
Tanpa Devan sadari bahwa kedatangannya sangat ditunggu oleh dua keluarga yang sepakat untuk menjalin hubungan keluarga.
Hari ini juga Devan akan dinikahkan oleh orang tuanya. Dia dijodohkan dengan sahabat masa kecilnya, sahabat yang juga menjadi cinta monyet sekaligus cinta pertamanya.
Devan tidak tahu rencana orang tuanya, yang dia tahu hanya kabar jika wanita yang telah melahirkan dan merawatnya sakit keras. Ibu Devan sudah lama mengidap penyakit jantung, sehingga sering keluar masuk rumah sakit untuk opname.
Devan sudah lama tidak mengunjungi orang tuanya di negeri Jiran. Berita sakitnya sang ibu membuat dia terpaksa meninggalkan semua urusannya. Kabar sang ibu yang sakit tidak mudah dipercaya, dia pun melakukan video call. Ternya benar, ibunya dalam keadaan koma. Beberapa alat medis menempel di tubuh wanita yang masih cantik di usia tak lagi muda itu.
Ibu Devan sudah sadar dan dipindahkan ke ruang rawat inap kelas VVIP kemarin siang. Begitu sadar, ibu Devan meminta pada suaminya jika dia ingin melihat Devan menikah.
Orang tua Devan tidak mengetahui jika melamar Cecil. Selama ini mereka tidak pernah saling bertukar kabar. Devan sibuk dengan bisnisnya, begitu juga orang tuanya. Ayah Devan sibuk membawa istrinya berobat, mencari perobatan yang cocok untuk sang istri.
Selain mengurus perobatan sang istri, ayah Devan juga memiliki bisnis di negeri Jiran. Sehingga Devan dan orang tuanya jarang bertukar kabar, hanya hal-hal tertentu saja mereka bertukar kabar.
Jarangnya bertukar kabar membuat anak dan orang tua itu miscomunication. Devan yang meminta agar orang tuanya datang, malah mendapat kabar jika sang ibu sakit. Akhirnya Devan mau tidak mau harus segera menjenguk ibunya.
"Mom!" ucap Devan di depan ruang rawat ibunya.
"Anakku..." sahut ibu Devan lirih, tangannya terulur meminta Devan untuk mendekat.
Di ruangan itu banyak orang, diantaranya ada seorang gadis yang menjadi masa lalunya. Gadis itu memakai baju gamis putih dengan jilbab senada. Make up tipis diaplikasikan ke wajahnya, bibirnya pun dipoles dengan lipstik nude pink sehingga terkesan natural.
Devan pun mendekati wanita yang melahirkannya itu. Mencium punggung tangannya kemudian memeluk sang ibu.
Tak lama kemudian datanglah seorang laki-laki berusia separuh baya, berpenampilan seperti tuan kali (penghulu).
"Assalamu'alaikum... apakah kedua mempelai sudah siap? Saya tidak bisa di sini lama-lama. Saya ada janji dengan seorang ustadz, satu jam lagi," ucap pak penghulu tersebut tanpa jeda.
Devan yang baru saja tiba, tidak mengerti maksud ucapan pak penghulu tadi.
"Ada apa ini, Mom?" tanya Devan pada ibunya.
"Maafkan Mommy, Nak. Mommy hanya ingin melihat kamu menikah sebelum Mommy meninggal," ucap ibu Devan lirih.
__ADS_1
"Tolong penuhi permintaan Mommy kali ini. Bukankah selama ini Mommy tidak pernah meminta apapun dari kamu?" lanjut ibu Devan dengan suara semakin lirih.
Kondisi ibu Devan sudah sangat parah, sehingga untuk kesembuhannya menunggu datangnya mukjizat dari Tuhan.
Seperti tersambar petir di panas yang terik. Begitulah perasaan Devan saat ini. Di sana dia meninggalkan wanita yang dicintai demi sang ibu. Merelakan untuk laki-laki lain. Ternyata di sini orang tuanya menginginkan dirinya menikah.
"Sama-sama menikah, kenapa harus seperti ini? Apakah ini yang namanya jodoh rahasia Allah? Rencana pesta pernikahan yang mewah harus aku tinggalkan demi wanita yang dijodohkan oleh orang tua. Siapapun istriku nanti, semoga menjadi jodoh terbaik untukku. Aamiin."
Hhh...
"Baiklah, Mom. Tetapi, Devan belum menyiapkan semua keperluan untuk menikah. Bagaimana?" sahut Devan akhirnya walaupun penuh dengan berat hati.
"Semua sudah kami persiapkan, Devan. Sekarang tinggal pelaksanaannya. Jangan ditunda lagi, rencana baik tidak boleh ditunda-tunda!" jawab ayah Devan.
Ayah Devan terlihat sangat lelah dan cemas. Beliau berulang kali melihat ke arah istrinya yang terbaring lemah.
Dengan berat hati, akhirnya pernikahan Devan pun terlaksana. Selesai acara pernikahan sederhana itu, tiba-tiba keadaan ibu Devan kembali drop dan tidak sadarkan diri.
Ibu Devan kembali masuk ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan secara intensif.
Wanita pilihan ibu Devan adalah wanita yang pernah menjadi masa lalunya. Cinta monyet dan cinta pertamanya. Mereka berpisah karena ayah Devan dideportasi dari Indonesia. Sehingga mau tidak mau, Devan dan ibunya mengikuti sang ayah pindah.
Devan pun merasa bahagia karena jodohnya adalah orang yang masih menempati sudut hatinya.
*
*
*
Cecil menggeliat perlahan, dia merasa ada benda berat yang menimpa perutnya.
"Ssshhh..." Cecil mendesis karena merasakan inti tubuhnya yang perih dan panas. Serasa kulit yang baru saja terkoyak. Terasa bengkak dan mengganjal.
__ADS_1
Cecil melihat lengan kekar membelit tubuhnya. Cecil pun mengingat kegiatan panasnya tadi malam. Wajahnya pun merona karena malu.
Kini dia bukan lagi seorang anak gadis. Dia sudah menjadi wanita seutuhnya. Tadi malam dia telah menyerahkan diri sepenuhnya pada sang suami.
Laki-laki yang awalnya membuat dia tertarik untuk menaklukkan gunung es, tetapi bukannya gunung itu mencair. Hatinya yang beku lama-lama meleleh mendapatkan perhatian dari gunung es tersebut.
Wanita manapun pasti akan meleleh, mendapatkan perhatian dari laki-laki yang tidak bisa mengutarakan perasaannya itu. Bahkan setelah mendapatkan harta yang paling berharga dari istrinya, kata cinta belum juga keluar dari bibir Rio.
Mendengar suara mendesis serta gerak tubuh di sampingnya, membuat Rio terbangun.
Senyum mengembang di bibir Rio, begitu membuka mata. Kebahagiaan terpancar dari matanya.
Tanpa kata, tiba-tiba Rio men ci um wanita yang telah dipersuntingnya kemarin. Cecil yang mendapat serangan tiba-tiba pun spontan menjauh sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Jangan, Bang! Cecil bau jigong, nanti Abang muntah," ucap Cecil dari balik tangannya.
"Tidak apa-apa." Rio pun menyingkirkan tangan Cecil dari wajahnya lali langsung menyosor bibir berwarna merah muda itu.
Rio memaksa memagut bibir sang istri. Tangan kanannya memegang kedua tangan Cecil sedangkan tangan kiri menarik tengkuk leher istrinya.
"Manis," ucap Rio begitu pagutan itu terlepas.
Cecil memukul dada Rio dengan manja begitu kedua tangannya terlepas.
"Hahaha... ampun, Cil. Sudah, ya!" ucap Rio meminta ampun. Padahal pukulan tangan Cecil tidak terasa sakit sama sekali di tubuhnya. Demi membahagiakan istrinya, Rio pura-pura kesakitan.
"Abang nakal, ihh!" ujar Cecil manja.
Usai berkata demikian, Cecil pun beranjak dari tidurnya. Dia ingin membersihkan dirinya yang lengket karena sisa percintaan panasnya tadi malam.
Rio menggempur Cecil tanpa ampun. Rio melakukan itu karena merasa ketagihan akan tubuh istrinya. Pengalaman pertama dengan wanita yang dicintai membuatnya kecanduan.
Melihat istrinya kesusahan berjalan, Rio pun langsung mengangkat tubuh Cecil.
__ADS_1
"Aaaa..."