
Banyak suara sumbang memaki dirinya. Akan tetapi, Rio tetap diam tak bersuara. Dia hanya menangkupkan kedua tangannya di depan da da sebagai tanda permintaan maaf. Rio pun akhirnya menepikan motornya. Berhenti di bawah pohon rindang.
Dari kejauhan, tampak seorang laki-laki memperhatikan Rio. Laki-laki itu menyunggingkan senyum tipisnya, mengejek.
"Kalau cinta itu diperjuangkan, bukan dilepaskan! Mau sampai kapan Lo jadi laki-laki bermental tempe? Bangkit kejarlah, raihlah, gapai cintamu. Setelah tergapai, pertahankan! Jaga dia dengan kasih sayang dan perhatian! Jangan terlalu erat menggenggamnya, karena itu akan menyakiti dia!"
Laki-laki itu tertawa setelah mengirimkan sebuah pesan pada Rio. Lalu kembali melajukan mobilnya, melewati Rio yang sedang duduk termenung di bawah pohon.
"Cuiihh... dasar Ban ci! Jadi cowok kok lembek, malu sama ayam!" ucapnya kesal.
Setelah dirasa cukup, akhirnya Rio kembali menggunakan helmnya. Lalu dia melanjutkan perjalanan menuju rumah. Suasana hati yang buruk membuatnya melupakan tanggung jawab atas pekerjaan yang diterimanya.
Sehari yang lalu, Dolly kembali memintanya membuatkan program baru untuk divisi timbangan. Rio akan bekerjasama dengan Cecil untuk mengerjakan itu, agar nantinya Cecil lebih mahir dalam membuat program untuk kemajuan Surya Sawit.
*
*
__ADS_1
*
Sementara itu, Cecil menerima cinta Devan. Dia akan berusaha membuka hati dan belajar mencintai. Seperti kata Dolly padanya.
"Jadi perempuan itu lebih baik dicintai. Jangan sekali-kali kamu mencintai seseorang terlalu dalam, karena belum tentu itu akan menjadi jodohmu. Jangan terlalu menunjukkan perasaanmu, jika laki-laki itu memang cinta dia akan memperjuangkan dirimu!"
Dolly adalah seorang kakak yang baik, walaupun tingkahnya sering menyebalkan. Itulah kenapa Cecil begitu dekat dengan Dolly sejak kecil.
"Terima kasih, Honey. Terima kasih, aku berjanji kamu adalah wanita satu-satunya, selain Mommy. Aku akan membahagiakanmu seperti pesan mantan kamu tadi," ucap Devan dengan wajah berbinar.
Devan sangat bahagia karena cintanya berbalas. Berbeda dengan Cecil, dia tampak biasa saja dan datar. Cecil sudah belajar banyak pada laki-laki yang saat ini disebut mantan oleh Devan.
"Yang penting aku sudah berusaha membuka hati dan belajar menerimanya. Urusan jatuh cinta itu belakangan!" batin Cecil sebelum akhirnya memutuskan menerima cinta Devan.
"Mau berapa kali kamu mengucap terima kasih? Biasa saja, jangan lebay. Malu!" ucap Cecil menanggapi perkataan Devan baru saja.
"Biarin lebay, yang penting aku bahagia saat ini!" sahut Devan masih dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"Sudah, jangan senyum terus! Kering nanti gigi," canda Cecil.
"Kok, gitu sih, Hon? Tega banget do'ain gigi Mas kering," ucap Devan pura-pura memasang wajah sendu.
"Dih, kek anak kecil! Begitu saja ngambek," ledek Cecil.
"Habisnya do'a kamu jelek banget! Kalau kita bisa mengucapkan hal-hal baik, kenapa harus menggunakan kata jelek. Karena apa? Karena sebuah ucapan itu do'a untuk kita," jelas Devan dengan sabar.
"Baik, Pak Ustadz," sahut Cecil cengengesan.
"Aku bukan ustadz, setidaknya apa yang aku tahu. Aku bagi ilmu itu untuk orang lain, biar berkah," sangkal Devan.
"Iya, iyaa!" jawab Cecil.
"Maaf, De! Aku harus pulang, masih ada program baru yang harus segera aku rampungkan," pamit Cecil kemudian.
"Ok! Kamu mau pulang ke rumah atau ke perusahaan? Biar aku antar," tanya Devan.
__ADS_1
"Pulang ke rumah saja, sudah jam dua. Kalau ke perusahaan nggak akan terburu," jawab Cecil seraya menyampirkan tas di pundak.