
Rio pulang dari rumah pak Edward saat waktu menunjukkan pukul dua belas malam.
"Ini sudah tengah malam, Bang. Apa tidak sebaiknya Abang menginap di sini?" ucap Cecil khawatir.
"Aku sudah terbiasa pulang malam, Cecil. Seharusnya kamu khawatir kalau aku menginap di sini. Kamar kita bersebelahan, apa kamu tidak takut aku salah masuk ke kamarmu?" sahut Rio mengulum senyum.
Ya, kamar Dolly dihibahkan pada Rio setelah Rio dan Cecil bertunangan beberapa tahun silam. Walaupun Rio menolak, kamar itu sudah menjadi miliknya jika datang ke rumah pak Edward.
Pak Edward benar-benar menganggap Rio sebagai anaknya. Walaupun tidak bisa menjadikan Rio sebagai menantu, kasih sayangnya pada Rio tetap sama.
Devan sudah pulang sejak tadi karena ada urusan penting yang harus dikerjakannya. Sehingga Cecil berani berdekatan dengan Rio. Sifat pencemburu Devan kadang membuat Cecil jengah.
"Hati-hati di jalan, Bang!" teriak Cecil sembari melambaikan tangan sesaat setelah Rio masuk ke dalam mobilnya.
Cecil melangkahkan kakinya menuju kamarnya setelah mengantar kepulangan Rio.
"Cecil!" panggil Frans ketika Cecil hendak memasuki kamarnya.
"Eh, Abang. Belum tidur, Bang?" tanya Cecil basa basi sembari berjalan mendekati abangnya yang sedang duduk di sofa tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Duduk sini! Ada yang mau Abang tanyakan padamu," ucap Frans seraya menepuk ruang kosong di sebelahnya.
"Ada apa sih, Bang? Sudah malam, nanti dicariin Kak Rahma lho. Hooaammm!" sahut Cecil diselingi dengan menguap.
"Kamu tahu siapa yang membuat Rio susah untuk move on?" tanya Frans menyelidik.
__ADS_1
"Kenapa Abang gak tanya langsung saja ke orangnya? Biar jelas, bukan katanya lagi. Sudah ahh, kirain mau tanya apa! Cecil ngantuk, Bang." Cecil langsung meninggalkan abangnya tanpa mau menoleh ke belakang lagi.
"Ck, anak ini! Susah banget dikorek informasinya," gerutu Frans seraya berjalan menuju kamarnya.
"Kenapa baru sekarang peduli dengan Bang Rio? Dulu-dulu kemana? Padahal tinggal bersama tahun-tahunan kok nggak paham keadaan temannya, tampak sekali egoisnya!" Cecil ngedumel di kamarnya. Dia merasa kesal pada Frans yang sok cool.
"Dih, menang jauh juga Bang Rio kemana-mana. Huh!" Cecil kembali menggerutu di sela kegiatannya membersihkan wajah.
Sementara itu, di kamar sebelah.
"Sayang, kamu tahu nggak siapa yang membuat Rio susah move on?" tanya Frans pada istrinya begitu sang istri keluar dari kamar mandi.
"Nggak tahu, Kak. Bukan urusan kita, sebaiknya kita istirahat. Besok 'kan harus berangkat pagi-pagi," sahut Rahma sembari merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Kok kamu gitu sih, Sayang? Rio itu sudah banyak membantu kita lho, sekarang waktunya kita membantu Rio agar bisa segera mendapatkan pendamping hidup. Bukan bersikap acuh, seolah-olah tidak mau tahu." ucap Frans mencebik.
Pagi harinya, bunda Sonya membangunkan anak kesayangannya.
"Rio, bangun Nak! Sudah jam tujuh lho," ucap bu Sonya sembari menepuk pelan lengan Rio.
Tidak susah membangunkan Rio dari tidur, yang susah membangunkan Rio dari terpuruk karena cinta. ( Ciee, othor lebayðŸ¤ðŸ™ˆ)
"Iya, Bun. Hooaammm!" ucap Rio sembari mengkucek matanya, mencoba membiasakan matanya dengan cahaya.
"Kamu tadi malam sampai rumah jam berapa?" tanya sang bunda.
__ADS_1
"Sekitar jam satu malam, Bun. Rio masih mengantuk nih, hoamm!" Rio menjawab pertanyaan dari sang bunda sambil menguap beberapa kali
"Kalau masih ngantuk tidur lagi aja!" ucap sang bunda sembari terus melangkah keluar dari kamar anaknya.
"Hhh... kenapa juga aku tadi malam tidak langsung pulang? Kacau!" gerutu Rio, kembali merebahkan tubuhnya dan tak lama kemudian Rio kembali terlelap.
Cecil sudah berdandan rapi siap pergi ke kantor. Sudah menjadi rutinitasnya sejak lulus magisternya. Walaupun masih mengantuk, akan tetapi dia ingin menunjukkan bahwa anak pemilik pun bisa disiplin waktu.
"Wow, anak Papa sudah cantik sekali. Padahal kurang tidur tadi malam," puji pak Edward pada putrinya.
"Siapa dulu dong mamanya?" celetuk sang ibu dari arah dapur.
"Dih!!"
"Waktunya sarapan!" teriak sang bunda sembari meletakkan menu sarapan di atas meja.
"Hmm, wanginya! Nasi goreng buatan Mama memang jempolan!" ucap Cecil sembari mengacungkan kedua jempol tangannya.
"Sudah cepet sarapannya! Tadi si Dolly sudah berangkat keknya," ucap pak Edward
"Astaga Papa! Baru juga mau menyuap nasi goreng ke mulut sudah dimarahi," teriak Cecil kesal.
"Sudah, diam semua! Jangan ada yang berbicara atau hanya mengaduk-aduk nasi di piring!" lerai mama Ratna.
Akhirnya mereka pun makan dalam diam. Setelah selesai sarapan, Cecil langsung bergegas menuju kantor.
__ADS_1