
"Halah, buktinya hanyut semua begitu kok!" ejek Dolly.
Rio mengambil napas sepenuh dada kemudian membuangnya perlahan.
"Kalau hanyut terbawa air, itu berarti ditakdirkan bukan untukku. Mungkin Tuhan sedang menyiapkan yang terbaik, tapi tidak sekarang," jawab Rio dengan senyuman.
"Lo memang jempolan sejak dulu! Menghadapi segala sesuatu dengan tenang. Sama persis dengan Bunda Sonya! Tidak mudah terbawa emosi seperti Frans. Walaupun dia adik kandung Gue, tetapi Gue lebih suka gaya Lo. Yaa... meskipun Lo bo doh soal percintaan."
Dolly memang pandai sekali membuat orang terbang ke nirwana, lalu menjatuhkan orang itu dalam waktu bersamaan.
"Anjiirrrr!" teriak Rio kesal dan hanya ditanggapi dengan tawa oleh Dolly dan pak Edward.
Bagaimana Rio tidak kesal? Diangkat setinggi mungkin kemudian dilempar begitu saja ke jurang.
Walaupun begitu, Rio tidak sakit hati atas ucapan Dolly. Rio tahu jika Dolly hanya bercanda saja.
*
"Rio, cepetan! Bunda sudah siap ini. Kita naik motor saja, cuma dekat ini," ucap bunda Sonya sembari melihat penampilannya.
Hari ini adalah hari pernikahan Mia, tetangga Rio si komplek perumahan.
"Iya, Bun! Sebentar," sahut Rio dari dalam kamarnya.
Hari ini mereka akan menghadiri acara pernikahan Mia dengan duda kaya raya beranak satu. Acara pernikahan dilaksanakan di rumah orang tua Mia, secara sederhana sesuai permintaan mempelai pria.
Rio dan bunda Sonya berboncengan mengendarai motor matic milik bunda. Motor lama yang penuh kenangan itu masih halus suara mesinnya.
*
Tamu undangan sudah berdatangan saat ibu dan anak itu telah sampai di tempat tujuan. Para tamu sudah memadati rumah sederhana itu. Walaupun halamannya cukup luas, sepertinya tidak bisa menampung tamu undangan sebanyak 1500 orang. Bahkan lebih karena kartu undangan yang disebar sebanyak 1500 lembar.
__ADS_1
Mia anak perempuan satu-satunya bu Santi jadi wajar jika tamu undangan membludak.
"Bun, nanti kita salaman terus pulang saja, ya?" bisik Rio di telinga ibunya.
"Kalau kita makan dulu takutnya tidak ada tempat duduk buat kita, Bun!" Rio melanjutkan bisikannya karena tidak mendapat respon dari sang bunda.
"Bun, ayo! Kita salam saja tidak usah duduk. Rio ada janji sama pak Edward juga ini," ajak Rio sembari menarik tangan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Ck!" Hanya suara decakan saja yang keluar dari mulut perempuan paruh baya itu.
Walaupun berdecak kesal, bunda Sonya tetap mengikuti langkah kaki anak kesayangannya itu. Mereka berdua langsung naik ke panggung pelaminan.
"Selamat ya, Nak Mia! Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," ucap bu Sonya sembari menyalami tangan perawat cantik itu, lali melakukan ritual cipika-cipiki.
Usai Bu Sonya dan Mia saling peluk serta cipika-cipiki, Rio menyalami kedua mempelai.
Keduanya meninggalkan rumah yang penuh sesak tamu undangan tadi.
"Memang kamu pernah masuk ke dalam plastik, Yo?" sahut bunda Sonya dengan wajah serius serta khawatir.
Melihat wajah ibunya yang tampak pias karena khawatir, akhirnya Rio tertawa sambil memukul pahanya.
"Hahaha... nggak pernah lah, Bun! Bunda ini lucu, Rio hanya menggambarkan keadaan di sana tadi. Mau ambil oksigen aja susah banget!" jawab Rio masih dengan gelak tawanya
"Kamu ini, ya! Seneng banget bikin orang tua jantungan, tahu nggak?" teriak bunda Sonya sembari mendekati Rio yang masih betah dengan pakaiannya yang tadi, walaupun mereka sudah sampai rumah.
"Sudah ah! Mau mandi dulu, Bun. Gerah!" ucap Rio sembari berjalan meninggalkan ruang keluarga.
Usai mandi dan berdandan rapi serta wangi, Rio langsung pamit pada ibunya untuk ke rumah pak Edward. Acara pernikahan Cecil dan Devan sudah di depan mata. Seminggu lagi mereka akan melangsungkan pernikahan di rumah pak Edward. Sesuai permintaan mama Ratna.
*
__ADS_1
"Sore, Om," sapa Rio begitu sampai di ruang tamu rumah pak Edward.
"Sore, Nak Rio. Ayo kita duduk di belakang saja, berkumpul dengan yang lainnya!" ajak pak Edward sembari menyeret lengan panjang Rio.
Rio pun dengan pasrah mengikuti langkah kaki pak Edward.
Acara pernikahan dengan konsep alam terbuka. Pesta dilakukan di halaman belakang rumah pak Edward. Banyak pohon yang ditumbang agar bisa memasang tenda tanpa halangan. Halaman belakang rumah pak Edward benar-benar ramai orang untuk mempersiapkan acara pesta mantu yang terakhir.
Rio membantu memindahkan beberapa pot bunga saja. Setelah itu dia duduk bersama pak Edward untuk membicarakan mengenai hal umum, akan tetapi ujungnya juga ke masalah pribadi.
"Seminggu lagi, anak-anak Om habis. Mereka sudah memiliki keluarga masing-masing. Kamu kapan nyusul mereka?" tanya pak Edward tiba-tiba.
"Rio tidak bisa menjawabnya, Om. Jodoh itu rahasia sang Maha Kuasa. Jika Dia berkehendak malam ini Rio menikah, Rio pasti menikah walau bagaimanapun caranya. Pasti ada jalan ketika Tuhan menghendaki. Jadi, Rio mohon jangan tanyakan itu lagi."
"Rio yakin Om, saat ini Tuhan tengah merancang jalan kehidupan Rio. Mempersiapkan Rio untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Om jangan khawatir, Rio pasti ketemu jodoh Rio. Tapi entah kapan, kita tidak akan pernah bisa mengetahuinya," jawab Rio panjang dan lebar dengan penjelasan yang dapat membungkam mulut. Menghentikan pertanyaan kapan Rio menikah.
"Maafkan Om yang tidak bisa menolong kamu menemukan jodoh yang diambil Frans," ucap pak Edward sendu, akan tetapi malah ditanggapi dengan tawa lepas Rio Alaska.
"Buahahaha... Om lucu! Frans itu tidak mengambil jodoh Rio. Frans itu memang jodoh Rahma. Kalau Rahma jodoh Rio sudah pasti Rio yang menikahinya sejak dulu. Om tidak perlu merasa bersalah. Karena memang tidak ada yang bersalah!" ucap Rio menepuk punggung tangan pak Edward pelan.
"Alaska pasti bangga padamu. Kamu memang benar-benar anak yang baik dan berbakti pada orang tua. Om masih berharap kamu ada jodoh dengan Cecil..."
"Om jangan aneh-aneh ya! Cecil sebentar lagi akan menikah dengan lelaki pilihannya. Mana mungkin dia menikah dengan lelaki lemah seperti Rio ini." ucap Rio merendah.
"Lemah bagaimana maksudnya?"
"Laki-laki yang tidak bisa membahagiakan pasangannya, karena tidak peka dengan diri sendiri dan pasangan. Cecil sudah banyak tersiksa selama bersama Rio. Sudah terlalu banyak air mata yang keluar dari mata Cecil karena ketidakpekaan Rio, Om."
"Seandainya dulu Rio lebih peka, mungkin saat ini kami yang sedang berbahagia menyambut hari pernikahan. Tapi sudahlah, Om. Jodoh Rio masih dalam perjalanan. Jadi tunggu saja tanggal mainnya!" jelas Rio penuh penyesalan.
"Apa kamu mulai menyadari perasaan kamu saat ini?" tanya pak Edward sembari menyentuh pundak Rio.
__ADS_1
Rio hanya menjawab dengan senyuman. Tidak menyangkal ataupun mengiyakan pertanyaan pak Edward.