umpat Lia keras