Menggapai Cinta

Menggapai Cinta
Ternyata Aku Salah


__ADS_3

Gadis yang sekarang berprofesi sebagai asisten koki resto Bu Mirna itu, duduk tepat didepan Bram, lelaki yang melakukan pelecehan terhadap dirinya. Mereka berdua terdiam begitu lama hingga mereka tak sadar sedari tadi ada dua orang laki-laki berparas tampan sedang memperhatikan mereka.


"ayo pergi Jung!" ajak Mo Ryung yang tidak tahan melihat Anindiya duduk berduaan dengan Bram.


"kakak yakin, tidak ingin tahu apa yang mereka bicarakan."


"sudahlah Jung, aku tidak mau berharap banyak."


"tapi kak..." cegah Jung Su, yang langsung memukul adiknya dengan tangan.


Mereka berduapun melaju tanpa tahu apa yang tengah dibicarakan Anin dan Bram.


"gimana kabarmu?" Tanya Bram yang akhirnya angkat bicara.


"langsung aja, perlu apa kau kesini?"


"aku kesini..." kata Bram ragu. Laki-laki itu kemudian duduk bersimpuh dibawah kaki Anindiya, yang membuat gadis itu menyingkirkan kakinya ke sudut yang lain.


"maafkan aku Nin..." pinta Bram dengan tertunduk. "aku tahu perbuatanku kelewat batas, aku tidak pantas untuk memohon maaf padamu. Tapi bagaimanapun aku harus melakukannya Nin... aku tak mau seumur hidupku merasa bersalah padamu."

__ADS_1


"aku terima permintaan maafmu, bangun dan pergilah!" suruh Anin acuh


"Nin... " panggil Bram yang melihat Anin melangkahkan kakinya pergi.


Anin tak menjawab panggilan dari Bram, ia terus melangkah menjauhi Bram dan masuk ke ruang taman didekat dapur. Tempat biasa ia beristirahat. Dan Bram pun menyusul kesana kemudian duduk bertumpuh di depan Anindia


"kembalilah padaku?" pinta Bram


"setelah kau melakukan itu semua padaku?" kata Anin ketus dengan senyum sedikit sinis. "jangan berharap Bram, dengan kau mengambil kesucianku aku bisa berpaling padamu."


"aku tidak pernah mengambil itu padamu, aku akui waktu itu aku memang hampir melakukannya. Tapi aku tak bisa menghancurkan apa yang menjadi milikmu. Aku berani bersumpah."


"Nindiya...Nindiya..." panggil Bram berkali-kali sambil mengejar gadis yang sekarang keluar dari resto dan pergi naik taksi.


Taksi itu terus melaju tak tentu arah, ia hanya mengikuti apa yang dikatakan Anindiya.


Apa ini? apa aku harus percaya ucapan laki-laki brengsek itu? bagaimana bisa dia berucap seolah-olah tak melakukannya padaku? oh...Tuhan apa yang sebenarnya terjadi pada diriku? tapi jika itu semua memang benar, apa yang harus aku lakukan? apa aku harus kembali pada Kak Ryung tapi setelah apa yang aku lakukan padanya...


tiba-tiba Anindiya teringat perkataan Bu Mirna

__ADS_1


pikirkan baik-baik dengan langkah yang kau ambil. Kesampingkan egomu dan dengarkan hatimu.


Maka nak Ryung tidak akan bersikap seperti ini sekarang, tapi ia akan mencari wanita perawan untuk dinikahi. kata-kata Pak Bimo pun terlintas di pikirannya.


"ke kantor Star Coorporation pak." Ucap Anin pada sopir taksi yang dari tadi hanya menurutinya.


Setibanya di kantor, Anin berjalan dengan penuh semangat dan dadanya pun merasa dag dig dug gak karuan. Kegembiraan terlintas di dalam dirinya, ia memutuskan untuk kembali pada suaminya, suami yang telah berjuang menggapai cintanya.


"nyonya" sapa Tomi yang waktu itu ada di resepsionis.


"Pak Tomi." Sapa Anin sumringah "kak Ryung ada?"


Melihat wajah Anin yang berbinar-binar Tomipun bersemangat untuk mengantarnya ke ruang kebesaran tuannya. Ia sangat senang atas kehadiran Anindiya yang sepertinya membawa kabar baik, akhirnya ia bisa istirahat dan bekerja tak seperti kuda lagi.


Setiba di depan ruangan Ryung tanpa mengetuk pintu dengan senyum sumringah ia membukanya.


"Kak Ryung..." Panggilnya, dan tiba-tiba senyum itupun seketika hilang ketika melihat seorang perempuan duduk diatas meja Ryung dengan posisi sedikit membungkuk ke arah suaminya.


ternyata aku salah, ini kali kedua aku melihatnya dengan gadis itu,

__ADS_1


__ADS_2