
"Aaa..." jerit Cecil begitu badannya terasa melayang di udara, kedua tangannya langsung mengalungi leher sang suami.
"Abang, turunin aku bisa sendiri!" teriak Cecil ketakutan. Takut terjatuh dari gendongan Rio
"Aku tahu kamu kesakitan, makanya aku gendong. Biar gak terlalu sakit," ucap Rio tetap melanjutkan langkah kakinya menuju kamar mandi.
Rio mendudukkan istrinya di atas closed. Kemudian dia meninggalkan Cecil untuk mengisi bathtub. Setelah penuh dan dengan temperatur air yang pas menurutnya, Rio menambahkan cairan sabun dengan aroma terapi.
Rio kembali pada istrinya, membuka lilitan selimut yang menutupi tubuh Cecil. Kemudian mengangkat sang istri dan memasukkan ke bathtub dengan hati-hati.
"Mau aku gosok punggungnya, hmm?" Rio menawarkan diri untuk membantu sang istri.
"Tidak, Cecil bisa sendiri. Abang keluar saja," sahut Cecil dengan wajah memohon.
"Baiklah, aku keluar. Jika membutuhkan bantuan, panggil saja. Aku akan menunggu di depan pintu," ujar Rio sembari mengusak rambut Cecil sebelum meninggalkan kamar mandi.
*
*
*
Hari pun berlalu, kini usia pernikahan Cecil dan Rio sudah enam bulan. Saat ini Cecil telah hamil empat bulan. Selama kehamilannya, Rio yang mengidam. Semua itu karena besarnya rasa cinta Rio pada Cecil.
Dari awal bertunangan hingga sekarang sudah enam bulan pernikahan, tak sekalipun kata cinta dan sayang terucap dari mulut Rio. Padahal Cecil sangat menunggu momen itu. Kehadiran janin dalam rahim Cecil pun tak juga membuat Rio mengucapkan kata-kata sakral itu.
"Bang, besok diminta ke rumah Mama. Mau ngomongin acara syukuran empat bulan kehamilanku. Abang bisa 'kan?" ucap Cecil sembari memainkan kancing piyama Rio.
"Iya, bisa. Toko sudah ada yang menghandle masing-masing bagian. Jadi, bisa ditinggal. Jam berapa kita berangkat ke rumah Mama?" jawab Rio seraya meraih tangan Cecil kemudian menci um punggung tangan istrinya.
"Pagi, jam delapan. Bisa?"
"Diusahakan ya, Sayang," ujar Rio berjanji.
"Ulangi, Bang!" teriak Cecil bahagia, akhirnya keluar juga kata-kata yang ditunggunya sejak lama.
"Ulangi apa?"
"Tadi, yang barusan Abang bilang!"
__ADS_1
"Emang Abang bilang apa? Diusahakan..."
Cecil menggelengkan kepalanya kuat.
"Sayang?"
Cecil langsung mengangguk sambil tersenyum lebar. Kemudian menge cup pipi sang suami.
"Cecil mau setiap hari Abang mengatakan itu untuk Cecil dan dedek Utun," ucap Cecil seraya mengusap perutnya yang sedikit membuncit.
"Nggak berani janji! Takut tidak bisa menepati. Konsekwensinya berat, selain mengecewakan dan menyakiti perasaan orang juga bisa dosa. Jadi Abang akan mengusahakan, jika tidak bisa jangan marah atau kecewa," sahut Rio sambil memencet hidung Cecil.
"Sudah malam, ayo tidur! Biar besok tidak bangun kesiangan," imbuh Rio sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
Keesokan paginya, selesai sarapan Rio dan Cecil pamit pada bunda Sonya jika ingin ke rumah mama Ratna.
"Bun, kami mau ke rumah Mama. Bunda nitip sesuatu nggak?" ucap Rio saat sarapan.
"Kenapa mendadak bilangnya? Kalau tadi malam bilang 'kan bunda bisa masak sesuatu untuk Mama kalian," jawab bunda Sonya dengan menggerutu.
"Maaf, Bun. Cecil lupa mau bilang," potong Cecil sendu karena merasa bersalah.
Bunda Sonya sangat menyayangi Cecil, dia sudah menganggap Cecil seperti anak perempuannya sendiri.
"Kami berangkat ya, Bun," ucap Cecil seraya mengambil tangan ibu mertuanya lalu mencium punggung tangannya.
Cecil meninggalkan rumah itu setelah ritual cipika-cipiki dengan ibu mertua.
*
*
"Jadi acaranya dilaksanakan di sini? Apa Bunda sudah tahu rencana Mama ini?" cerca Cecil.
Cecil berulang kali memotong ucapan sang mama, sehingga mama Ratna sedikit kesal.
"Makanya dengerin Mama ngomong dulu, jangan main potong aja! Biar jelas kamu mendengarkan," bentak mama Ratna.
Akhirnya mama Ratna pun menjelaskan rencana syukuran empat bulan kehamilan Cecil. Rencananya mereka akan mengundang anak yatim dan yatim piatu dari beberapa panti asuhan dan orang di sekitar komplek perumahan mereka. Selain itu, mama Ratna juga akan mengundang ustadz terkenal untuk memberikan tausiyah sepatah dua patah kata.
__ADS_1
Acara dilakukan di rumah pak Edward karena lokasi yang lebih luas. Cecil dan Rio diminta mama Ratna untuk memberitahu bunda Sonya. Meskipun begitu, mama Ratna akan datang dan meminta langsung kehadiran bu Sonya nantinya.
Rio tidak berani ikut serta dalam pembicaraan ibu dan anak itu. Dia lebih memilih untuk menemani ayah mertuanya yang menanam beberapa sayuran hidroponik.
Pak Edward sudah melepaskan semua perusahaannya untuk dikelola anak-anaknya. Beliau menghabiskan waktu dengan bercocok tanam secara hidroponik. Tanaman sayuran itu hanya untuk dikonsumsi sendiri.
"Kapan kalian akan melihat jenis kelamin cucuku?" tanya pak Edward pada menantu lelaki satu-satunya itu. Rio menjadi menantu kesayangan pak Edward.
"Rencananya nanti, Pa. Pulang dari sini langsung ke dokter obgyn," jawab Rio dengan posisi berjongkok di dekat ayah mertuanya.
Rio melihat cara bercocok tanam secara hidroponik, yang dilakukan oleh ayah mertuanya.
*
*
Acara syukuran empat bulan akhirnya dilakukan di kediaman pak Edward sesuai permintaan mama Ratna. Sedangkan acara tujuh bulanan dilaksanakan di rumah bu Sonya.
Setelah acara tujuh bulanan, mama Ratna meminta Cecil dan Rio untuk tinggal di rumahnya. Akan tetapi ditolak oleh Rio, mengingat sang bunda yang hanya seorang diri di rumah. Walaupun ada asisten rumah tangga, tetapi hanya datang di siang hari saja.
Mama Ratna pun menerima alasan yang diberikan oleh Rio. Akhirnya mama Ratna sering datang mengunjungi rumah bu Sonya.
Kini usia kandungan Cecil sudah sembilan bulan. Setiap pagi Cecil berjalan-jalan mengitari kompleks perumahan ditemani oleh Rio. Mereka sering berpapasan dengan Mia yang juga sedang hamil. Usia kehamilan Mia lebih muda dibanding dengan Cecil.
Tak ada permusuhan diantara mereka, bahkan mereka tampak seperti seorang sahabat dekat. Sedangkan Devan, kini dia sudah menyandang gelar sebagai ayah dari seorang anak laki-laki.
"Aduuhhh... ssshhh... Bangng!" jerit Cecil dari dalam kamar mandi.
Niat hati ingin membersihkan diri usai olahraga mengelilingi kompleks perumahan, tiba-tiba perutnya kembali terasa kencang dan mulas bersamaan.
Cecil pun buru-buru mandi, agar badannya terasa segar. Selama mandi rasa sakit di perutnya menghilang. Akan tetapi setelah selesai memakai handuk kimono, perutnya terasa sakit kembali.
"Abang!" teriak Cecil sekuat tenaga sembari memegang erat pintu kamar mandi.
Rio yang sedang berada di belakang awalnya tidak mendengar. Namun, dia merasa ada yang memanggilnya. Akhirnya dia memutuskan masuk ke kamar.
"Astaga, Cecil! Kamu kenapa, Sayang?" teriak Rio begitu sampai di kamarnya.
Tampak oleh Rio, istrinya itu sedang duduk bersandar pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Sakit, Bang," ucap Cecil lirih.