
"Maafkan Rio, Bun," ucap Rio lirih.
Setelah sang bunda meninggalkan dirinya tadi, Rio langsung mengejar hingga ke kamar. Kebetulan bunda Sonya tidak mengunci pintu kamarnya. Rio bersimpuh di kaki bunda dan meminta maaf.
Bunda Sonya pun mengusap rambut anaknya dengan penuh kasih sayang. Beliau terlalu menyayangi anaknya itu, sehingga tidak ingin sedikit pun anaknya merasakan kesedihan ataupun kesusahan. Cukup dirinya saja yang merasakan itu. Jangan sampai anak yang tinggal satu itu hidupnya susah dan menderita. Bu Sonya hanya ingin kebahagiaan anak semata wayangnya itu.
"Bunda sudah memaafkan kamu, Bunda hanya ingin kamu memikirkan ulang hubunganmu dengan Mia. Jangan sampai kamu menjadi ATM berjalan mereka! Kamu bisa menjadi seperti sekarang bukan karena campur tangan mereka, tetapi kenapa mereka yang menikmati semua itu?" ucap bunda Sonya sembari terus mengusap rambut anak lelakinya itu.
"Iya, Bun. Rio akan menjauhi Mia dan keluarganya. Semua yang menurut Bunda baik akan Rio lakukan. Rio sayang Bunda!" ucap Rio sambil memeluk bunda Sonya.
Rio adalah gambaran anak yang sangat menyayangi ibunya. Semua dilakukan demi kebahagiaan sang bunda. Hanya saja kalau untuk menikah, dia belum sanggup. Sifatnya yang tidak mudah jatuh cinta menjadi boomerang bagi diri sendiri.
*
*
*
Sebulan kemudian, Frans mengajak reuni di rumah pak Edward. Frans sengaja melibatkan teman-temannya dalam acara pernikahan adik perempuan satu-satunya. Semua kakak Cecil begitu menyayangi dan memanjakan dirinya.
Semua sudah berkumpul di rumah berlantai tiga itu. Vani beserta anak dan suaminya juga hadir. Jo dan Sheila pun ikut serta meramaikan acara reuni itu. Beberapa teman semasa SMA hanya beberapa saja yang hadir.
__ADS_1
Cecil dan Devan pun tidak ketinggalan. Dolly dan Tiara, pasangan legendaris diantara mereka pun ikut bergabung bersama baby Adnan yang baru berusia enam bulan.
Suasana rumah itu sangat ramai oleh anak-anak pak Edward berserta kawan-kawannya.
Di saat semua orang bergabung menikmati acara reuni. Rio lebih memilih menyendiri di pinggir kolam. Perasaan Rio saat ini sulit untuk dijelaskan.
Menjauh dari Mia dan keluarganya ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ternyata mereka menganggap hubungannya dengan Mia didasari rasa cinta. Padahal Rio hanya menganggap sebatas teman. Mia yang nyambung diajak cerita membuat pertemanan mereka terasa nyaman.
Terlalu banyak drama yang dilalui untuk menjauh dari Mia. Sampai-sampai Rio tidak berani keluyuran sendiri. Kemana-mana selalu menggandeng Tasya, sang karyawan yang memiliki rupa cantik jelita tapi judes tiada tara. Walaupun begitu, Tasya wanita baik-baik. Hanya saja mulutnya sepedas bon cabe level 100 (jangan diprotes yak, namanya ngarangš¤).
"Abang kenapa di sini? Abang menghindari Kak Rahma?" tanya Cecil pelan.
"Maksudnya?" ucap Rio setelah bisa menguasai keadaan.
"Kalau cinta jangan dipendam, sakit 'kan? Move on, Bang! Di luar sana banyak cewek cantik yang siap menjadi makmum Abang..."
"Kamu mau menjadi makmum Abang?" potong Rio tiba-tiba.
"Hah?"
Rio mengangguk dan tersenyum tipis melihat wajah terkejut Cecil. Setelah itu Rio meninggalkan Cecil bengong seorang diri di dekat kolam renang.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari jika ada Devan yang selalu mengikuti kemana Cecil pergi.
Rio bergabung bersama teman-temannya setelah meninggalkan Cecil.
"Nah, ini dia bujang lapuk kita!" ucap salah satu teman SMA Rio dan Frans.
"Enak saja bujang lapuk! Kalau mau kasih julukan yang keren dikit kenapa?" protes Rio.
"Bukan bujang lapuk, Bro! Tapi..."
"Tapi apaan?" tanya Rio penasaran.
"Panglatu alias panglima lajang tua, buahahaha..."
Grrrr...
Semua orang yang hadir di situ tertawa lebar, menertawakan julukan Rio. Pasalnya, hanya Rio seorang yang belum menikah diantara mereka.
"Kalian ini! Tega banget sama temen sendiri," ucap Rio memelas.
"Makanya move on, Bang! Dia sudah bahagia bersama anak dan suaminya. Seharusnya Abang juga bisa bahagia bersama orang lain. Jangan menyiksa diri Abang sendiri!" ucap Cecil tiba-tiba
__ADS_1