Menggapai Cinta

Menggapai Cinta
Tak Sadar


__ADS_3

Bram memandangi dengan seksama mantan kekasihnya itu, wajah putih nan cantik itu membuat Bram merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan barusan. Bram berbalik dan duduk dibawah bersandar di tempat tidur tepat didekat Anin. Ia mengusap gusar rambut pendeknya. Pikirannya merasa kacau, ia benci dengan apa yang ia lakukan.


Brakkkk.... suara dentam pintu di dobrak dari luar terdengar sangat keras. Sosok tinggi melangkahkan kakinya cepat mendekati Bram.


Bram yang tadinya duduk lalu berdiri dan damm Bram menerima tendangan keras di dadanya hingga ia terpental. Laki-laki yang datang itu tak lain adalah Mo Ryung. Ia mendekati Bram dan melayangkan pukulan dari tangan kekarnya tepat diwajah Bram. Mo Ryung menghajar Bram tanpa ampun.


"cukup kak..." larang Jung Su yang melihat kakaknya menghajar Bram dengan membabi buta. "ia bisa mati."


"Pak Mo." Bram berusaha bangkit yang kemudian di tendang oleh Mo Ryung dan tersungkur.


Mo Ryung mendekati istrinya yang tak sadar diatas tempat tidur, ia membuka selimut bermaksud untuk membawanya pergi. Alangkah terkejutnya, ia melihat istrinya telanjang bulat dan badannya terdapat beberapa kecupan.


Mo Ryung murka dengan apa yang ia lihat, ia menutup kembali selimutnya dan menyentuh tangan istrinya yang sudah dingin. Dengan segera ia membawa istrinya pergi ke rumah sakit.


"Bawa dia dan taruh di ruang bawah tanah." Mo Ryung berjalan dengan sedikit berlari.


****

__ADS_1


Sudah dua hari, wanita yang sudah hampir setengah tahun menjadi istri Mo Ryung itu masih tertidur diatas tempat tidur rumah sakit. Mo Ryung yang tak beranjak dari tempat duduknya pun terlihat begitu lelah. Ia memegangi tangan istrinya, sesekali mengecup tangan putih itu dengan takzim.


Maafkan aku Nin... aku tidak bisa menjagamu seperti apa yang telah aku janjikan kepada paman. Kau seperti ini karena aku Nin... Maaf...


Air mata Mo Ryung yang hampir tidak pernah keluar, akhirnya menetes juga. Ia membenamkan wajahnya disamping tempat tidur Anin. Laki-laki itu terisak, ia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada istrinya.


Jung Su yang beberapa kali menawarkan diri untuk menggantikannya menjaga Anin, ia tolak mentah-mentah. Ia hanya ingin bersama istrinya.


Dokter Azril datang untuk memeriksa Anindiya, ia terkejut melihat Mo Ryung tak berdaya seperti itu. Yang ia kenal Mo Ryung adalah laki-laki yang tak tergoyahkan dengan wanita manapun.


Wanita ini memang benar-benar spesial bagi Mo Ryung.


"kenapa belum sadar ya Zril?"


"Dosis obat yang ditelannya terlalu tinggi, tapi tenanglah.. kami sudah berusaha sebaik mungkin. Denyut nadinya sudah mulai normal. Sebaiknya kau istirahat..."


Azril meninggalkan Ryung dan mulai memeriksa gadis yang masih belum sadar itu. Berbagai macam alat yang terpasang pada dirinya, satu persatu dilepas oleh suster yang membantu Azril.

__ADS_1


"Keadaannya semakin membaik, tenanglah" Ucap Azril berkali-kali yang masih tidak bisa membuat Ryung tenang.


****


Di lorong rumah sakit, Jung Su duduk termenung sendirian. Ia merasa iba terhadap kakaknya. Baru kali ini ia menyukai seseorang tapi berlaku hal yang diluar pikirannya.


"tuan Jung Su." Lia menghampiri dan memecahkan lamunan adik satu-satunya Mo Ryung itu.


Jung Su memandang Lia, yang biasanya berdandan dengan rambutnya yang disanggul anggun, sekarang ia melihat rambut Lia yang terurai dengan pemanis jepit yang senada dengan bajunya. Betul-betul terlihat manis, gadis yang super galak ala Jung Sun itu.


"Bagaimana Anin?"


Mendengar pertanyaan itu, Jung Su hanya menggelengkan kepala dan terus menatap Lia dengan takjub.


"apa yang kau lihat Jung?" karena tak ada respon dari laki-laki itu, akhirnya Lia memukul lengan Jung Su dengan tasnya.


"au..." teriak Jung Su sambil mengelus lengannya. "galak amat"

__ADS_1


"sekali lagi menatapku seperti itu, mati kau." ancam Lia


"Kenapa semua orang ingin membunuhku?" gurau Jung Su dengan mimik muka lucu, yang membuat Lia tersenyum.


__ADS_2