Menggapai Cinta

Menggapai Cinta
SR 46


__ADS_3

"Uhukk..."


Rio tersedak ludah sendiri mendengar ucapan Cecil.


Cecil langsung menempelkan gelas pada bibir Rio begitu mendengar dan melihat Rio tersedak. Cecil tak sadar jika minum yang diberikan padanya tadi adalah bekasnya.


Rio dan Cecil tampak lebih akrab setelah keduanya memutuskan pertunangan. Hubungan yang terjalin di antara keduanya adalah teman tapi keluarga. Sesuai kesepakatan bersama.


Melihat kedekatan Cecil dan Rio memancing rasa cemburu Devan.


"Ghemm!"


Rio dan Cecil sontak langsung melihat ke arah suara.


Devan langsung minum begitu selesai berdehem.


"Maaf, tenggorokanku rasanya kering jadi aku langsung minum. Biar tenggorokan sedikit basah," ucap Devan saat tatapan mata kedua orang di dekatnya terarah pada dia.


"Iya, silakan! Kita ke sini 'kan memang mau makan dan minum. Bukan begitu, Bang?" sahut Cecil meminta persetujuan Rio.

__ADS_1


Rio mengangguk dan memaksakan senyum pada Devan.


Tak lama kemudian, pesanan makanan mereka datang. Untuk sementara obrolan mereka tertunda.


Lima belas menit berlalu, nasi di piring mereka telah kosong. Rio pun memutuskan membuka obrolan mereka.


"Kalian saling mengenal sudah berapa lama?" Rio memulai introgasinya.


"Kurang lebih enam bulan yang lalu kita pertama kali bertemu, bukan begitu Devan?" sahut Cecil mencoba membantu Devan menjawab.


Rio masih diam menunggu Devan menjawab.


"Kalau memang benar-benar mencintai, walaupun belum ada kepastian. Akan tetap menunggu jawaban dengan sabar. Berdo'a saja semoga ada jodoh dengannya. Lebih utama, semakin menunjukkan perhatian kita pada sang pujaan hati tentunya! Jangan menyerah sebelum ada yang mengesahkan dia!" ucap Rio tanpa menatap Devan.


Hati Rio berdenyut nyeri mengingat perasaannya yang hanya menjadi sebatas rasa. Rasa cinta yang tak pernah sampai pada sang pujaan hati.


Pada kenyataannya, dia sendiri masih selalu berharap bisa mengubur perasaannya dalam-dalam. Usahanya bertahun-tahun seakan tak ada hasilnya. Selalu berputar dan kembali pada muara yang sama.


Walaupun rasa cinta itu tidak sebesar sebelumnya, akan tetapi Rio belum berani menjalin hubungan dengan lawan jenis. Dia takut melukai perasaan sang kekasih, seperti Cecil.

__ADS_1


"Kalau bersabar dan berjuang untuk mendapatkan cinta Cecil itu pasti! Jika saya tidak sabar, mungkin saat ini saya sudah mencari gadis lain," ucap Devan membuyarkan lamunan Rio.


"Baguslah! Perjuangan dan kesabaranmu harus lebih dan lebih lagi. Cecil itu sangat istimewa, tidak hanya cantik wajahnya. Dia juga cantik hatinya. Tidak akan menyesal laki-laki yang mempersuntingnya nanti," sahut Rio sambil mengacungkan jempolnya.


Cecil tersenyum bahagia mendapat pujian terselubung dari Rio. Padahal sudah terlalu sering Rio memujinya di hadapan orang lain. Akan tetapi, kali ini Cecil merasa Rio benar-benar memuji dari lubuk hati yang dalam.


"Cintai dia dengan tulus, sayangi dan jaga dirinya dengan segenap hatimu!" ucap Rio sembari menepuk pundak Devan pelan.


"Aku titip dia, wanita terbaik kedua setelah ibuku!" ucap Rio lagi sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan meja itu.


Rio membayar makanan mereka di kasir, ternyata Devan pemilik kafe. Sehingga apa yang mereka makan tadi tidak usah dibayar alias gratis.


Rio naik ke motor dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak tahu kenapa dadanya terasa sesak. Lebih sakit dibandingkan saat Frans memper ko sa Rahma kemudian menikahi wanita pujaan hatinya.


Ckiiittt


Air mata menghalangi pandangan Rio, sehingga dia hampir saja menabrak sebuah truk Fuso di depannya. Untung saja Rio bisa menguasai kemudi motornya, sehingga dia masih sempat mengerem laju motor.


"Hei, bisa menjalankan motor tidak!"

__ADS_1


"Ngerem dadakan, kalau tertabrak mam pus kamu!"


__ADS_2