Menggapai Cinta

Menggapai Cinta
Dimana dia?


__ADS_3

Bram yang tadi berdiri, ia terjatuh karena tamparan keras dari Lia. Bram menyentuh pojok bibirnya dan mengusap darah yang menetes itu dengan ujung jempolnya


"Beraninya kau kesini Bram?" teriak Lia


"Tenang Lia... tenang..." Ucap Bram berdiri dan mengajak Lia untuk duduk. "aku minta maaf atas semuanya."


"maaf katamu Bram... tidak sepatutnya kau minta maaf padaku. Aku bener-bener gak nyangka Bram.. kau tega melakukan itu semua pada Anin, kau tahu akibatnya? dia tak sadarkan diri beberapa hari, dia juga mencoba bunuh diri dan parahnya lagi dia lebih memilih pisah dengan suaminya karena dia sudah tidak suci lagi. Kau sungguh brengsek Bram.... " Marah Lia pada laki-laki yang duduk tertunduk disampingnya.


"Bukankah suaminya tidak mencintainya dan dia lebih memilih pisah karena ingin bersamaku?"


"Kau tahu dari mana kalo Pak Mo tidak mencintainya? Pak Mo sangat mencintai Anindiya dan juga sebaliknya."


"Tapi, Pak Mo memintaku untuk bersama Anindiya maka dari itu sekarang aku disini ingin menanyakan keberadaan Anindiya."


"Pak Mo memintamu?" tanya Lia tak percaya, bagaimana mungkin ia melepaskan Anindiya untuk laki-laki brengsek seperti Bram.


"ya... aku berani bersumpah demi Tuhanku."


Lia tercengang mendengar Bram mengatakan hal itu, "Lia aku mohon, beritahu aku keberadaan Anindiya."

__ADS_1


Lia hanya terdiam, ia masih tak habis pikir dengan perilaku suami Anindiya. Bagaimana bisa ia meminta Bram untuk kembali ke Anindiya, padahal sudah jelas-jelas kalo Bram menyakitinya.


"Lia.." panggil Bram memecahkan lamunannya


"ya..."


"Kau tahu dimana Anin?"


"aku tidak tahu dimana dia, semenjak dia pergi dari rumah Pak Mo, aku tidak tahu kabar dia sama sekali." Jawab Lia lesu.


***


Terutama para remaja yang suka update hal kekinian dan membuat konten-konten yang tanpa sengaja mempromosikan resto Bu Mirna.


"terima kasih ya nak... ini semua berkat kamu." Ucap Bu Mirna yang sebelumnya resto tak begitu ramai.


"seharusnya saya yang berterima kasih, saya sudah banyak mengganggu ibu."


"Kau yang terbaik nak..." Puji Bu Mirna

__ADS_1


"terima kasih atas pujiannya bu..." bilang Anin seraya mengunci pintu resto Bu Mirna.


Malam itu, Anindiya dan Bu Mirna memilih untuk berjalan kaki pulang mereka ingin menikmati suasana malam kota Jakarta yang tak pernah sepi.


"Oya... Nak... emang kalo kerja di Star itu selalu pulang malam ya?" tanya Bu Mirna yang melihat Rista akhir-akhir ini pulang pukul 11 malam dan pagi-pagi sekali sudah berangkat sampai tak sempat untuk sarapan.


"ya... begitulah bu, atasan kami orang yang pekerja keras jika ia menginginkan sesuatu, maka ya... harus tercapai. Saya dulu juga sempat sampai pulang hampir pagi karena deadline yang diberikan Pak Mo" kata Anin dengan sedikit senyumnya.


"waduh... jahat banget ya.."


"Beliau memang seperti itu bu, tapi sebenarnya gak jahat sich.. kan.. setelah proyek yang diincarnya itu berhasil didapat, kita semua dapat fee yang jauh lebih besar dari gaji kita perbulan. Pak Mo berani memberi gaji kita 2 kali lipat dari perusahaan lainnya, agar kami loyal terhadap dirinya"


"wah.. hebat sich nak... tapi kasihan kalo dia seperti itu, bagaimana bisa cari istri kalo siang malam bergelut dengan pekerjaan. eh... dia sudah menikah belum ya? kok ibu jadi sok tahu gitu" senyum merekah di bibir bu Mirna, dan membuat Anindiya hanya tersenyum mendengarnya.


"dia sudah menikah bu, aku istrinya, mantan istri tepatnya. Istri yang tak bisa membahagiakan suaminya. Meskipun dia sibuk, dia sangat perhatian padaku bu..." Ucap Anindiya dalam hati dengan kepala sedikit menunduk.


"eh... ada apa itu nak?" tanya Bu Mirna yang melihat ada dua orang lelaki tinggi besar memapah keluar seorang lelaki yang berusaha memberontak.


"lepaskan aku.... aku bisa berdiri sendiri" teriak lelaki yang suaranya tak asing ditelinga Anindiya.

__ADS_1


Anindiya menghentikan langkah kakinya, saat mendengar teriakan itu. Ia melihat sangat jelas siapa yang ada didepannya.


__ADS_2