Menggapai Cinta

Menggapai Cinta
63


__ADS_3

Ucapan Frans yang pelan tapi sangat menusuk hati itu membuat Cecil tercengang. Ternyata kakaknya yang satu ini sangat berbeda dengan kakak tertua. Walaupun Dolly selengekan dan sering bercanda, dia tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang begitu menyakitkan.


"Sorry! Saya memang tidak pernah berumah tangga tetapi saya tahu etika. Suami adalah pakaian bagi istrinya, begitu pun sebaliknya. Istri adalah pakaian suami. Jika kalian bertengkar atau berkata kuat di depan orang lain, sama saja kalian seperti membuka pakaian itu di hadapan keramaian. Maaf, bila saya sok tahu dan menggurui!" ujar Rio panjang dan lebar.


Setiap patah kata yang terucap dari bibir Rio, membuat Cecil semakin kagum pada laki-laki tampan nan dingin itu.


Mendengar ada keributan di belakang, membuat Dolly dan kedua orang tuanya mendatangi ruangan itu.


"Ada apa ini? Kalian ribut di depan anak kecil, benar-benar memalukan!" ucap pak Edward begitu tiba di ruangan belakang itu.


Semua yang di ruangan itu hanya menunduk takut, kecuali Rahma yang sibuk menenangkan baby Ara. Bocah balita itu belum mau berhenti menangis, walaupun Rahma sudah berusaha.


"Rahma, berikan anakmu bersama pengasuhnya. Kalian semua yang di sini ikut Papa!" perintah pak Edward.


Semua mengikuti langkah pak Edward ke ruang keluarga, dimana tadi Dolly, Cecil dan Rio bercengkrama.


"Sekarang ceritakan semuanya dari awal. Kenapa kalian bisa ribut?" titah pak Edward setelah semua duduk mengitari meja.


Mengalirlah cerita dari Frans yang mencuri dengar percakapan antara Rio, Cecil dan Dolly. Dia juga mengatakan terkejut mendapati ternyata orang yang membuat Rio susah move on adalah istrinya. Frans bertanya apakah dahulu mereka memiliki hubungan sebelum Frans menikahi Rahma.


Soal Ara yang menjerit dan menangis pun Frans ceritakan. Jika Rahma melamun sehingga dia membentak Rahma agar tersadar dari lamunannya.


Berdasarkan cerita Frans tadi, pak Edward pun bertanya pada Rahma.

__ADS_1


"Ada masalah apa sehingga kamu melamun mengabaikan anak dan suamimu?" tanya pak Edward dengan lembut


Rahma pun menceritakan dari awal mereka masih di kamar, sampai baby Ara meminta susu. Terlalu lama menunggu, membuat Rahma memutuskan menyusul sang suami. Begitu turun tampak sang suami sedang menguping pembicaraan Abang dan adiknya. Hingga cerita di belakang dia ceritakan semuanya.


"Baiklah, berdasarkan cerita kalian berdua. Papa rasa kalian semua tidak ada yang mau jujur. Walaupun sakit, jujur itu lebih baik. Sekarang di hadapan Papa, kalian bicara yang sejujur-jujurnya tentang perasaan kalian. Agar tidak ada salah paham yang berakhir dengan permusuhan."


"Papa lihat sepertinya Frans mulai terbakar karena gesekan yang baru saja didengarnya. Terlihat dari kata-kata yang terlontar untuk Rio. Sekarang kalian saling meminta maaf dan berkata jujur di hadapan Papa!" tutur pak Edward menengahi keributan yang terjadi.


Maka mengalirlah cerita yang Rio pendam sendiri selama belasan tahun. Tentang suka dukanya bersama Frans dalam mengejar cinta gadis yang sama.


Betapa terkejutnya menantu kesayangan pak Edward itu, dia tidak menyangka jika candaan yang dilontarkan oleh Rio adalah ungkapan hatinya. Selama ini dia sudah menganggap Rio sebagai kakak.


Rahma pun menceritakan semua yang dirasakan saat pertama masuk ke sekolah Karya Teladan milik pak Edward. Awal kenal Rio dan Frans, Rahma lebih suka dengan anak mandiri tapi manja itu. Walaupun dia sering membully tapi dia berbeda dengan siswa yang lain.


Musibah datang padanya, akan tetapi laki-laki itu merangkulnya. Menghiburnya. Jodoh sudah ada yang menentukan dan digariskan. Sejak masih kecil sudah ditanamkan pada dirinya, jika dicintai itu lebih baik. Jadi Rahma belajar ikhlas dan menerima yang menjadi garis hidupnya. Rahma bisa mencintai suaminya dan hidup bahagia.


Mendengar semua itu Frans merasa kehilangan muka. Bagaimana tidak, karena keegoisan dirinya. Dua orang yang saling mencinta dalam diam tak bisa bersama.


"Maaf, aku sudah membuat kalian berdua menderita. Semua ini karena aku begitu mencintaimu sehingga ingin memilikimu seutuhnya..."


"Aku sudah menjadi milikmu, jangan takut diambil orang lain. Jika kamu sangat mencintainya perlakukan dia dengan kasih sayang. Niscaya orang tidak akan dapat mengambilnya. Percayalah, aku wanita setia!" ucap Rahma memotong ucapan sang suami.


"Kamu Rio, bagaimana perasaanmu sekarang? Masih adakah cinta yang sama untuk Rahma, istri Frans?" tanya pak Edward pada laki-laki tampan tapi dingin itu.

__ADS_1


Semua mata tertuju pada Rio yang duduk di sebelah Cecil. Dolly tersenyum tipis melihat wajah Rio sehingga tidak ada yang tahu.


"Jujur rasa itu sudah lama tidak ada, Om. Sudah ada seseorang yang menggantikan namanya di hati Rio. Namun, sepertinya takdir belum berpihak pada Rio. Wanita yang Rio cintai sekarang sudah menjadi milik orang lain. Rio terlambat menyadari, jadi yaa... seperti itulah!" ucap Rio diakhiri tawa.


Rio menertawakan kebodohannya yang tidak bisa mengenali perasaannya sendiri.


Tidak ada mengikuti tawa Rio, mereka semua terdiam tanpa mau mengeluarkan sepatah kata pun.


"Makanya berusaha! Rebut dia, jangan hanya diam saja. Kalau kamu tidak berusaha yang ada lepas lagi! Kalau seperti itu terus kapan ketemu jodohnya?" celetuk Dolly tiba-tiba diantara keheningan.


"Kalau tidak berusaha berjuang mendapatkan cintamu sendiri, siapa lagi? Jodoh itu dijemput kalau cuma nunggu aja ya gak bakalan datang!" ucap Frans menjadi bensin untuk kompor yang dihidupkan oleh Dolly.


"Iya, Bang! Betul kata mereka, Abang harus memperjuangkan cinta Abang. Walaupun sudah menjadi milik orang, diikat dengan kuat. Jika bukan jodoh akan lepas juga!" Cecil ikut menyiram bensin di atas kompor.


"Kalau boleh tahu siapa perempuan yang telah berhasil mencairkan gunung es di depanku ini?" tanya pak Edward penasaran.


Rio hanya menggelengkan kepala, tanda tidak mau menceritakan siapa wanita yang beruntung itu.


"Ayolah, Rio! Ceritakan siapa wanita yang berhasil membuat hidupmu berwarna!" pinta Rahma merengek.


"Maaf tidak bisa! Nanti kalau kami memang berjodoh pasti akan bersanding. Kalian akan tahu semua!" ucap Rio dengan tenang.


Semua diam karena memang tidak mau ikut campur urusan Rio. Mereka memang sudah seperti keluarga, akan tetapi mereka menghormati apa yang menjadi keputusan setiap orang. Jadi mereka memilih bungkam dan tidak mempertanyakan siapa yang telah memenangkan hati Rio.

__ADS_1


"Abang gitu ihh, Cecil aja selalu cerita sama Abang. Masak Abang nggak mau cerita sama Cecil. Nggak adil ini namanya!" rengek Cecil sembari menggoyangkan lengan Rio.


__ADS_2