Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 10


__ADS_3

Devan menatap Lisa yang sedang merenung seorang diri dibalkon kamar mereka. Sejak pulang dari bekerja Lisa memang terus saja diam. Bahkan saat diajak mengobrol dimeja makan, Lisa juga sama sekali tidak menanggapi. Devan berpikir mungkin Lisa marah padanya dan termakan oleh hasutan kakaknya sendiri, Laona.


Devan melangkah mendekat pada Lisa. Dengan mesra Devan memeluk pinggang Lisa mesra.


Lisa tidak menolak ataupun melepaskan pelukan Devan.


“Aku bisa menjelaskan semuanya Lisa..” Bisik Devan.


Lisa tetap diam. Lisa bahkan sama sekali tidak bergerak dalam pelukan Devan.


“Aku memang menghapus photo photo kamu dengan Rian Lisa. Aku cemburu, aku kesal dan aku mengakui itu. Wajar bukan? Seorang suami cemburu melihat istrinya masih menyimpan photo photo dengan mantan kekasihnya dimasa lalu?”


Lisa berdecak kesal kemudian dengan pelan melepaskan pelukan Devan. Lisa menghela napas pelan. Lisa tidak marah dengan apa yang Devan lakukan dengan menghapus photonya dan Rian. Lisa hanya sedang memikirkan tentang apa yang di ucapkan Laona tadi siang.


“Kalian semua sama saja.” Ujar Lisa kemudian masuk kedalam kamar meninggalkan Devan sendiri di balkon yang mengerucutkan bibirnya.


Setelah pembahasan itu, Lisa langsung tidur. Lisa bahkan tidak menanggapi Devan yang terus menciumi bahkan sampai membuka piyama yang Lisa kenakan. Bukan tidak mau melayani, Lisa hanya sedang dalam keadaan hati yang tidak baik baik saja. Apa lagi setelah bertemu dengan Rian tadi siang. Lisa merasakan hatinya benar benar tidak karuan.


Keesokan paginya Lisa pergi pagi pagi sekali saat Devan sedang membersihkan diri dikamar mandi.


“Bi, Lisa mana?” Tanya Devan saat hendak mendudukan dirinya dikursi dimeja makan.


“Nyonya sudah berangkat dari tadi tuan..”


Jawaban bibi membuat kedua mata Devan membulat sempurna. Devan berdecak kemudian mengurungkan niatnya untuk duduk dikursi dan berlalu begitu saja dari meja makan tanpa berniat untuk mengisi perutnya sebelum berangkat untuk bekerja.


Devan buru buru melangkah keluar dari kediaman-nya. Pria itu bermaksud untuk menyusul Lisa ke rumah sakit. Devan tidak ingin kesalah pahaman antara dirinya dan Lisa semakin merembet panjang. Karna Devan tidak ingin Lisa marah padanya. Tidak marah saja Lisa begitu cuek dan dingin apa lagi kalau marah, bisa serasa hidup di kutub utara sendirian Devan.


Ketika sampai tepat didepan rumah sakit, ponsel Devan berdering. Devan yang sudah akan membuka pintu mobilnya berdecak. Dengan rasa kesal Devan merogoh saku dalam jas hitam yang dikenakan-nya. Devan mengeryit. Rosa, sang mamah mertua tiba tiba menelepon-nya.


Penasaran dengan apa yang ingin dikatakan mamah mertuanya itu, Devan pun segera mengangkat telepon tersebut.


“Halo mah...”


“Ya Devan.. Kamu lagi apa nak?”


Devan diam sesaat. Tidak biasanya tiba tiba Rosa menelepon hanya untuk berbasa basi.


“Devan lagi duduk mah..” Jawab Devan dengan rasa penasaran yang tinggi memikirkan tujuan Rosa menelepon-nya.

__ADS_1


“Ooh.. Sudah sarapan?”


Devan mengeryit semakin bingung.


“Belum mah..” Jawab Devan singkat.


“Eemm.. Segera lah sarapan nak. Jangan abai dengan rutinitas pagi yang satu itu.”


“Eemmm.. Ya mah..”


“Oh ya Devan, Lisa mana? Kok dari tadi mamah telepon nggak di angkat?”


Devan menghela napas pelan. Sudah Devan duga. Mamah mertuanya tidak mungkin menelepon tanpa tujuan yang menurutnya penting.


“Lisa.. Dia masih dikamar mandi mah..”


Devan terpaksa bohong karna Devan tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya bahwa dirinya dan Lisa sedang ada sedikit kesalah pahaman.


“Begitu.. Devan mamah boleh tidak minta tolong sama kamu.. Mamah nggak tau harus minta tolong sama siapa lagi selain sama kamu..”


“Minta tolong apa mah?”


“Sebenarnya mamah nggak enak ngomongnya. Tapi mamah benar benar sangat membutuhkan bantuan kamu..”


Hening sejenak. Devan berasumsi mungkin apa yang ingin dikatakan mamahnya tidak jauh jauh dari Laona. Devan sudah hapal itu.


“Jadi begini nak.. Kakak kalian Laona sedang terkena masalah... Mamah yakin kalian juga sudah tau tentang berita yang beredar. Ini untuk Laona, tolong kamu bujuk Lisa supaya mau membantu Laona.”


Devan menghela napas pelan.


“Mah.. Devan tidak bisa membujuk Lisa jika Lisa saja sudah tidak mau bergerak untuk membantu Laona. Devan tidak mau memaksakan kehendak yang membuat Lisa tidak nyaman.” Balas Devan tenang.


“Nak.. Ini penting. Karir Laona bisa hancur. Namanya bisa jelek dimata publik jika Lisa sebagai adiknya tidak mau memberi kesaksian pada apa yang sedang menjadi perbincangan hangat dikalangan masyarakat saat ini. Toh ini semua juga tidak akan menjelekan nama Lisa.”


Devan memutar jengah kedua bola matanya. Devan sebenarnya tidak tau masalah apa yang sedang menyeret nama kakak iparnya itu. Tapi yang Devan tau semua pemberitaan jelek tentang Laona memang selalu benar adanya. Bahkan bisa dibilang Laona terkenal sebagai publik figur bukan karna prestasi tapi karna sensasi dan skandal skandal yang menyeret namanya. Laona juga pernah terjerat kasus prostitusi online yang membuat Laona harus ditahan di balik jeruji besi yang akhirnya Lisa juga yang harus berbicara sebagai saksi dan jaminan agar Laona bisa bebas.


“Mah.. Maaf, Devan sedang buru buru. Nanti Devan akan telepon balik ke mamah. Sudah ya mah..”


Devan langsung memutuskan sambungan telepon-nya. Devan tidak mengerti kenapa fakta di keluarga istrinya sangat berbanding terbalik dengan semua opini yang ada.

__ADS_1


Kembali pada niat awalnya, Devan pun buru buru turun dari mobilnya. Devan melangkah masuk kedalam gedung rumah sakit tempat Lisa bekerja dan langsung menuju ruangan Lisa. Devan tau sekarang belum masuk waktu jam kerja. Lisa pasti masih berada di ruangan-nya sekarang.


“Lama sekali kita tidak bertemu Lisa.. Aku benar benar terkejut.”


Langkah Devan terhenti ketika sudah berada tepat didepan ruangan Lisa. Devan mengeryit mendengar suara Rian dari dalam ruangan Lisa.


“Kamu tetap sama seperti dulu. Seperti Lisa yang sangat aku cintai.”


Rahang Devan mengeras. Kedua tangan-nya mengepal erat. Rian sedang mencoba merayu Lisa kembali.


“Tentang aku dan Laona dulu..”


“Rian tolong tidak usah membahas apapun tentang masa lalu. Apa lagi tentang kamu dan Laona. Aku sudah melupakan semuanya. Tolong tidak usah di ungkit.” Sela Lisa dengan ekspresi datar menatap Rian yang duduk didepan-nya.


Rian tertawa pelan. Pria dengan kemeja toska lengan panjang itu mengangguk paham. Kesalahan-nya dimasa lalu memang sangat fatal. Apa lagi Rian juga yang memutuskan hubungan mereka padahal Lisa sudah memaafkan kesalahan-nya berselingkuh dengan Laona dulu.


“Maaf..” Katanya pelan.


Devan yang mendengarkan dari balik pintu yang sedikit terbuka merasa tidak tahan. Kebetulan saat itu ada perawat yang melewatinya. Devan langsung menghentikan-nya dan meminta tolong pada perawat tersebut untuk mengatakan sesuatu yang buruk tentang keadaan orang tua Rian yang Devan tebak sedang dirawat dirumah sakit tersebut.


“Tapi tuan..”


“Orang itu sedang berusaha merayu istri saya sus. Suster akan mendapat pahala jika mencegah perbuatan tidak baik orang itu pada istri saya.” Ujar Devan meyakinkan suster tersebut agar mau menolongnya untuk mengerjai Rian.


“Baiklah kalau begitu tuan..”


Devan tersenyum lebar. Devan kemudian buru buru bersembunyi saat perawat itu mulai mengetuk pintu ruangan Lisa.


Dan sesuai dengan apa yang Devan harapkan. Rian langsung kalang kabut ketika perawat itu mengatakan bahwa keadaan orang tuanya sedang dalam keadaan gawat.


Devan tertawa puas melihat Rian yang tampak begitu sangat khawatir dan langsung berlari menuju ruang rawat orang tuanya, mungkin.


Sedangkan Lisa, dokter cantik itu tidak sebodoh Rian. Lisa berdiri didepan pintu ruangan-nya dan langsung mengedarkan pandangan-nya mencari keberadaan Devan yang pasti ada disekitarnya.


Lisa bisa menebak bahwa itu adalah ulah konyol suaminya.


“Aku tau kamu disini Devan.” Katanya dengan suara dingin membuat Devan meringis dan langsung keluar dari persembunyian-nya.


Devan melangkah pelan mendekat pada Lisa. Pria itu meringis. Ulahnya bisa langsung tercium oleh istrinya.

__ADS_1


“Aku terpaksa melakukan-nya sayang..”


__ADS_2