
Laki-laki tampan khas orang korea itu terdiam dan bersandar di mobilnya, mendengar apa yang dikatakan hansip komplek perumahan yang sekarang sudah pergi.
"Tom... hubungi semua intel kita sekarang, cari Anindiya sampai ketemu." Ucap Mo Ryung yang khawatir dengan keadaan istrinya.
"baik tuan." Jawab Tomi yang kemudian mengikuti tuannya masuk ke mobil, Jung Su mengambil alih menjalankan mobilnya, sesekali ia melihat raut muka cemas kakaknya.
Baru kali ini aku melihat kecemasan luar bisa kakakku Nin... kau satu-satunya wanita yang bisa membuat kakakku seperti ini. Berikan petunjuk Mu Tuhan.... Semoga kau baik-baik saja disana.
Tomi terus menghubungi mereka semua, Mo Ryung memang memiliki intel yang sangat loyal untuk melindungi seluruh keluarganya. Tak ayal setengah jam sudah berlalu, Tomi sudah mendapat kabar keberadaan Anin. Tanpa berpikir panjang, Jung Su langsung tancap gas.
****
__ADS_1
Di kamar ukuran 3X4 itu, seorang wanita tertidur di ranjang yang begitu nyaman. Bukan tertidur karena lelah tapi karena reaksi obat yang ditelannya. Anindiya... gadis itu mulai membuka matanya, ia melihat langit-langit berwarna putih bersih dan tak begitu tinggi. Ia berusaha untuk bangkit, tapi tak sanggup. Badannya terasa lemas, dan kepalanya masih terasa berat.
"kau sudah bangun, Nin... " Sapa seorang laki-laki yang masuk dengan membawa segelas teh hangat. "minumlah."
"apa yang terjadi padaku kak?"
"tidak ada apa-apa, kau bilang tadi ngantuk dan tidur disini."
"oh... aku harus pulang, suamiku pasti khawatir."
"kak" bentak Anin yang merasa risih tangan Bram menyentuh bibirnya. "aku istri orang kau tak boleh melakukan itu padaku."
__ADS_1
"oya.... tapi sekarang kau disini Nin... kau bersamaku." Ucap Bram yang kemudian mencium bibir Anin.
Gadis itu merapatkan bibirnya dan mendorong Bram sekuat tenaga hingga ia terjatuh. Bram marah dengan perlakuan Anin, ia berdiri dan memojokkan Anin di tempat tidur, memegang tangan gadis itu dengan kuat dan menciumi gadis itu habis-habisan.
Anin berusaha mengelak, dan ia pun menendang **** dengan lututnya yang membuat Bram semakin marah. Bram pun berdiri dan entah apa yang ia ambil di atas meja. Ia berjalan cepat ke Anin dan menyeret Anin hingga terlentang dan memasukkan obat itu ke mulut Anin.
Ia mendorong obat itu, dengan mulutnya hingga ditelan semua oleh Anin. Bram menciuminya tanpa ampun, ia membuka baju Anin yang kini gadis itu merasa lemas dan berusaha menolak tapi tak kuasa.
"Brengsek kau Bram..." Ucap Anin perlahan dan ia pun tak sadarkan diri.
Bram membuka seluruh bajunya, dan ingin menuruti hawa nafsunya. Ia terus menjelajah tubuh putih itu, dari atas hingga bawah. Saat ia akan menggoda miss **** gadis itu, ia berhenti.
__ADS_1
apa yang kau lakukan Bram... dia gadis yang ingin kau lindungi, ia gadis yang kau cintai. apa sekarang kau ingin menyakitinya? Hanya karena ia tidak memilihmu, kau hancurkan hidupnya. Hanya kepuasan sesaat yang kau dapatkan Bram. Kebencian luar biasa dari gadis itu yang akan kau dapatkan setelah ini. Bukan dia akan menjadi milikmu justru ia akan menjauhimu.
Bram terduduk lemas dengan kata-kata yang terngiang dikepalanya. Ia bukan laki-laki bejat, yang kan menghancurkan gadisnya. Bram berdiri dan memakai bajunya, kemudian ia menutupi tubuh putih Anindiya dengan selimut.