
Di Kantor Star Coorporation,
Mo Ryung duduk dibelakang mejanya hanya menatap laptop yang menyala, ia tidak bisa mengerjakan apa-apa. Otaknya dipenuhi dengan Anindiya, istri yang meminta berpisah dengannya.
"Tuan... " sapa Tomi yang memecahkan lamunan Ryung. Laki-laki itu menatap Tomi dengan tajam membuat Tomi sedikit takut.
apa aku salah? kenapa Tuan Mo melihatku seperti itu.
"Maaf Tuan, apakah laporan produksi kita ada masalah?"
"aku belum memeriksanya, Tom.."
"maaf tuan, ada yang bisa saya bantu." tawar Tomi sedikit mendekat.
"tak ada." Kata Ryung seraya membuka dokumen laporan itu dan menandatanganinya.
Semenjak kejadian itu, Ryung selalu pulang larut malam, ia menyibukkan dirinya dengan bekerja, bekerja dan bekerja. Ia hanya ingin menenangkan dirinya, agar tidak salah dalam mengambil keputusan yang diminta Anindiya yaitu bercerai.
__ADS_1
Setiap malam Mo Ryung selalu datang ke kamar Anindiya, melihat istrinya yang tertidur lelap dan mengecup keningnya kemudian keluar.
"mau minum nak..." tawar Pak Bimo pada Ryung, dan laki-laki itu pun duduk di meja bar yang ada di dapur.
Dengan cekatan pak Bimo membuatkan kopi pada tuannya yang telah dianggapnya anak sendiri.
"Bapak gak pulang?" Tanya Ryung, yang heran Pak Bimo belum pulang malam itu.
"belum nak... aku merasa khawatir pada kalian berdua." Jawab Pak Bimo yang duduk disamping Mo Ryung. "yang sabar ya nak... ini hanya asam garam pernikahan."
Gadis dengan rambut bergelombangnya itu duduk di balkon kamar, ia memegang ponselnya berniat untuk menghubungi Jung Su. Ia ingin keluar rumah sbentar dengan motor Jung Su.
tut...tut... suara ponselnya terhubung, sebelum Jung Su mengangkat tiba-tiba Mo Ryung masuk kamar dan mendekati Anin dengan membawa secarik kertas putih.
"aku sudah memikirkannya." Kata Mo Ryung mengawali pembicaraan diantara mereka, laki-laki itu sudah memikirkan permintaan Anin tentang bercerai. "Jika perpisahan ini membuat kau bahagia, aku terima. Ini surat permohonan yang harus kamu tanda tangani. Nanti biar Tomi yang mengurus selanjutnya." Kata Ryung berat, seraya memberikan secarik kertas surat permohonan cerai pada Anindiya yang masih terdiam.
Setelah menyerahkan suratnya, Laki-laki beralis tebal itu melangkahkan kakinya pergi dengan perasaan yang hancur. Akhirnya Mo Ryung tak kuasa menahan tangisnya dan air matanya pun membasahi pipi pria tampan bak artis korea itu.
__ADS_1
Anindiya memegang surat permohonan itu dengan bergetar, surat itupun jatuh kelantai. Ia terdiam, dadanya sakit sekali. Air mata seperti telah habis dan tak bisa keluar lagi. Ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa, apa yang ia minta beberapa hari yang lalu pada suaminya telah dikabulkan.
Tiba-tiba bunyi ponsel memecahkan keheningan gadis yang tengah duduk di balkon itu.
"Halo Nin.. ada apa?" Tanya Jung Su yang tadi belum bisa mengangkat ponselnya. Tak ada suara yang terdengar dari Anin. "Halo... Nin..."
Tanya Jung Su lagi.
"Gak jadi Jung, Maaf." Jawab Anindiya dengan lemas
"Kau tak apa?"
"ya, aku baik." Jawab Anin segera menutup ponselnya. Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya mengambil surat itu dan meletakkannya dimeja kemudian ia mengambil pena.
*Apa yang kau fikirkan lagi Nin...? ini kan yang kau minta? berpisah dengan suami yang begitu sempurna.... suami yang begitu mengerti dirimu... suami yang tak meminta balasan apapun darimu... suami yang hanya memikirkan kebahagiaanmu.
Maaf*...
__ADS_1