Menikah Dengan BERONDONG

Menikah Dengan BERONDONG
EPISODE 20


__ADS_3

Devan turun dari mobilnya dengan membawa sebuket bunga di tangan-nya. Senyuman terus menghiasi bibirnya saat melangkah memasuki gedung rumah sakit tempat Lisa bekerja. Sampai sekarang Devan terus saja meyakini bahwa Lisa cemburu dan takut kehilangan-nya karena kedatangan Rosali yang kembali dari luar negeri.


Langkah Devan berhenti saat baru beberapa langkah masuk kedalam gedung rumah sakit itu. Lisa sedang berada tidak jauh darinya sembari menelepon seseorang.


Devan kemudian menunduk menatap bunga yang berada di tangan-nya. Ini bukan pertama kali Devan memberikan bunga untuk Lisa. Tapi Devan selalu merasa itu adalah hal yang paling spesial. Lisa memang akan bersikap biasa saja saat menerimanya. Bahkan Lisa tidak pernah memuji atau sekedar mengatakan “Terimakasih Devan. Aku suka dengan bunganya.” seperti yang Devan harapkan. Namun semua itu tidak masalah bagi Devan. Devan mengerti mungkin Lisa memang belum bisa mencintainya. Tapi Devan tidak akan menyerah. Devan akan tetap berusaha mencairkan batu es yang ada di hati istri tercintanya itu.


 -----------


“Lisa, mamah serius kali ini. Tolong jangan kecewakan mamah. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan karir kakak kamu sekarang.”


Lagi lagi Lisa harus merasakan luka pengasuhan yang di bedakan karena sikap mamahnya. Mamahnya bahkan terus saja membujuknya agar Lisa membantu Laona yang sedang berada dalam masalah karena isu tidak sedap yang sedang mencoreng namanya sebagai publik figur. Ya, karir kakaknya terancam redup.


Tidak tau harus bagaimana lagi menyikapi mamahnya, Lisa pun memilih untuk mematikan sambungan telepon itu. Lisa tidak perduli jika nanti mamahnya marah. Toh, dirinya sudah biasa dimarahi jika itu menyangkut Laona sejak dulu. Lisa menonaktifkan ponselnya kemudian menegakkan kepalanya menatap kedepan yang akhirnya pandangan-nya bertemu dengan Devan, suaminya.


Lisa mengeryit. Wanita itu bertanya tanya sejak kapan Devan berdiri disana.


Devan melangkah mendekat pada Lisa yang langsung berhenti saat melihat sosoknya. Pria itu mendekati Lisa dengan senyuman tanpa beban. Senyuman yang selalu membuat Lisa berpikir bahwa Devan tidak pernah mengalami kesulitan didalam hidup seperti dirinya.


“Hay sayang..” Sapa Devan begitu sampai tepat di depan Lisa.


Lisa hanya diam saja. Wanita itu menatap bunga yang dibawa oleh Devan. Sudah tidak heran lagi jika pria itu selalu saja membawakan bunga setiap mereka bertemu. Bahkan jika sedang tidak bisa menemui Lisa pun Devan menyuruh karyawan-nya untuk memberikan bunga pada Lisa.


“Ini untuk kamu..” Kata Devan menyodorkan bunga yang di bawanya.


Lisa menghela napas pelan. Kemudian menerima bunga tersebut.


“Kali ini aku yang tentukan kita akan makan siang dimana..” Ujar Devan meraih tangan Lisa dan menggenggamnya lembut.

__ADS_1


“Ayoo..” Ajak Devan menuntun Lisa yang hanya diam saja saat Devan membawanya keluar dari rumah sakit.


Lisa terus berusaha menahan rasa sesak didadanya. Bahkan saat pandangan-nya sedikit mengabur karena air mata yang menggenangi kelopak indra penglihatanya itu Lisa sedikit mendongak mencegah buliran bening itu menetes di pipinya. Ucapan mamahnya lewat sambungan telepon tadi benar benar membuat hati Lisa sakit. Saat seperti ini Lisa merasa dirinya benar benar sendiri. Bahkan wanita yang sudah melahirkan-nya saja begitu tidak perduli padanya dan hanya memperdulikan Laona, kakak Lisa.


“Silahkan tuan putri..” Canda Devan saat membukakan pintu mobil untuk Lisa.


Lisa menahan napas beberapa detik kemudian masuk kedalam mobil Devan dalam diam. Lisa tidak ingin siapapun tau apa yang sedang di rasakan-nya sekarang. Karena Lisa tau derita hatinya saat ini bisa saja membuat orang lain menertawakan-nya termasuk Devan.


Dalam perjalanan menuju restoran yang Devan maksud, Devan terus mengajak Lisa mengobrol. Namun sekalipun Lisa tidak menyaut. Lisa hanya diam menatap kedepan dengan pandangan penuh luka karena terus terngiang ucapan sang mamah lewat sambungan telepon tadi.


Devan yang memang sudah terbiasa di abaikan oleh Lisa terlihat santai saja. Namun begitu melirik pada Lisa, Devan mengeryit. Ada yang aneh dari ekspresi Lisa kali ini.


Karena penasaran, Devan pun mengurangi kecepatan laju mobilnya kemudian menghentikan-nya di tepi jalan yang sudah mulai ramai siang itu.


“Lisa..” Panggil Devan pelan.


Devan menghela napas. Devan yakin Lisa sedang mempunyai masalah sehingga wanita itu tidak fokus sekarang.


“Hey..”


Sentuhan lembut Devan di pipinya membuat Lisa tersadar dari semua yang sedang menguasai pikiran-nya. Bahkan air mata yang sejak tadi Lisa tahan dengan lancang lolos begitu saja menyeberangi pipinya.


Devan terdiam. Lisa menangis.


Sedangkan Lisa, dia buru buru menyeka air matanya. Lisa tidak ingin terlihat lemah didepan Devan. Lisa tidak ingin Devan menertawakan-nya.


“Ada apa Lisa?” Tanya Devan pelan. Devan merasa bodoh karena sejak tadi tidak menyadari ekspresi Lisa.

__ADS_1


“Tidak, tidak ada apa apa.” Jawab Lisa mencoba berkilah.


“Jangan bohong Lisa. Aku suami kamu. Katakan ada apa.” Tuntut Devan menatap Lisa.


Lisa tersenyum miring. Wanita itu kemudian melengos menghindari tatapan menuntut Devan.


“Tolong jangan sok tau. Jangan selalu ingin tau urusan orang lain Devan.” Ujar Lisa dingin.


Devan menggelengkan kepalanya. Saat seperti ini Devan merasa sadar bahwa Lisa memang tidak pernah menganggapnya sebagai suaminya.


“Lisa, kamu boleh tidak menganggapku sebagai suami kamu karena mungkin kamu memang belum mencintaiku. Tapi tolong kamu anggap aku sebagai orang yang pasti akan selalu ada disamping kamu.”


Lisa menelan ludah. Devan juga tau bagaimana sikap mamahnya yang selalu beda kasih padanya dan Laona. Devan juga tau masalah apa yang sedang menjerat Laona, kakaknya.


“Lisa..”


“Mamah memintaku untuk mengklarifikasi pada publik tentang berita yang sedang mencoreng nama kakak ku Devan.” Tanpa sadar kata itu keluar dari mulut Lisa. Semua itu karena Lisa tidak tahan dengan apa yang sedang di rasakannya.


Devan menggelengkan kepalanya. Pria itu tidak tau kenapa mamah mertuanya bisa membeda bedakan dua anaknya. Padahal Laona juga Lisa sama sama lahir dari rahimnya.


“Mamah akan sangat kecewa bahkan mungkin marah kalau sampai aku tidak menuruti perintahnya. Sekarang aku tidak tau harus bagaimana. Aku tidak ingin berbohong pada publik.” Ujar Lisa melanjutkan.


Devan menghela napas pelan. Jika saja Lisa mengizinkan Devan ingin sekali bersikap tegas pada mamah mertuanya untuk membela dan melindungi Lisa. Tapi Devan takut jika dirinya melakukan itu Lisa akan marah kemudian meninggalkannya.


“Lisa, kamu tidak perlu takut pada apapun dan siapapun selama kamu benar. Karena Tuhan juga tidak membenarkan sikap seorang ibu yang menyeleweng dari kebenaran. Kamu tidak sendiri Lisa. Ada aku di samping kamu. Aku yang akan selalu siap membela kamu.”


Lisa menoleh membalas tatapan lembut Devan padanya. Pria itu menatapnya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Dan entah kenapa melihat tatapan lembut dan senyuman di bibir tipis Devan, tiba tiba Lisa merasakan sesak di hatinya mulai berkurang. Ucapan Devan yang mengatakan siap membelanya membuat Lisa sadar bahwa Devan memang selalu ada disampingnya meski Lisa sendiri tidak pernah menganggapnya ada.

__ADS_1


__ADS_2