Menggapai Cinta

Menggapai Cinta
64


__ADS_3

"Cecil, hargai apa yang menjadi keputusan orang lain! Kamu butuh privasi, begitu juga dengan dirinya. Jadi jangan pernah memaksakan kehendak sendiri!" ucap pak Edward mengingatkan.


Rio pamit pulang karena harus segera mencetak kartu undangan. Rio diijinkan pulang mengingat dua hari lagi kartu undangan akan disebar.


"Om, Rio pamit mau ke toko sekarang agar besok semua sudah tercetak dan lusa bisa disebar," pamit Rio sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Muka Cecil cemberut karena pertanyaannya belum dijawab, malah ditinggal.


Melihat muka cemberut Cecil, Rio mengusak rambut Cecil sambil tersenyum.


"Abangng! Berantakan deh rambut Cecil," teriak Cecil manja, hanya ditanggapi kekehan oleh Rio.


Rio meninggalkan rumah itu dengan senyum mengembang sepanjang perjalanan menuju ke toko. Sesampainya di toko semua karyawannya belum ada yang pulang, padahal waktu sudah menunjukkan jam lima sore.


"Kok belum ditutup? Kalian juga belum pulang, ada apa?" tanya Rio heran.


"Itu, Pak... hmm... mmm... a-nu..."


"Anu apa? Kalau ngomong yang jelas!" bentak Rio sudah tidak sabar.


"Itu, ada mbak Mia di dalam ruangan Pak Rio. Tadi mbak Tasya sudah mengusirnya tapi tidak mau pergi sebelum bertemu dengan mas Rio. Sekarang mbak Mia di dalam ditemani mbak Tasya," jawab salah satu karyawan yang usianya paling muda.


Rio mengangguk seraya melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan.


"Tidak bisa begitu, saya ini konsumen jadi perlakukan saya dengan baik! Anda cuma pelayan toko di sini, tidak pantas bersikap kasar pada pelanggan toko!"


Samar-samar terdengar orang marah-marah dari ruangannya, Rio pun mempercepat langkah kakinya.


"Ada apa ini, Sya?" tanya Rio pada karyawan kesayangan.

__ADS_1


"Ini, Mas! Mbak Mia marah-marah katanya ada kesalahan cetak di kartu undangan. Nama gelar mempelai pria katanya salah penulisannya. Saya sarankan untuk dihapus pakai tipex aja tapi dianya nggak mau. Minta ganti semua, dan harus jadi besok sore," jelas Tasya panjang dan lebar.


Rio pun membaca kartu undangan tersebut, ternyata terjadi kesalahan. Ada sedikit typo.


"Katanya magister, nulis gelar saja tidak bisa!" ucap bu Santi yang mendampingi anaknya.


"Maaf, Bu. Bukan tidak bisa tapi terjadi kesalahan karena apa yang diketik di keyboard belum tentu munculnya sama. Jadi, Ibu jangan bawa gelar di sini. Kalau memang kesalahan itu berada di pihak saya, akan saya ganti semua plus mengembalikan uang yang telah dibayarkan."


Bu Santi langsung sumringah saat Rio mengatakan akan mengembalikan uang tersebut.


"Semua akan saya kembalikan uang itu, jika benar-benar terbukti kesalahan pada saya. Tunggu sebentar saya lihat dulu kertas yang dipakai untuk acuan saya mengetik! Sebentar!"


Rio sibuk mencari selembar kertas yang ditulis tangan oleh Mia untuk acuan mengetikkan nama.


"Seingat saya, saya pernah bertanya 'apa memang seperti ini tulisannya' dan anda menjawab 'iya'. Hari itu saya mengulang beberapa kali, bahkan saya menawarkan cara penulisan menurut versi saya. Apa anda ingat?" ucap Rio datar, dia benar-benar marah karena sejak awal diingatkan cara penulisan gelar pada mempelai pria salah. Akan tetapi Mia bersikukuh tulisannya yang benar.


Rio menyerahkan secarik kertas yang pernah ditulis tangan oleh Mia. Kertas itu ada coretan huruf apa saja yang ditulis. Bahkan Rio juga membuka CCTV pada tanggal dan jam yang sama saat Mia datang. Rio tidak mau menanggung kerugian karena kesalahan pelanggan.


Mia akan menikah dua Minggu lagi. Calon suami Mia seorang duda beranak satu. Proses perkenalan mereka begitu singkat. Jodoh memang unik, bersama tahun-tahunan tidak bisa ke jenjang pernikahan. Sedangkan Mia baru bertemu beberapa kali langsung memutuskan menikah.


*


Sepeninggal Mia dan ibunya, Rio langsung mengerjakan kartu undangan pernikahan Cecil dan Devan. Semua karyawannya sudah pulang semua, bahkan semua pintu sudah terkunci, kecuali pintu kecil di samping bangunan.


Rio tampak melamun, memikirkan jodohnya yang tak kunjung bertemu. Sudah begitu banyak perempuan yang kenal dan dekat dengannya. Akan tetapi hatinya selalu terpaut pada wanita yang juga diincar orang lain. Akhirnya selalu saja dia yang memilih mundur ketika dilihatnya mereka bisa tertawa lepas.


"Huh... apakah begini nasibku? Tidak punya nyali untuk menggapai cinta atau memang aku tidak berusaha untuk menggapainya?"


"Hufftt... yang penting aku sudah berusaha menikung di sepertiga malam. Semoga didengar dan dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Aku yakin Dia tidak akan tidur dan membiarkan usahaku di sepertiga malam sia-sia."

__ADS_1


Batin Rio berkecamuk sendiri. Semua saran telah dilakukan untuk menggapai cinta, akan tetapi sepertinya Tuhan masih ingin dia bersabar.


Jam sebelas malam, Rio pulang ke rumah. Dia sudah mencetak separuh kartu undangan yang akan disebar. Tinggal separuh lagi, bisa dia kerjakan besok pagi. Siangnya bisa diantar ke rumah pak Edward.


"Kenapa sampai malam baru pulang?" tanya bunda saat Rio masuk ke rumah.


"Mencetak kartu undangan pernikahan Cecil dan Devan, Bun. Sudah dapat separuh, lanjut besok pagi lagi. Sekarang Rio mau istirahat. Malam, Bun," jawab Rio lesu, tampak gurat lelah di wajahnya.


"Kapan kamu akan memikirkan dirimu sendiri, Nak?" gumam bunda Sonya lirih sepeninggal anaknya.


Rio langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang lengket. Usai dengan ritual mandinya, Rio langsung merebahkan tubuhnya.


Seperti biasanya, di sepertiga malam dia bangun untuk menjemput jodoh. Dia mengadu pada Tuhannya untuk mempertemukan dirinya dengan sang jodoh.


*


Rio mengantarkan kartu undangan ke rumah pak Edward, begitu selesai dicetak. Dia tidak ingin menunda mengantarkan karena demi menjaga seonggok daging yang bernama hati.


Di usianya yang tak lagi muda, dia pun menginginkan bertemu jodoh dan memiliki keturunan. Namun, sepertinya dia harus bersabar. Sudah berulangkali menjemput jodoh, berulang kali juga selalu patah karena kebodohannya sendiri.


"Sudah jadi? Cepat sekali!" ucap pak Edward seakan tak percaya.


Baru kemarin dia meminta mencetak kartu undangan, hari ini sudah diantar sesuai permintaan. Sebanyak 3000 eksemplar.


"Kebetulan tidak banyak yang harus dicetak, Om. Jadi bisa selesai cepat," sahut Rio menjelaskan.


"Usaha percetakan hanya sampingan saja, yang pokok toko dan servis elektronik. Rio tidak terlalu memaksa mengais rejeki, karena semakin kita paksakan diri mengais rejeki lebih. Malah semakin rejeki yang ada terlepas. Jadi jalani saja semua seperti air mengalir," lanjut Rio.


"Kalau jodoh, jalani saja seperti air mengalir. Nggak cepet dihalalin yang ada jodoh Lo hanyut kebawa air ngalir!" celetuk Dolly yang tiba-tiba muncul dari pintu utama.

__ADS_1


"Lo bisa aja, Bang! Jodoh itu tidak akan tertukar, Bang. Jadi tunggu saja hasilnya jika sudah berusaha," sahut Rio dengan tenang.


"Halah, buktinya hanyut semua begitu kok!"


__ADS_2