
Kedekatan Rio dan Mia dimanfaatkan oleh orang tua Mia. Setiap kali Rio mengajak keluar Mia, selalu saja ada permintaan oleh-oleh yang diminta kedua orang tua Mia. Tak jarang, adik Mia juga meminta dibelikan sesuatu oleh Rio.
Tanpa Rio tahu, berita Rio sering membelikan sesuatu untuk orang tua dan adik Mia sampai di telinga bu Sonya.
"Rio, Bunda ingin bicara!" ucap bu Sonya pada anaknya.
"Iya, Bun," sahut Rio sembari duduk di sofa yang sama dengan sang bunda.
"Ada apa, Bun?" tanya Rio setelah duduk di samping bunda Sonya.
"Bagaimana hubungan kamu dengan Mia? Sudah sejauh mana kamu dengannya?" cerca bu Sonya dengan menekan emosi.
"Satu satu, Bun! Nanya kok rombongan," canda Rio dengan tersenyum.
"Bunda serius, Rio! Kamu jawab pertanyaan Bunda dengan jujur!" perintah bu Sonya, membuat nyali Rio menciut seketika.
__ADS_1
"Rio dan Mia hanya sebatas teman, tak lebih. Masih masa penjajakan, kalau cocok ya lanjut. Kalau tidak ya, kami tetap berteman," jawab Rio dengan entengnya.
"Apa kamu tahu? Kabar kedekatanmu dengan Mia sudah terdengar seluruh komplek. Bunda malu, Rio! Uang kamu memang banyak, tapi bukan berarti untuk memanjakan wanita yang tidak ada hubungan sama sekali."
"Mia memang anak baik, saking baiknya dia selalu patuh dengan perintah kedua orang tuanya. Seperti saat ini, sudah berapa uang yang keluar dari dompet kamu untuk memenuhi keinginan keluarga Mia. Belum menjadi menantu saja sudah berani meminta ini itu, bagaimana nanti kalau kamu dan dia menikah nanti? Mau berapa uang yang harus kamu sediakan untuk memenuhi keinginan mereka?"
"Sebelum terlanjur cinta, sebaiknya kamu jauhi Mia. Carilah gadis yang memiliki keluarga yang baik, benar-benar baik. Bunda tidak melarang kamu untuk menjalin hubungan, akan tetapi pilihlah yang benar-benar baik!" ucap bu Sonya panjang kali lebar kali tinggi sebelum akhirnya meninggalkan Rio seorang diri di ruang keluarga.
Bu Sonya sangat kecewa dengan kelakuan Mia dan orang tuanya. Bu Sonya tidak akan menghalangi kedua insan itu untuk menjalin sebuah hubungan khusus. Akan tetapi sikap bu Santi akhir-akhir ini yang memamerkan beberapa barang mahal, membuat bu Sonya meradang.
"Jeng, lihatlah jam tangan yang aku pakai ini. Bagus 'kan? Jam tangan ini dibelikan oleh calon menantu," pamer bu Santi di acara arisan komplek.
"Wah, bagus banget ya jamnya. Calon menantu Bu Santi royal banget ya?"
"He'em! Kemarin habis dibelikan dompet, sepatu, baju juga! Besok dibelikan apalagi, ya?"
__ADS_1
"Kalau boleh tahu siapa sih, calon mantu Bu Santi?"
"Ahh, tidak usah pura-pura tidak tahu Ibu-ibu! Bukankah setiap hari mereka selalu bersama," jawab bu Santi malu-malu.
"Oh, Bu Santi mau besanan sama Bu Sonya, ya? Beruntung sekali Bu Santi bisa besanan sama Bu Sonya."
Bu Sonya yang kebetulan duduk di luar hanya bisa menahan diri, untuk tidak ikut keramaian di dalam rumah yang membicarakan anaknya.
"Iya, dong! Siapa sih yang tidak ingin memiliki menantu ganteng dan kaya seperti Nak Rio?" ujar bu Santi membanggakan anaknya yang sedang dekat dengan Rio.
Tanpa mereka sadari yang mereka bicarakan adalah anak yang sedang duduk manis di teras rumah. Mereka tidak merasa canggung sama sekali mengghibah anak orang. Padahal ibunya duduk manis, mendengar ghibahan mereka.
Setelah acara arisan selesai, mereka baru tahu jika ada bu Sonya yang anaknya mereka ceritakan selama acara arisan. Mereka tampak canggung berhadapan dengan bu Sonya.
Bu Sonya pulang dengan perasaan tidak menentu. Pikirannya melanglang buana entah kemana, yang pasti dia merasa kecewa pada anaknya.
__ADS_1
*Flash back off*